Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Cairan Bening



Frederick tidak memperdulikan Rania kembali terkejut karena keadaannya. Namun dibalik biru semua dia bahagia bisa melakukan akting dihadapan Rania.


''Tuan, apa yang terjadi kepada anda?" tanya Rania panik.


''Bersihkan muka ini,'' ucap Frederick datar.


''Ya,'' jawab Rania cepat.


Frederick merasa kesakitan karena tangan Rania terlalu kuat menekan.


''Bisa pelan tidak?!" sentaknya.


''Maaf, aku tidak sengaja,'' jawabnya takut.


''Lakukan dengan benar awas kalau kena tekan lagi!" ancam Frederick.


''Ya Tuan,'' angguk nya.


Frederick tertawa melihat wajah panik Rania dia benar-benar menikmatinya tanpa sadar sudah selesai diobati. Waktu cepat berputar, Rania terjaga karena Frederick terus memintanya untuk dipijit.


''Astaga ini lebih menyakitkan daripada melayaninya seperti biasa,'' batin Rania.


''Lebih kuat pijit! Di mana tenagamu?" pekik Frederick.


''Maaf Tuan,'' lirihnya.


''Lakukan dengan benar, awas kalau tidak,'' ancamnya.


''Siap Tuan.'' Frederick tertawa dibalik bantal sambil merasakan tangan Rania yang tidak ada apa-apanya.


''Wanita ini sama sekali tidak sama cocok bekerja sebagai neng pijit,'' gerutunya.


''Berapa usiamu?" tanya Frederick.


''Apa? Dia bertanya apa barusan?!" pekik Rania.


''Hei, kamu dengar atau tidak?" tanya Frederick lagi.


''Dua puluh tahun Tuan,'' jawabnya pelan.


''Apa?! Kenapa kamu masih muda sekali?" sentak Frederick lalu mendorong Rania yang nyaris jatuh ke lantai.


''Tuan saja yang sudah terlihat tua,'' balasnya tanpa sadar.


''Apa kamu bilang?" Rania menutup mulutnya karena terlalu jujur mengatakan itu.


''Serius?" tanya Frederick wajahnya mulai terlihat mekar.


''Ya Tuan, saya tidak berbohong,'' jawabnya jujur.


''Pijit aku lagi!" Rania membuang napas kuat menghadapi seorang pria seperti Frederick membutuhkan nyali yang begitu kuat.


''Kog bisa kami jadi akrab ya?"gumam Rania dalam hati.


''Aku terlalu banyak bicara, astaga padahal aku kan hanya memanfaatkan dirinya saja,'' ketus Frederick.


Frederick akhirnya tertidur lelap tanpa meminta jatah kepada Rania. Waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi mata lelah itu sama sekali tidak bisa terpejam.


''Aku sepertinya kena insomnia,'' ucapnya pelan.


Rania memutuskan menuju balkon sambung menghirup udara. Angin yang begitu dingin tidak membuatnya masuk ke dalam.


Cukup lama berdiri di sana Rania tidak menyadari kalau Frederick sudah memperhatikannya di sana. Mereka berdua sama-sama menikmati angin malam yang sampai menusuk ke dalam tulang-tulang.


''Kak Christianto sedang apa ya di luar sana?" ucapnya dalam hati.


''Apa yang dipikirkan wanita ini? Apa sejak tadi tidak tidur?" gumam Frederick.


Pukul empat pagi mata lelah itu mulai meminta tidur Rania menatap tempat tidur melihat Frederick begitu tenang dalam mimpi.


''Lebih baik aku membantu pelayan saja,'' gumam Rania dalam hati.


Frederick melihat kepergian Rania dia juga mengikutinya dari belakang penasaran apa yang akan dilakukan wanita pilihannya itu.


''Mbak, selamat pagi,'' sapa Rania.


''Nona, sedang apa di sini?!" pekik pelayan tiba-tiba melihat wujud Rania yang pucat.


''Aku tidak bisa tidur Mbak. Aku bantu masak ya!" kekeh Rania.


''Nona jangan melakukan ini. Tuan nanti marah kepada kami karena anda berada di sini,'' tolaknya terang-terangan.


''Jangan takut Mbak, aku nanti yang bicara kepadanya.'' Rania membantu akhirnya melakukan pekerjaan dapur untuk pertama kalinya.


''Ia memasak? Memangnya bisa?" gumam Frederick pelan.


Cukup lama Frederick berdiri di sana memperhatikan Rania memasak hingga akhirnya suara aneh terdengar membuatnya penasaran.


''Astaga ada apa dengan perutku?" Rania berulang kali mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.