
Rania diam seribu bahasa bingung memberikan jawaban kepada Frederick.
"Ya," jawaban singkat namun suaranya terdengar pelan.
"Kau dengarkan, besok sekretaris Davin akan menunjukkan pekerjaan untukmu." Frederick langsung menarik Rania dari sana.
"Maafkan Rania kak," ucapnya dalam hati sambil menatap Christianto belum beranjak dari sana.
"Kau khawatir dengan ya?" tanya Frederick dingin.
"Tidak," jawabnya.
"Ingat kau itu sudah dalam naunganku dan jangan macem-macem ingat itu," peringat Frederick.
"Ya," balasnya singkat.
Frederick naikkan alisnya mendengar jawaban Rania sedari tadi sangat menjengkelkan. Sampai mereka tiba di Penthouse ia tidak ada lagi mengeluarkan sepatah kata pun.
"Jangan keluar kamar kecuali aku memberikan perintah," ucap Frederick lagi.
"Ya," balasnya.
"Sabar Frederick, saat ini kamu sedangkan diuji," gumamnya lalu masuk ke dalam.
Sendirian dalam kamar yang menjadi saksi bisu setiap perkalian Frederick kepadanya. Hanya Christianto dalam polri nya saat ini karena ia pria itu bekerja dalam naungan Frederick.
"Aku harap kak Christianto baik-baik saja nanti bekerja," batinnya.
"Sedang apa kamu?" tanya Frederick.
"Menunggu anda, Tuan," jawabnya lalu langsung polos di hadapan Frederick.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Frederick berang.
"Anda datang ke sini hanya ini kan? Lakukanlah Tuan, saya sudah siap." Rania pasrah sambil memejamkan mata menahan sesak.
Namun Frederick sama sekali tidak ada niat melakukannya malah langsung keluar dengan wajah yang penuh kesal.
"Bisa-bisanya aku yang grogi," rutuk ya.
"Kenapa dia pergi?" ucap Rania lalu kembali semula karena malam ini ia lolos dari kungkungan Frederick.
Malam semakin larut Rania termenung sendirian di kamar, andaikan ada ponsel ia bisa menghubungi Christianto dan saling tukar cerita.
"Wanita ini kenapa jadi banyak berubah?" ucap Frederick sambil memantau Rania dari balik layar kamera pengawas.
Hampir dua jam lamanya Frederick sanggup memperhatikan Rania. Kopi habis dia minum lima gelas serta makanan camilan tanpa mengandung gula.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari Rania menuju kamar mandi spontan Frederick kaget langsung beranjak dari tempat tidur ya.
"Kenapa Rania lama sekali keluar?" ucapnya panik.
"Tuan menginginkan saya?" tanya Rania datar melihat wajah yang memerah bagaikan tomat.
Frederick berdehem tidak tahu dia yang jadi salah tingkah padahal tidak ada yang salah dengan dirinya.
"Pijjt badanku!" seru Frederick.
"Ya," jawab ya.
"Ia tidak menolak?" gumam Frederick.
"Ya Tuhan pria ini tidak ada belas kasihnya, badannya sudah kekar bikin tanganku pegal saja," batin Rania.
Satu jam berlalu hanya itu yang ia lakukan sampai Frederick tidur di atas tempat tidurnya. Rania memutuskan berhenti ia menuju sudut ruangan lalu duduk dan memejamkan mata.
Lelah yang membawanya tidur pulas sampai pagi, Frederick bangun dia melihat Rania memeluk tubuhnya karena kedinginan.
"Apa ia semalaman tidur sana?" Frederick bangun lalu mengguncang tubuh Rania.
"Bangun?" ucap Frederick.
"Sudah pagi ya?" gumamnya lalu bangun cepat.
"Kenapa wajahnya jadi imut?" kesalnya.
Rania melihat kepergian Frederick lalu ia juga beranjak membersihkan tubuhnya. Pegal, masuk angin, kedua kakinya dingin. Ia sesekali bersin merasakan tubuhnya ngilu karena satu malam tidur di lantai.
"Sepertinya aku pilek?" ucapnya lalu kembali bersin hingga mengelola cairan bening.
Frederick menoleh pintu kamar Rania yang tertutup rapat dia benar-benar penasaran apa yang dilakukan dalam sana.
"Ayolah Frederick, kamu kenapa jadi seperti ini?" kesalnya lalu turun ke bawah.