Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Memutuskan Untuk Berpisah



Setiap hari Frederick merasa sendiri karena perubahan yang dialami Rania selama ia mengandung. Untuk bicara juga begitu sulit bahkan mereka seperti orang asing di rumah itu.


Frederick sudah berada di meja makan namun Rania belum juga turun. Perasaannya begitu gelisah waktu terus berputar apalagi dia harus cepat menuju ke kantor untuk menghadiri rapat.


"Tuan, Nona masih tidur," lapor pelayan.


"Baiklah," ucapnya pelan.


Makanan yang begitu enak terus aja di atas meja namun tidak selera untuk dimakan. Hanya beberapa suap masuk ke dalam mulut akhirnya Frederick meninggalkan meja makan.


"Davin, ayo kita ke kantor!" ajak ya.


"Tapi Tuan makanan ini belum habis," balas sekretaris Davin jengkel.


"Ya udah, kamu di sini saja selamanya." Frederick langsung meninggalkan sekretaris ya itu.


"Kalau sudah begini memang sulit untuk mengembalikan mood Tuan Muda," sesalnya lalu mengejar Frederick agar tidak ketinggalan.


Walaupun tanggung untuk sarapan pagi sekretaris Davin masih fokus untuk bekerja. Frederick mengikuti rapat namun pikirannya tidak ke sana justru kepada Rania.


"Sedang apa ia saat ini?" gumamnya.


"Tuan persetujuan untuk melakukan peningkatan produksi udah ditingkatkan, bagaimana pendapat anda sekarang?" tanya sekretaris Davin halus.


Tidak ada jawaban semua orang menoleh kepada Frederick, mereka heran sosok pria yang tegas tiba-tiba berubah menjadi lemah.


Sekretaris Davin cepat-cepat menyadarkan frederick karena di hadapan mereka saat ini adalah para CEO, mau taruh di mana nanti wajah Frederick kalau dia yang memimpin rapat ini tidak fokus.


"Tuan, semua sedang menunggu jawaban anda?" ucap ya lagi tapi penuh penekanan agar Frederick sadar.


"Baiklah, saya setuju dengan yang kalian ajukan. Sekretaris Davin yang akan mengurus selanjutnya, saya pikir rapat kali ini cukup sampai di sini." Tanpa menunggu jawaban dari para tamu Frederick tidak meninggalkan tempat tersebut.


"Tuan belum menandatangani kertas ini padahal mereka sudah menunggu dari tadi." Frederick merasa kesal akhirnya dia menandantangani setelah membaca.


"Katakanlah kepada mereka kalau semuanya harus cepat selesai Minggu depan barang launching!" ucapnya.


"Baik Tuan Muda," jawab ya cepat.


Setelah memastikan pekerjaan sudah selesai dan selebihnya diserahkan kepada sekretaris Davin, Frederick memilih melihat keluar banyak kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana.


Dia sudah hapal semua tempat itu karena Rania pikirannya terus dihantui oleh ketakutan yang pernah membuat Rania.


"Rania, andaikan saja kau mau memaafkan ku detik ini jaga kebahagiaan kita semakin lengkap apalagi ada calon dua hati yang akan sebentar lagi akan hadir di dunia ini," lirihnya.


"Mbak, kenapa lama sekali hanya mengambil susu?" protesnya.


"Maaf Nona," ucapnya menunduk.


Rania tiba-tiba merasa bersalah telah memarahi pelayan ya tanpa sebab. Perasaan yang begitu sakit banyak masalah yang terjadi dalam hidupnya.


Dunia ini sudah mempermainkan perasaanmmu Rania, sampai kapan kamu seperti ini bahkan sewaktu-waktu kamu hadir bagaimana mami menebus semuanya.


Rania mengusap air matanya yang tiba-tiba keluar tanpa diundang.


Pukul lima sore Frederick kembali dengan badan terlihat lelah. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan tersebut.


Namun yang dia cari tidak ada pada akhirnya memutuskan naik sendirian. Frederick menghentikan langkahnya menoleh ke arah kamar Rania.


Mereka berdua memutuskan untuk berpisah sementara waktu namun dengan syarat yang ditentukan oleh Rania seorang.