
Frederick tertawa puas mendengar keputusan dan dibuat Christianto mau bekerja sama dengannya.
"Pria yang putus asa akan mau bekerja denganku termasuk dengan Christianto. aku akan mempertemukan mereka segera dan melihat bagaimana ekspresi Rania," ucapnya penuh seringai.
"Tuan, bagaimana nanti sewaktu-waktu Christianto balas dendam kepada anda?" tanya sekretaris Davin.
"Dia tidak akan pernah melakukan itu Davin. Christianto pria yang lemah dan tidak tahu apa yang akan dilakukannya setelah bertemu dengan Rania." Sekretaris Davin hanya bisa diam dia semakin cemas dengan rencana yang dibuat oleh Frederick.
"Semoga saja Tuan tidak terjebak dengan permainannya sendiri," ucap sekretaris Davin dalam hati sambil menatap Frederick yang minum terus menerus.
Frederick kembali menuju ke Penthouse karena malam ini dia harus merayakan kemenangannya bersama dengan Rania.
Wanita yang sudah menunggunya satu harian ini termenung sendirian dalam kamar sambil menunggu kedatangan Frederick.
"Kau?!" suara berat Frederick mengagetkannya spontan langsung berdiri agar tidak mendapatkan perlakuan yang tidak adil yang terus-menerus didapatkannya.
"Saya tidak budeg bisa mendengar suara anda," ucapnya.
"Kenapa? Kau masih memikirkan yang kukatakan semalam?" tanya Frederick lalu membuka satu persatu pakaiannya agar segera membersihkan tubuhnya yang lengket.
"Haruskah wanita seperti saya yang harus menjadi dalam genggaman anda?" tanya Rania pelan.
"Kamu tenang saja tidak perlu khawatir tentang masa depanmu kelak semua sudah diatur sekretaris Davin. Uang, kau menginginkan itu nantinya jadi tidak perlu cemas dan sekarang saja katakan berapa yang ingin kamu inginkan?" Frederick langsung menatap Rania dengan tatapan yang datar.
"Uang? Apa orang kaya seperti anda dengan gampang mengatakan itu kepada kami yang lemah?" tanya Rania sesak.
"Nyatanya, hanya menunjukkan uang kamu sudah berada dalam genggaman ku." Rania tidak habis pikir yang iya dengar barusan rasanya secepatnya hilang dari muka bumi ini agar tidak melihat wajah Frederick.
"Besok, kamu akan bertemu dengan seseorang yang akan menjagamu setiap saat karena Minggu depan wajahmu akan ditunjukkan kepada dunia," sambung Frederick.
Rania menatap kepergian Frederick memasuki kamar mandi dengan tubuhnya yang polos.
"Siapa orang itu dan apa alasannya aku ditunjukkan kepada dunia?" gumamnya lalu ambruk ke lantai.
Ina masuk ke dalam untuk memberikan pakaian ganti Frederick karena malam ini adalah malam yang panjang untuk mereka berdua.
"Nona, bersiaplah karena Tuan muda hendak membawa anda keluaran ini adalah pakaian kalian berdua," ucap Ina lalu meletakkan pakaian tersebut di atas tempat tidur.
Rania sama sekali tidak tertarik dengan ucapan Ina, ia justru memilih menuju ke cermin melihat wajahnya yang pucat.
"Aku harus melupakan kak Christianto. Dia mungkin tidak akan mau lagi melihatku dalam keadaan seperti ini." Setetes air mata lolos membasahi wajahnya hingga dari belakang Frederick sudah muncul dengan hanya menggunakan handuk.
"Tidak perlu menangisi yang tidak perlu itu akan membuang tenaga," ucap Frederick.
"Pria seperti mana mengerti bagaimana perasaan wanita," ultimatumnya.
Dalam sekejap wajah Frederick langsung berubah menjadi masam mendengar perkataan Rania barusan. Spontan Frederick langsung menarik Rania kuat lalu menangkap dengan tatapan yang begitu dingin.
"Bicara seperti itu sekali lagi kamu tidak akan pernah kuberikan kata ampun," ucap Frederik dingin.
"Saya tidak peduli apa yang anda katakan, anda sudah merenggut semuanya yang kumiliki," tantang Rania.