Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Hotel Rich



Frederick heran melihat Rania terus mual namun dalam pikirannya ia hanya masuk angin karena satu malam ini tidak tidur.


''Wanita ini benar-benar keras kepala, sudah tahu lelah namun masih bersikeras memasak,'' gerutu Frederick.


''Nona kenapa?" tanya pelayan begitu panik melihat wajah Rania yang pucat.


''Aku tidak apa-apa Mbak mungkin masuk angin karena beberapa hari ini sulit tidur,'' jawab Rania.


''Saya akan melanjutkan masakan ini lebih baik Nona istirahat. Kalau Tuan mengetahui Nona seperti ini kami nanti kena imbasnya,'' pinta pelayan tersebut penuh dengan permohonan.


''Baiklah! Terima kasih ya Mbak sudah beri izin memasaknya,'' ucap Rania.


Pelayan tersebut hanya mengangguk lalu menatap punggung Rania tubuhnya bahkan terlihat begitu kurus.


''Padahal Nona begitu cantik namun hanya dalam sekejap kecantikan itu semakin lama semakin pudar,'' gumam pelayan tersebut.


Rania pelan-pelan masuk ke dalam takut Frederick terganggu karena ulahnya. Suara helaan napas kecil lolos begitu saja karena Frederick belum bangun.


''Aku bisa istirahat sebentar,'' ucapnya pelan sambil menuju ke sofa panjang.


''Mau kemana dia tidur?" kesal Frederick.


Ekor kedua bola matanya terus mengikuti Rania hingga dia semakin kesal. Pada akhirnya mata lelah itu terpejam hanya dalam hitungan menit.


Frederick menyapu wajah Rania yang terlihat pucat dia terus menelisik.


''Apa karena tidak tidur itu kali ya makanya wajah ini pucat?" gumam Frederick.


Frederick memilih keluar karena tidak bisa lagi tidur apa lagi sudah tanggung. Turun ke bawah untuk melihat menu yang dimasak Rania tadi.


''Masak apa pagi ini?" tanya Frederick datar.


''Ayam goreng serta nasi goreng spesial Tuan,'' jawab pelayan tersebut.


''Wangi sekali,'' puji Frederick.


''Maaf Tuan, kami tadi sudah melarang namun Nona bersikeras untuk membantu kami memasak,'' lapornya.


''Aku mau sarapan!" seru Frederick tidak memperdulikan laporan pelayannya tersebut.


''Baik Tuan,'' jawab pelayan tersebut dengan cepat.


Pagi itu Frederick bukannya melakukan olahraga namun menghabiskan seluruh makanan yang di masak Rania.


''Ya Tuan, sebentar saya ambilkan.'' Frederick kembali menghabiskan ayam goreng tersebut.


Sinar matahari yang sudah memasuki kamar membuat Rania terbangun. Padahal mata itu masih menginginkan untuk tidur.


''Jam berapa ini?" ucapnya tidak jelas.


''Jam sembilan,'' jawab Frederick santai.


''Tu-tuan, maaf saya ketiduran.'' Seluruh nyawa langsung berkumpul mendengar suara Frederick yang menakutkan.


''Tidak perlu bangun, kalau lelah istirahat saja,'' ucap Frederick santai sambil melirik ke arah Rania.


''Saya permisi ke kamar mandi Tuan.'' Tanpa menunggu jawaban langsung masuk ke dalam. Rania mondar-mandir memikirkan kenapa ia sampai lupa bangun.


''Mati aku! Hukuman ku akan bertambah kalau seperti ini kejadiannya,'' ucapnya gusar.


Frederick dari tadi menahan tawa mengingat wajah Rania panik melihatnya belum berangkat ke kantor.


''Kamu melihat apa?" Tanya Frederick galak.


''Maaf Tuan,'' lirihnya jawabnya.


Frederick meninggalkan Rania lalu ke kantor karena pertemuannya dengan ayah Sena kena jadwal ulang.


''Di mana pertemuannya, Davin?" tanya Frederick galak.


''Hotel Rich Tuan,'' balas sekretaris Davin.


''Mereka senang sekali melakukan pertemuan di tempat-tempat seperti itu,'' decih Frederick.


''Tuan tetap waspada kepada mereka,'' ingatkan Davin.


''Kamu kira saya bodoh?" Pertanyaan itu membuat sekretaris Davin ingin tertawa terbahak-bahak.


''Memang bodoh, nyatanya hampir terjebak,'' tawanya dalam hati.


Frederick sama sekali tidak bersemangat memasuki hotel Rich. Padahal dia adalah miliknya namun karena bertemu dengan ayah Sena akhirnya dimaui.


''Mari kita lihat rencana apa yang akan dibuat si botak itu?" pekiknya sambil masuk ke dalam.