Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Panti Asuhan



Frederick tidak menyangka kalau mimpinya kenyataan bahkan keadaan Rania sungguh memprihatinkan.


''Hentikan Rania!" sentak Frederick.


''Ka-kau jangan mendekatiku,'' ucapnya takut.


''Kita bisa bicara dengan baik-baik Rania,'' pinta Frederick.


''Aku tidak mau bicara denganmu, pergi!" teriak Rania sambil bersembunyi di balik punggung Christianto.


''Sebaiknya anda pergi Tuan,'' usir Christianto.


''Nanti kita bicara.'' Setelah mengatakan itu Frederick meninggalkan ruangan tersebut.


''Tuan hendak mau ke mana?" tanya sekretaris Davin.


''Kau jaga Rania, kalau ada sesuatu yang terjadi secepatnya kabarin aku!'' ucap Frederick lemas.


''Baik Tuan muda,'' jawab sekretaris Davin.


Frederick dengan berat hati meninggalkan apartemen menuju ke rumah sakit melihat keadaan Sena.


Pikirannya sama sekali tidak ada ke Sena padahal dia sekarat di rumah sakit sementara Rania hanya ketakutan.


Kedua orang tua Sena menarik Frederick karena dokter baru saja mengatakan kondisi Sena dalam kritis.


''Dari mana kamu? Sena sekarang sedang berjuang di dalam sana?!" bentak ayah Sena kuat.


''Saya kembali ke rumah, bagaimana keadaan Sena, Om?" tanya Frederick dingin.


''Sena mengalami sesak napas,'' ucapnya.


''Tidak mungkin?!" Frederick melihat dari balik kaca beberapa dokter berusaha untuk menyelamatkan Sena.


''Bagaimana kalau Sena meninggalkan kita ayah,'' tangis ibu Sena.


''Sena anak yang kuat dia tidak mungkin meninggalkan kita Bu,'' ucap ayah Sena lalu membawa istrinya itu ke dalam pelukan.


''Apa yang harus kulakukan sekarang?" batin Frederick.


''Saya masih menunggu Sena sadar Om,'' balasnya.


''Kamu tidak lihat Sena berjuang di dalam sana setidaknya dia mendapatkan status sebelum meninggalkan dunia ini,'' tambah ayah Sena.


''Saya jamin kalau Sena tidak akan pernah pergi Om.'' Ayah Sena semakin kesal mendengar ucapan Frederick.


''Kalau begini mana bisa Sena menikah dengan Frederick, aku harus memikirkan cara lain,'' gumam ayah Sena.


Sekarang Frederick tinggal seorang di sana sendirian duduk di luar. Kedua orang tua Sena sudah kembali ke rumah karena ingin beristirahat.


''Rania sedang apa sekarang ya?" ucapnya tanpa sadar.


''Rania kamu makan ya!" ucap Christianto halus.


''Aku tidak mau makan, kak,'' tolaknya.


''Tatap kakak Rania, kita berdua sudah berkumpul kembali sekarang makan ya,'' rayu Christianto lagi.


Rania tetapi gak mau makan karena masih ketakutan insiden yang membuatnya bisa trauma seumur hidup. Christianto meletakkan piring tersebut ke atas meja lalu menggenggam tangan Rania yang dingin.


''Jangan takut, orang-orang yang ingin mencelakai mu sudah diringkus polisi.'' Rania menatap wajah Christianto yang terlihat sendu.


''Benar kak mereka sudah ditangkap?" tanya Rania pelan dan sedikit tenang.


''Ya, kamu sekarang sudah berada di tempat yang aman Rania,'' tambahnya.


''Rania minta maaf kak,'' tangisnya lalu memeluk Christianto.


''Sudahlah, tidak perlu lagi merasa bersalah Rania, kakak senang melihat mu sekarang.'' Christianto melepaskan pelukan untuk karena mendapatkan tatapan tajam dari sekertaris Davin.


''Kakak tidak tinggal di panti asuhan lagi?" tanya Rania sambil mengusap air matanya.


''Tidak, karena kakak udah mendapatkan pekerjaan di perusahaan terbesar di kota ini Rania,'' ucapnya.


''Bagaimana bisa kakak masuk sementara ijazah kita dua hanya tamatan sekolah menengah atas?" tanya Rania heran.


''Semua karena pria yang sudah membuatmu seperti ini Rania, sampai sekarang kakak masih mencari celah agar bisa mematahkan pertahanannya,'' batin Christianto.