
Suara gebrakan terjadi di apartemen Christianto hingga Rania baru bangun dari tidur panjangnya tersentak kaget.
"Suara apa itu?" ucapnya pelan.
"Cari wanita itu sampai dapat!" teriak salah satu pria seram itu.
"Tuan di sini," seru temannya.
"Dobrak!" perintahnya.
Pria itu mengangguk mengerti lalu melakukan seperti yang perintah kan. Rania terkejut setelah melihat beberapa pria bertopeng masuk ke dalam.
"Kalian siapa?" tanya Rania gugup sambil mundur beberapa langkah.
"Lakukan sekarang!" perintah ya.
"Baik Tuan," jawabnya lalu mendekati Rania yang sudah tersudut di pojok.
"Apa yang mau kalian lakukan kepada saya?" tanya Rania, tatapannya bahkan melotot melihat benda mengerikan itu sudah terarah kan kepada-nya.
"Jangan berisik nanti sakit," ucapnya.
"Aku mohon jangan lakukan itu," pinta Rania sambil menangis.
"Dani lakukan?!" sentak ya.
"Sabar bos, kalau dipikir-pikir wanita ini cantik juga pantas Tuan Frederick menyuapinya dan Nona Sena terpinggirkan," ucapnya.
"Nona Sena? Kalian suruhan Nona Sena?" tanya Rania berusaha undur waktu.
"Bukan, lebih tepatnya Tuan Sena," ucapnya.
"Apa?" Rania menutup mulut.
"Lihat wajah ini, jadi di hutan kemarin tanggung kita lakukan di sini. Ruangan ini sepertinya cocok untuk bertanam, ya kan Faris?" tanyanya.
"Terserahmu, waktu kita hanya satu jam karena orang-orang akan tiba," ingatkan ya.
"Jangan Tuan," ucapnya gugup.
"Faris, jangan kelamaan nanti kita tertangkap dan Tuan Sena bisa mengamuk nanti," peringat ya.
"Ya Tuhan, apa aku akan menjadi bulan-bulanan para pria? Cukup Frederick yang merusak masa depanku dan jangan lagi pria ini," batinnya sambil memejamkan mata merasakan tangan pria itu mulai bekerja.
"Melayani Tuan Frederick apa seperti ini kamu selalu tutup mata?" tanya ya.
Rania sudah polos setengah bahkan tangannya tidak kuat lagi menahan untuk terakhir kalinya.
"Hentikan!" Suara bariton mengagetkan dua pria itu refleks langsung menarik Rania masuk ke dalam dekapannya.
"Tuan?" Rania lemas melihat Frederick di hadapannya.
"Kalian lepaskan atau tidak?!" pekik Frederick.
"Tunggu kami cicipi," tawanya.
"Kalian mau bermain-main dengan ku?!" pekik ya.
"Kalau berani kemarilah!" tantang Frederick.
"Faris tahan wanita itu, kita kedatangan tamu," perintahnya.
"Dengan senang hati bos." Frederick langsung mendorong pria itu sekuat tenaga agar dia langsung bisa menolong Rania.
"Christianto sekarang!" teriak Frederick.
Seketika suasana menjadi hening setelah mendengar suara yang memekikan telinga.
"Rania?!" teriak Frederick dan Christianto.
Frederick langsung menggendong Rania lalu dia bawa menuju ke rumah sakit sementara itu Christianto mengurus dua pria yang membuat kekacauan di apartemen ya.
"Rania kamu harus kuat," gumam Christianto.
Christianto melihat Rania terkapar setelah mendengar suara nyaris membuat jantungnya hampir melompat keluar.
Frederick berusaha keras untuk membangunkan Rania sambil menahan luka pada lengannya.
"Air," ucap Rania lemas.
"Ya," sahut Frederick cepat.
Rania kembali pingsan setelah menghabiskan air minum hingga akhirnya tiba di rumah sakit. Frederick langsung menyuruh dokter untuk mengurus Rania dan tidak memperdulikan ayah Sena melihatnya dari jarak jauh.
"Gagal lagi ya," kesal ya, padahal satu langkah lagi Sena akan memiliki Frederick untuk selamanya.
Ayah Sena menerima pesan dari anak buahnya rencana gagal total. Frederick kali ini tidak mau diam lagi setelah mengetahui faktanya sebenarnya.
"Sena dan ayah ya secepatnya harus diberikan pelajaran," batinnya sambil melihat Rania sudah hilang balik pintu kamar operasi.