
Ayah Sena begitu menginginkan Rania untuk hilang dari pelukan Frederick. Hanya Sena seorang yang bisa memiliki Frederick tidak boleh ada yang lain. Sekretaris Davin masih belum mengetahui apa yang dibicarakan ayah Sena tadi.
"Ayah Sena mencurigakan," batin sekretaris Davin.
"Davin, sejak kapan kamu di sini?" Ayah Sena langsung menoleh ke belakang tubuhnya bergetar melihat Frederick sudah ada di sana.
"Frederick, bukankah kamu tadi ada di dalam?" tanya ayah Sena heran.
"Saya baru mengetahui kalau pintu samping ada, Om," tunjuk Frederick.
Kedua bola mata ayah Sena terbelalak dia sama sekali tidak menyadari ruangan yang dimiliki putrinya ada dua. Dia teringat baru saja bicara dengan orang suruhannya untuk menghilangkan Rania.
"Mati aku, jangan sampai semuanya terbongkar kalau tidak Sena bisa gila," batin ayah Sena.
"Om?" panggil Frederick.
"Katakan kepada dokter pintu itu segera ditutup biar hanya satu yang kita gunakan!" seru ya.
"Baik Om," ucapnya.
"Jangan tinggalkan Sena sendirian di sini, kamu tahu kan bagaimana tadi kondisinya di dalam sana?" ujar ayah Sena.
"Baik Om," jawabnya singkat.
Ayah Sena berdehem meninggalkan tempat itu karena dia harus kembali ke rumah untuk menyusun rencana baru. Frederick dan sekretaris menatap punggung renta itu hilang di balik tembok.
"Tuan, kenapa anda menjadi lemah di hadapan Tuan Sena?" tanya sekretaris Davin hati-hati.
"Kamu tahu apa yang di dalam pikiran Tuan Sena?" Sekretaris Davin geleng-geleng kepala tidak mengerti apa yang dikatakan Frederick.
"Maaf Tuan," ucapnya.
"Aku merasa ada yang disembunyikannya Davin, kamu tahu kan bagaimana sifat ayah Sena sekaligus putrinya itu," tambahnya.
"Tuan, saya hanya menduga sesuatu sedang direncanakan Tuan Sena. Tapi saya masih menduga karena belum mendapatkan bukti." Frederick memilih duduk karena dia juga merasa seperti itu namun saat ini pikirannya bingung apa lagi Rania banyak berubah setelah kejadian.
"Apa yang dilakukan Rania sekarang, Davin?" tanya Frederick.
"Katakan kepada Christianto mulai hari ini dia tidak perlu bekerja lebih baik menjaga Rania!" perintah Frederick.
"Baik Tuan," sahut sekretaris Davin.
Christianto semakin kesal kepada Frederick seenaknya mempermainkan dirinya. Setelah mendapatkan perintah demi Rania rencananya akhirnya kenak tunda.
"Baiklah, Rania untuk sementara waktu ini kita bersama biar si Frederick kepanasan," seringainya.
Para karyawan heran melihat Christianto pergi meninggalkan kantor tanpa pamit kepada atasan. Banyak yang menduga kalau selama ini Christianto adalah mata-mata untuk mereka karena kepribadiannya begitu beda.
"Selamat tinggal, lain waktu kita bertemu lagi guys," pamitnya.
"Dia mau ke mana?" tanya salah satu karyawan.
Christianto merasakan tenang kalau sudah bersama dengan Rania. Dia melihat wanita yang selama ini bersamanya rapuh, perasaannya sakit semua ini terjadi kepadanya.
"Andai kakak bisa menolong mu Rania," batin Christianto.
Rania tidak sengaja melihat Christianto berdiri pintu tanpa berkedip. Ia heran lalu di hampiri ya dengan langkah yang pelan.
"Kakak sedang apa di sana?" Pertanyaan itu membuat lamunannya buyar Christianto langsung masuk ke dalam karena merasa grogi.
"Rania kenapa tiba-tiba menjadi cantik ya?!" pekik ya.
Rania menarik tangan Christianto karena pertanyaannya tidak dijawab.
"Kak?" panggil ya.
"Kamu membutuhkan sesuatu, Rania?" tanya Christianto pelan.
"Rania kangen sama kakak," lirihnya.
Kedua bola mata Christianto melebar mendengar ucapan Rania. Perasaannya berkecamuk karena sudah lama tidak mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Rania semenjak mereka berpisah.
"Kakak juga kangen Rania hanya saja pria itu saat ini ada di belakang mu," batin Christianto.