
Frederick langsung berlari cepat untuk mencegah Rania melakukan hal yang tidak diinginkan.
''Rania berhenti di sana?!" teriak Frederick.
''Tu-tuan?'' ucapnya gugup.
''Apa yang kau lakukan? Berani melakukan itu jangan harap ketenanganmu akan berjalan mulus?" ancam Frederick.
''Maksudnya?" tanya Rania tidak mengerti.
''Letakkan benda itu!" perintah Frederick namun kedua bola matanya waspada.
Rania melakukan apa yang dikatakan Frederick sontak pria itu bernapas lega.
''Sudah,'' ucap Rania.
''Ikut aku!" ajak Frederick tanpa sadar tangannya menarik Rania.
''Dia ini kenapa begitu perhatian kepadaku baru-baru ini?" gumam Rania.
Di kamar, Frederick menatap lekat Rania berani keluar dari kamar ini tanpa persetujuannya.
''Siapa yang berani menyuruhmu keluar dari sini?" tanya Frederick sambil berkacak pinggang.
''Maaf, saya ingin mencari udara segar,'' jawab Rania pelan.
''Tapi memegang benda itu?" tanya Frederick lagi.
''Tadi saya sekaligus memotong rumput kareena bosan tidak melakukan apapun.'' Frederick tidak percaya dan dia langsung menarik Rania masuk ke dalam pelukannya.
Rania tertegun mendapatkan perlakuan seperti ini yang belum pernah ia rasakan. Selama ini Frederick tidak melakukannya dengan baik namun sifat baiknya dia tunjukkan.
''Sekali lagi kamu melakukannya hukumanmu akan bertambah!" Frederick melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Rania yang terlihat pucat.
''Kamu denger atau tidak?" tanya Frederick jengkel karena dari tadi Rania diam.
''Ya,'' jawab Rania pelan.
''Aku mau mandi, siapkan bajuku!" Setelah mengatakan itu Frederick masuk ke dalam kamar mandi.
''Dia mandi di sini?" ucap Rania tidak percaya yang dilihat dan dengar.
Sampai Frederick selesai mandi Rania masih bertanya-tanya dalam dirinya baru saja mendapatkan perlakuan baik.
''Ini,'' ucap Rania lalu memberikan kaos oblong itu.
''Ayo temani aku makan malam,'' ajak Frederick.
''Tapi saya.'' Frederick menatap Rania tidak bersahabat karena menolak ajakannya.
''Baik saya ikut,'' ucapnya.
Frederick kembali menggenggam tangan Rania ketika menuju ke bawah. Bahkan para pelayan heran sekaligus bahagia melihat Tuan mudanya pada akhirnya lunak terhadap calon Nona mereka.
''Mulai besok dan seterusnya kamu harus melakukan hal yang sama seperti ini,'' peringat Frederick.
''Ya,'' jawab Rania pelan sambil memandangi makanan mewah yang tersaji di hadapannya.
''Kamu tidak menyukai makanannya?" tanya Frederick ketika dia menangkap Rania seperti tidak menu diatas meja.
''Suka sekali.'' Rania memasukkan udang bakar itu ke dalam mulutnya.
Frederick geleng-geleng kepala melihat Rania yang aneh namun dia tidak menyadari dirinya telah banyak berubah hingga membuat wanita di hadapannya menjadi salah tingkah.
Waktunya beristirahat Rania merasa kenyang untuk pertama kalinya makan sepuasnya. Pintu terbuka Frederick masuk ke dalam sambil membawa minuman serta bingkisan kecil.
''Minum ini supaya pencernaanmu tidak terganggu!" ucap Frederick.
''Dari mana dia tahu kalau aku menginginkan obat ini?" batin Rania.
''Minum!" seru Frederick.
''Ya Tuan,'' jawabnya cepat.
Frederick tersenyum puas melihat Rania mematuhi semua ucapannya. Malam yang panjang mereka lalui dengan nikmat, Rania kembali melayani Frederick seperti biasanya.
Kali ini sama sekali tidak ada suara jeritan keluar dari mulutnya karena Frederick memperlakukannya sebaik mungkin.
''Kenapa perasaanku tidak enak setelah pria ini tiba-tiba baik?" ucap Rania dalam hati setelah selesai melayani Frederick.
Ia memandang wajah tampan itu sudah lelap dalam tidurnya tidak merasakan setiap pergerakan yang dibuat Rania.
''Dia bahkan tidak memberikan obat itu lagi untuk aku minum. Lalu, bagaimana nanti kalau aku hamil?!" pekiknya.