
Frederick menuju ke arah mobil mewahnya sambil mendengarkan bisik-bisik para karyawannya memuji dirinya. Para karyawan Wanita sangat mengidamkan sosok Frederick yang begitu Cool.
"Tuan Frederick andaikan saja suami aku pasti rasanya dunia berasa milik berdua," ucap karyawan pertama
"Jangan mimpi kamu Tania. Tuan muda mana mau sama kamu yang mimpinya tingkat dewa," ceplos Adrian. Mereka tertawa melihat wajah Tania seketika cemberut. Walau ada karyawan yang membicarakan dirinya, Frederick sama sekali tidak menegur selagi masih belum melewati batas.
Di dalam mobil Frederick hanya diam dan memandangi ponselnya dia memperhatikan pergerakan saham grup Jeremy yang hampir sama dengan grup Hale, miliknya. Wajah Frederick terlihat devil tidak suka melihat ada perusahaan saham yang sama dengan dirinya. Sekretaris Davin memperhatikan wajah Frederick dari kaca spion merasakan hawa tidak baik.
"Dam," decak Frederick dalam hati.
Frederick merasakan kesal luar biasa, karena isu proyek kerja sama iklan grup Jeremy telah tersebar luas dan itu meningkatkan saham mereka. Banyak berita telah tersebar bahkan jadi trending topik mengenai kerja sama ini bahkan, isu ini makin besar karena kedua grup besar tersebut merekrut modeling ternama dunia yaitu, Mika Fernandez.
Dia model ratu kecantikan namanya yang begitu sulit pudar walau persaingan begitu kuat. Grub Jeremy mengambil kesempatan semakin menyebar luaskan isu ini hanya untuk kepentingan pribadi.
Sekretaris Davin dan Frederick langsung menuju ke tempat di mana Christianto telah berada. Frederick mengurungkan niatnya pulang ke vila kali ini agar langsung bisa bertemu dengan Christianto dan mengintrogasi pak Eko penghianat grup Hale.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam, Frederick tiba dengan wajah tampang dingin dan juga menakutkan. Frederick masuk diikuti oleh, Davin. Para anak buah Davin langsung menyambut kedatangan Frederick dan Davin memberi hormat lalu menunduk.
"Selamat datang Tuan muda," sapa mereka sopan.
"Kerja dengan benar!" pesan sekretaris Davin.
"Baik Tuan Davin," balas mereka serempak.
Frederick tidak menjawab dia langsung masuk menuju ke dalam, para anak buah Davin sudah biasa dengan tingkah Frederick yang tidak mau membalas salam mereka.
Christianto yang sedari tadi gugup dan waspada disatu ruangan besar kaget mendengar suara para anak buah Davin menyambut kedatangan Frederick.
Frederick duduk salah satu sofa mewah khusus dirinya sambil menyilang kan kedua kakinya. Davin langsung memberi aba-aba kepada anak buahnya agar Christianto masuk menghadapnya.
"Tuan dia adalah Christianto," ucap sekretaris Davin.
Frederick memperhatikan Christianto dari atas hingga ke bawah karena dia benar-benar penasaran akan sosok pria yang pernah jadi teman wanitanya.
"Lihat saya!" perintah Frederick.
Perlahan Christianto mengangkat wajahnya namun alangkah terkejutnya diq melihat sosok pria yang diaegani oleh dunia ada tepat di hadapannya.
"Tuan muda?!" ucap Christianto kaget.
"Kau sudah mengenalku dan lagi kita sudah pernah bertemu di panti. Jadi jawab pertanyaan, apa alasanmu meninggalkan panti?" tanya Frederick dingin.
Seketika wajah Christianto tidak bersahabat mendengar kata panti, dia sudah muak dengan ibu Ani dan seluruh penghuninya karena kepergian Rania tanpa sepengetahuannya.
"Saya ingin belajar lagi dan mengenal dunia. Tuan, sebenarnya saya juga ingin menemukan jati diri yang sempat hilang," jawab Christianto mantap tanpa ragu.
"Jika saya rekrut kamu jadi anak buah saya kamu mau?" tawar Frederick.
"Jika hal yang baik saya menerima, asal Tuan tidak keberatan," jawabnya.
"Good, Davin berikan dia pekerjaan yang mampu membuat orang takut kepadanya." Frederick langsung berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.
Christianto tidak paham arti perkataan Frederick barusan sambil menatap kepergian Tuan muda.
"Membuat orang takut kepadaku?" ucapnya dalam hati sambil menatap kepergian Frederick.