
Waktu terus berputar hingga kejenuhan mulai dirasakan Frederick karena perubahan besar yang dialami Rania. Orang-orang yang berada di samping Frederick termaksud sekretaris Davin begitu prihatin melihat sang CEO.
"Tuan, anda tidak pulang ke rumah?" tanya ya.
"Untuk apa aku kembali ke rumah kalau Rania menolak melihatmu Davin," lirihnya.
"Cobalah sekali lagi untuk bicara dengan Nona Tuan. Apa anda tidak mau merasakan kasih sayang sebagai calon ayah?" Frederick bingung dengan apa yang dikatakan sekretaris ya itu.
"Apa maksudmu?" sekretaris Davin memberikan sebuah contoh mengenai seorang calon ayah yang baik dan benar.
"Kalau anda terus menjauh dari Nona kebencian itu akan semakin dalam Tuan. Nona sedang mengandung saat ini hormon ya bahkan berubah rubah itu adalah hal yang biasa bagi seorang ibu hamil. Cobalah untuk bicara lagi tapi pelan-pelan kepada Nona!" Frederick merasa tidak yakin dengan dikatakan sekretaris ya itu.
"Aku tidak bisa melakukannya Davin, semua kelakuanku yang pernah ku berikan kepada yaitu sangat membekas. Aku tahu bagaimana perasaan Rania saat ini pasti terpukul." Frederick mengusap wajahnya yang terlihat kusut.
"Anda melakukan itu karena masa lalu yang begitu kelam. Mungkin kalau saya berada dalam posisi anda saat ini orang itu pasti sudah ku berikan pelajaran menghilangkan dia selamanya dari muka bumi ini," batin sekretaris Davin.
Y
"Davin aku lapar beli makanan!" perintahnya.
"Baik Tuan," balasnya cepat.
Kini hanya seorang Frederick berada dalam ruangan tersebut sambil minum wine.
"Rania ayolah berubah menjadi lembut seperti dulu, kamu memang yakin tidak mau melihat lagi wajah tampan ini?" racau ya karena efek samping anggur tersebut begitu tinggi.
Sekretaris Davin kembali dengan tepat waktu membawa makanan yang tidak diinginkan frederick sebagai seorang tangan kanan sekretaris Davin sudah sanggup melihat kondisi Frederick.
Di kamar utama Rania sama sekali tidak bisa tidur karena gelisah. Perut yang udah terlihat udah membesar diisap secara perlahan.
Keesokan harinya Rania begitu males keluar dari kamar karena semalam ia lama tidur. Walaupun tinggal di rumah Frederick sama sekali tidak membuatnya goyah jadikan ia pelayan.
Frederick turun dengan menggunakan pakaian santai dia memutuskan tidak ke kantor hari ini.
"Kakak kenapa tidak ke kantor?" tanya ya.
"Kakak malas," ucapnya.
Mereka berdua menikmati sarapan pagi bersama tanpa ada sepatah kata pun keluar lagi. Namun tiba-tiba Rania masakan perasannya semakin berkecamuk karena Fredrick ada di sana.
"Nona kenapa di sini?" Frederick langsung menulis ke belakang melihat Rania terlihat gelagapan.
Frederick membiarkan Rania di sana dengan apa yang terjadi kepadanya. Rania mengurungkan niatnya untuk ikut sarapan pagi lalu kembali ke kamar.
Frederick ingin tertawa melihat tingkah Rania yang begitu lucu sampai disadari pertama kali habiskan sarapan. Pagi itu merupakan hal yang paling lucu yang dialaminya pagi ini.
"Kenapa perutku nyeri ya?" ucapnya pelan.
Sakit itu semakin lama terasa hingga Rania tidak kuat lagi dan cairan kental keluar hingga membuat ia panik.
"Apa yang terjadi? Anakku jangan sampai kenapa-napa?!" pekik ya.
Rania secara perlahan keluar dari kamar berpegangan berusaha untuk mencari Frederick atau pelayan.
Namun tidak ada orang ia nekat turun dari lantai dua dalam keadaan yang kritis dan cairan berwarna merah ada di mana-mana.