Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Sebuah Kesalahan



Rania terkejut melihat wajah Frederick nyaris berdekatan dengannya. Bahkan untuk pertama kalinya mereka berdua terasa kikuk padahal hubungan sudah lebih dari suami istri.


''Lama sekali keluar, aku kan mau ke kamar mandi juga,'' gerutu Frederick lalu masuk ke dalam.


''Pria aneh,'' umpat Rania.


Frederick tersenyum tipis mendengar umpatan Rania, bukannya marah namun dia justru senang. Bagaikan anak baru gede, Frederick senyum-senyum sendiri dalam kamar mandi.


Rania kembali berbaring di atas tempat tidur karena hanya ini yang bisa ia lakukan setiap hari. Tiba-tiba pikirannya tertuju kepada Christianto bekerja di luar sana.


''Apa yang dilakukan kak Christianto ya?" gumamnya.


''Wanita ini masih memikirkan si cingur itu ya?" kesal Frederick.


Rania terkejut merasakan air menetes ke kepalanya lalu ia menoleh dan melihat Frederick sedang mengeringkan rambut basahnya.


''Pria ini sengaja,dasar pria gael,'' umatnya dalam hati.


''Kenapa berbaring? Kamu lagi sakit ya?" tanya Frederick.


''Dia memberikan perhatian atau ancaman?" tanya Rania dalam hati melihat Frederick tiba-tiba lembut kepadanya.


''Kamu jangan menatapku seperti itu terus nanti matanya kelilipan,'' ucap Frederick lagi.


''Ya,'' jawabnya singkat.


''Ayo temani aku sarapan pagi!" ajak Frederick sambil menarik Rania agar turun dari tempat tidur.


''Aku tidak salah melihat dan mendengar kan kalau pria ini mengajakku?" jeritnya.


Setibanya di ruang meja makan para pelayan Frederick langsung memberikan hormat.


''Duduklah, kamu butuh nutrisi untuk melayani ku!" ucap Frederick sambil meletakkan udang ke piring Rania.


''Setan apa yang merasuki pria ini, Tuhan?!" teriak Rania dalam hati melihat semua yang dilakukan Frederick kepadanya pagi ini.


''Kalau kurang makan aja karena semua ini khusus untukmu,'' tambahnya.


''Kamu kenapa tidak banyak bicara hari ini?" tanya Frederick lalu memasukkan nasi ke dalam mulutnya.


''Tidak apa-apa Tuan,'' jawabnya pelan.


''Jangan banyak berubah nanti lehermu bisa tegang,'' peringat Frederick.


Rania ternganga mendengar ucapan Frederick barusan, ia tidak terduga kalau pria dewasa ini terlalu banyak bicara dengannya beda sebelumnya. Sarapan pagi berakhir dengan serius namun hanya untuk Rania seorang beda dengan Frederick terlihat begitu santai.


Frederick kembali membawa Rania masuk ke dalam kamar karena dia tidak mau wanitanya berkeliaran di kediamannya sementara penjaga banyak di sini.


''Jangan ke mana-mana, aku akan pulang lebih awal!'' ucap Frederick.


''Ya,'' balasnya.


Frederick semakin kesal mendengar jawaban yang terus keluar dari mulut Rania hingga membuatnya jengkel.


''Davin, apa yang dilakukan Christianto?" tanya Frederick membuang kekesalannya kepada pria itu.


''Dia bekerja seperti karyawan lainnya Tuan,'' jawab sekretaris Davin.


''Apa dia ada melakukan sebuah kesalahan?" kening sekretaris Davin mengerut mendengar pertanyaan Frederick.


''Tidak ada Tuan,'' jawabnya.


''Seharusnya ada karena dia adalah pria yang menyebalkan,'' ucapnya.


Sekretaris Davin terbelalak mendengar ucapan Frederick yang konyol. Sesampainya di kantor Frederick langsung ke dalam tidak memperdulikan para karyawan menyapanya.


''Karena Nona Rania penyebabnya Tuan jadi tidak baik mood ya.'' Sekretaris Davin menghandle perusahaan satu hari ini karena Frederick terlalu banyak termenung sendirian dalam ruang kebesarannya.


''Rania, Christianto. Mereka berdua terlalu dekat sekali hingga tidak bisa dipisahkan. Andaikan Christianto membuat masalah hari ini, kekesalanku akan ku limpahan kepadanya,'' kesalnya.


Frederick kembali anak muda baru gede seperti baru saja jatuh cinta. Perhatian yang terhadap Rania tiba-tiba muncul begitu saja tanpa dia buat.