
Christianto menatap wajah Rania yang masih terlihat gemetaran, dia tidak bisa membayangkan kejadian tadi.
"Kamu istirahat ya, kakak mau ke dapur dulu," ucap Christianto.
"Jangan tinggalkan Rania kak, aku takut nanti para pria jahat itu datang melukaiku," tahan Rania.
"Pria jahat?" gumam Frederick.
"Kamu sudah aman Rania, kakak di sini kog tidak ke mana-mana," tambah Christianto.
Rania menatap wajah Christianto lalu ia mengangguk, Frederick mundur agar Rania tidak melihatnya.
"Tunggu!" tahan Frederick.
"Apa?" balas Christianto ketus.
"Bisa kita bicara? Ada sesuatu yang harus kukatakan?" pinta Frederick.
"Maaf aku tidak bisa, Rania menungguku," elak ya.
"Siapa yang mau mencelakai, Rania?" tanya Frederick.
"Aku tidak tahu," jawabnya ketus.
"Rania sekarang tanggungjawab ku dan aku berhak tahu," ujar Frederick.
"Kalau kamu pria yang bertanggungjawab Rania tidak akan seperti ini," sentak Christianto.
"Makanya aku bertanya kepadamu?" tambah Frederick.
Christianto berdecak kesal dia memilih meneguk air untuk mengurangi dahaga ya yang kering.
"Rania di kepung para pria jahat. Mereka menginginkan tubuh Rania sama sepertimu," semprot Christianto.
"Jangan menuduhku, masalahku jangan sangkut pautkan sama orang itu?" kesal Frederick.
"Di mana anda ketika Rania dikejar orang-orang itu?" tanya Christianto.
"Sena kecelakaan tapi yang kutahu Rania ada di sebelahku." Christianto tertawa kecil dia semakin kesal terhadap Frederick.
"Jangan dekati Rania untuk sementara ini, lebih baik jenguk calon istrimu itu!" Frederick semakin kesal.
Tanpa berpikir panjang langsung menuju ke rumah sakit karena keadaannya Sena belum juga pulih.
Frederick memilih menuju ke taman kota menenangkan pikiran, dua wanita sekaligus bermasalah dalam hidupnya.
"Mau bermain-main malah aku yang kena. Ini semua karena Sena, andai dia tidak datang ke dalam hidupku lagi semua ini tidak akan terjadi," dengus ya.
Tiba-tiba lamunannya hilang karena ponselnya berdering lalu dengan malas Frederick mengangkat.
"Apa Davin?" ucap Frederick dingin.
"Tuan di mana?" tanya sekretaris Davin karena dia baru saja kembali ke apartemen namun Frederick tidak ada di sana.
"Datang ke taman!" perintahnya.
"Baik Tuan," balas sekretaris Davin cepat.
"Setidaknya Davin bisa menjadi teman curhat," gumamnya lalu meneguk wine yang dia ambil dari jok mobilnya.
Tidak lama kemudian sekretaris Davin tiba lalu menundukkan wajahnya.
"Bagaimana keadaan Sena?" tanyanya.
"Belum ada tanda sadar Tuan," jawabnya.
"Sampai kapan dia tidur? Sena tidak tahu aku jadi menderita di sini," dengus ya.
"Tuan, ada yang ingin saya katakan kepada anda?" tanya sekretaris Davin serius.
"Apa itu?" balas Frederick dingin.
"Saya sudah melihat kamera pengawas, orang-orang yang inginkan Nona mereka ada di gudang penyimpanan," terang sekretaris Davin.
"Lalu, apa yang kamu dapat dari mereka Davin?" tanya Frederick dingin.
"Mereka semua memilih diam Tuan, rencana mereka pasti ada orang kuat yang mengendalikan kasus ini, sungguh miris!" Frederick tercengang mendengar ucapan sekretaris Davin.
"Introgasi lebih dalam Davin, aku tahu di balik ini semuanya memang ada orang kuat. Kalau aku tahu siapa orangnya siap-siap berhadapan dengan Frederick. Dunia tidak tahu apa kualami tapi orang-orang luar sana menganggap diriku orang senang," tawanya sambil hamburkan uang ke jalanan.
"Tuan terlalu banyak minum kan jadi teler," batin sekretaris Davin lalu memapah Frederick semakin lama ngawur bicara.
"Rania adalah istriku bukan si dungu," ucapnya