Hubby Sweet Love Me

Hubby Sweet Love Me
Maduku



Ayah Sena langsung berdiri melihat kedatangan Frederick senyumannya bahkan lebar.


''Akhirnya calon menantuku tiba juga,'' gumam ayah Sena.


''Saya tadi terkena macet,'' ucap Frederick lalu duduk tanpa membalas uluran tangan ayah Sena.


''Tidak apa-apa Tuan Frederick karena saya juga baru tiba,'' balas ayah Sena lalu duduk.


Frederick pesan minuman lalu menatap sekelilingnya tidak ada siapapun kecuali hanya mereka berdua.


''Saya meminta ruangan ini diberi privasi,'' ucap ayah Sena.


''Oh begitu," balasnya jutek.


"Tuan Frederick terima kasih sudah mau menerima undangan saya," tambah ayah Sena.


"Langsung ke points saja, dua puluh menit lagi saya harus melakukan pertemuan," ucapnya.


"Baiklah. Sena putriku menyukai anda sebagai orang tua kami merasa gagal mendidiknya. Sena tidak mau mengenal pria lain selain anda karena semua kriteria yang dia impikan ada. Tuan Frederick, Sena telan meninggalkan rumah dan mengancam akan meninggalkan kami selamanya," ucapnya penuh memohon kepada Frederick.


"Lalu?" tanya Frederick datar.


"Saya minta tolong Tuan selamatkan putri saya. Dia adalah berlian kami satu-satunya dan untuk apa kami bekerja pagi, siang, sore dan malam kalau berlian itu telah pergi untuk selamanya." Frederick berdecak bercampur kesal mendengar perkataan ayah Sena.


"Kalau saya gagal?" tanya Frederick dingin.


"And bisa meninggalkan Sena untuk selamanya." Sekretaris Derulo yang mendengar semua cerita klasik itu ingin tertawa terbahak-bahak.


"Suruh dia ke kediamanku dan bawa semua barangnya!" kedua bola mata ayah Sena terbelalak mendengar jawaban Frederick.


"Anda serius Tuan?" tanyanya berbinar.


"Ya, saya sudah telat lain waktu mengobrol lagi." Frederick langsung berdiri.


"Terima kasih Tuan," balas ayah Sena.


Frederick tidak membalas dia keluar dari sana dengan wajah yang ditekuk.


"Tuan, kenapa anda melakukan itu?" tanya sekretaris Derulo cemas.


"Kalau memancing ikan harus ada umpan Derulo." Sekretaris Derulo baru sadar apa yang akan dilakukan Frederick kepada Sena.


"Tapi Tuan, bagaimana dengan Nona Rania?" tanyanya lagi.


"Astaga Tuan sebenarnya mau melakukan rencana apa sampai menyatukan dua wanita satu atap?" batin sekretaris Derulo.


"Balik ke rumah Derulo, jiwaku ingin bersama dengan Rania!" ucapnya.


"Baik Tuan dengan senang hati," balasnya.


"Kamu menyukai Sena atau Rania?" Pertanyaan itu membuat tubuh sekretaris Derulo membeku.


"Saya memilih wanita yang mantap di hati anda Tuan," jawabnya.


Frederick memilih melihat ke samping menikmati angin serta kendaraan yang melewati mereka berdua.


Mobil memasuki halaman pekarangan Rania terbelalak melihat kedatangan seseorang yang tidak ia kenal. Wanita angkuh dan tidak ada sopan santun masuk ke dalam.


Suara hentakan kakinya membuat seluruh penghuni Penthouse Frederick melirik ke arahnya.


"Siapa wanita itu?" tanya Rania.


"Halo, mana penghuni Penthouse ini?" panggilnya.


"Anda siapa Nona?" tanya pelayan.


"Beraninya kamu bertanya saya siapa? Saya adalah calon istri Frederick!" tekannya.


"Apa?!" pekik Rania tiba-tiba ia jatuhkan vas bunga.


"Siapa kamu?" tanya Sena tidak suka ada wanita muda di rumah Frederick.


"Saya adalah-" Frederick langsung memotong pertanyaan Sena.


"Calon istriku!" Kedua bola mata Rania dan Sena terbelalak mendengar ucapan tersebut.


"Apa maksudmu, Fred?" pekik Sena.


"Dan kamu adalah maduku," bisik ya.


"Kamu gila ya Fred? Dari mana kamu pungut wanita yang tidak jelas asal-usulnya?" tunjuk Sena tidak terima.


"Satu bulan aku akan ceraikan kalian kalau ada yang melakukan kesalahan. Tidak terima keputusan yang kubuat ini, silahkan minggat karena masih banyak wanita di luar sana yang lebih menggoda." Sena melihat Rania tidak bergeming membuat perasannya semakin berkecamuk.