
Frederick memilih meninggalkan apartemen lebih baik membiarkan Rania tenang. Dengan kepala yang tegang menelusuri lorong rumah sakit yang terlihat sepi.
Kedua orang tua Sena baru keluar bersama dengan beberapa dokter.
''Kalau ada perkembangan kami akan memberitahukan kepada anda Tuan Sena,'' ucap dokter tersebut.
''Saya berharap demikian, masa depan putriku ada di tangan kalian tolong kerjasamanya,'' jawab ayah Sena.
''Tentu Tuan, kami akan berusaha untuk mengembalikan ingatan Nona Sena.'' Ayah Sena mengangguk lalu dia melihat Frederick.
''Dari mana kamu, seenaknya meninggalkan Sena sendirian di sini?" sentak ayah Sena.
''Maaf Om,'' lirih ya.
''Ingat yang kukatakan sebelumnya Frederick, kalian berdua harus secepatnya menikah. Aku tidak mau orang-orang di luar sana apalagi media mengetahui kondisi Sena sedang sakit!" seru ayah Sena.
Ayah Sena berulang kali terus memperingati Frederick agar tidak pernah meninggalkan putrinya. Frederick hanya bisa membuang napas mendengar omongan pria tua itu.
''Om, saya akan menjaganya,'' lirih Frederick.
''Ya jelas, itu sudah tugasmu sebagai calon suami Sena,'' cebik ya.
''Andai aku tidak menyuruh Sena membeli minuman ini semua tidak akan terjadi,'' kesal Frederick.
Tiba-tiba suara ponsel membuat kesadaran Frederick teralihkan lalu dia mengambil dari saku celananya.
''Ada apa, Davin?" tanya Frederick datar.
''Tuan, saya sudah menemukan orang-orang yang membuat Nona Rania trauma,'' lapor ya.
''Nanti kita bicara lagi Davin.'' Frederick langsung memutuskan obrolannya karena tatapan ayah Sena terlihat melotot.
''Frederick pasti menemukan sesuatu tentang kejadian yang menimpa Sena,'' batin ayah Sena.
''Om, maaf saya harus kembali ke rumah karena ada sesuatu yang mendesak,'' izin Frederick.
''Lalu, bagaimana dengan Sena?" tanya ayah Sena melotot.
Ayah Sena benar-benar marah melihat kelakuan Frederick sepertinya tidak mau bertanggung jawab kepada Sena.
''Apa semua ini karena wanita kampungan itu?" ucapnya geram.
''Tuan, kami sudah menemukan perawat yang akan menjaga Nona Sena,'' lapor ajudan ayah Sena.
''Diam kamu bodoh! Lakukan sekarang juga sekalian untuk menghilangkan wanita itu selamanya!" sentak ayah Sena.
''Kami belum menemukan celah Tuan, anak buah sekretaris Davin terlalu banyak mengelilingi kediaman itu.'' Ayah Sena memukuli satu persatu anak buahnya karena tidak becus bekerja.
''Pergi! Jangan kulihat wajah kalian di sini sebelum melakukan pekerjaan dengan baik,'' bentak ya.
''Ba-baik Tuan,'' jawab mereka semuanya bersamaan lalu pergi.
''Ayah?" panggil Sena.
''Kamu kenapa keluar? Bagaimana nanti kalau ada melihatmu Sena?!" pekik ayah Sena lalu kembali memasukkan Sena ke dalam.
''Sena bosan di dalam ayah,'' rengek ya.
''Jangan melakukan kesalahan kalau tidak, Frederick tidak akan pernah menikahimu Sena,'' peringkat ayah Sena.
''Sampai kapan Sena seperti ini ayah? Rumah sakit sungguh membosankan?" gerutunya.
''Ayah akan memastikannya dengan cepat, rencana ayah terhambat karena wanita itu masih berada di samping Frederick,'' tambah ya.
''Sena akan menunggu beberapa hari ini kalau tidak biar aku yang bertindak!" ancam Sena.
Ayah Sena mengusap wajahnya yang terlihat keriput, dia berusaha tetap tenang memikirkan cara agar Frederick secepatnya menikah putrinya.
''Tiga hari ini akan kupastikan Frederick menikahi Sena, kalau tidak semua rencana ini akan ketahuan,'' ucapnya dalam hati.
''Bukankah tadi yang keluar itu Sena ya?" ucap seseorang tidak sengaja melihat Sena dalam keadaan normal, bukan sakit seperti yang diberitakan.