
Frederick melihat Rania sedang tidak sadarkan diri di atas tempat tidur. Sebelahnya Christina berdiri dengan wajah yang penuh kebencian melihat kedatangan Frederick dan sekretaris ya.
"Rania?" panggil Frederick.
"Rania pingsan," ucap Christianto.
"Apa? Bagaimana bisa?" tanya Frederick panik.
Christianto lebih memilih diam ketimbang menjawab pertanyaan Frederick.
"Davin bawa Rania ke rumah sakit, cepat!" teriak Frederick.
"Kalau anda membawanya ke luar orang-orang yang membuat ia akan buru," potong Christianto.
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Frederick.
"Rania di kejar beberapa pria dan saya tidak sengaja melihatnya lari ke arah hutan." Frederick dan Davin saling pandang karena heran Rania di kejar-kejar para pria tidak dikenal.
"Davin, cari tahu hal ini!" perintah Frederick.
"Baik Tuan," jawab sekretaris Davin langsung meninggalkan apartemen tersebut.
Frederick menyuruh dokter pribadi ya memeriksa Rania masih belum sadarkan diri. Cukup lama di periksa hingga dokter bisa jelaskan kondisi kesehatan Rania.
"Nona Rania mengalami luka cukup berat di punggung ya Tuan. Saya sudah berikan obat setelah sadar nanti berikan obat ini diminum," ucapnya.
"Hanya itu? Tidak ada luka lain?" tanya Frederick cemas.
"Hanya memar Tuan, ada salep di oles ketika Nona selesai bersihkan tubuhnya," tambah dokter tersebut.
"Kamu boleh kembali, soal bayaran sekretaris Davin akan transfer," lanjut Frederick.
"Baik Tuan," jawabnya cepat.
Dari balik pintu Christianto melihat Frederick cekatan mengurus Rania masih belum sadarkan diri. Kebenciannya Christianto bertambah terhadap pria yang sudah memisahkan dia dengan Rania.
"Rania kamu terlalu menderita tapi pria itu tidak tahu perasaanmu saat ini," lirihnya.
Frederick tidak sengaja melihat bayangan Christianto langsung turun dari tempat tidur.
"Saya tidak memiliki wewenang melihat Rania, Tuan." Christianto langsung meninggalkan tempat itu memilih keluar.
Frederick merasa bersalah karena dia telah sudah memisahkan dua bersaudara tidak sedarah.
Suara lenguhan hilangkan lamunan Frederick ternyata Rania sadar karena pengaruh obat tadi.
"Rania, kamu baik-baik saja?" tanya Frederick panik.
"Aku di mana?" tanya ya sambil duduk namun karena ada infus ia sulit bergerak.
"Jangan bergerak dulu, saat ini kamu tempat aman Rania," bisik Frederick.
"Jangan mendekat, kalian jahat seenaknya menikmati tubuhku?!" teriak Rania kuat.
"Apa maksud mu Rania?" tanya Frederick heran.
"Kalian pria jahat pergi! Jangan mendekat atau aku akan pergi untuk selamanya?!" ancam Rania dengan cepat ia mengambil benda di atas nakas.
"Jangan coba-coba lakukan itu Rania, kita bisa bicara dengan tenang," rayu Frederick agar Rania tidak macam-macam melakukan itu.
"Untuk apa aku hidup lagi, kalian semua ingin tubuh ini hancur kan? Aku akan wujudkan?" Frederick berteriak kencang hingga dia bangun dari mimpi.
Mimpi tidak nyata, Rania masih betah tidur hingga Frederick memilih ke kamar mandi basuh wajah. Dia melihat wajah ya balik cermin yang selalu di buru para paparazi hanya kepentingan pribadi saja.
"Mimpi itu seperti kenyataan saja?" ucapnya sambil membayangkan isi mimpi ya itu.
Suara teriakan mengagetkan Frederick masih betah bercermin sementara Rania memberontak kepada Christianto agar dilepaskan.
"Jangan sentuh aku, kamu pria jahat!" teriaknya.
"Rania, ini kakak," ucap Christianto berusaha tenangkan Rania.
"Pria seperti kalian ingin tubuh ini kan? Baiklah aku akan wujudkan biar kalian puas!" tangisnya.
"Hentikan Rania! Jangan menyakiti dirimu!" sentak Christianto kuat sampai tuhuh kecil itu gemetaran.