Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Hamparan keyakinan



Raisa tiba tiba tersadar saat tangan besar menyentuh kepalanya, dia bangkit.


Duk, "aw...sst.. Kamu kenapa si?, sakit tahu!", dagu leonard terhantam kepala raisa, dagunya terasa berdenyut nyeri, raisa menunduk malu.


"Maaf kak!, aku gak sengaja!", raisa menundukkan pandangannya dan meremas kedua tangannya, leonard terkekeh geli dengan ekspresi yang terpancar dari wajah raisa, rasa sakitnya tiba tiba menghilang, dan dia mulai melancarkan strategi lanjutan.


"Maaf aja gak cukup tau!, liat ni daguku sampe memerah gini!, tanggung jawab kamu!", raisa menjadi merasa sangat bersalah, dia mengangkat kepalanya cairan bening mengaliri pipi mulusnya.


"Ck, kenapa nangis?, dah.. Aku cuma bercanda cengeng banget, gak rubah rubah ya cengengnya", leonard mengusap air mata raisa yang terus meluncur.


"Maaf kak!, aku hanya terbiasa melakukan itu dengan ibu!, maaf!", raisa menatap mata leonard ada seberkas cahaya di mata itu yang membuatnya teringat sesuatu.


Fleshback on.


Sore yang mendung itu raisa tengah menangis di dalam toilet yang terkunci, semua warga sekolah sudah pulang dia terpaku dengan pakaian basahnya meratapi rasa perih di kakinya, dia sudah berusaha menggedor pintu pelastik di hadapannya, namun tidak ada yang membuka.


Leonard mendengar teriakan gadis kecil di toilet, hatinya teriris, entah apa yang ada di pikirannya mungkin ini namanya cinta monyet kata orang tua, leonard sudah terbiasa membantu raisa secara diam diam dan menghajar berandalan sekolah yang sudah mengganggu raisa, tapi bukannya kapok para berandalan itu malah semakin menjadi dan mengakibatkan raisa enggan sekolah untuk beberapa hari.


Hari leonard amat kesepian, dia tidak melihat sosok kecil itu lagi.


Raisa sendiri mengetahui tentang perlakuan leonard dia merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk pindah sekolah.


Fleshback off.


Raisa tersenyum lembut dengan isaknya, "terima kasih kak!".


Leonard merasa kesal pada dirinya sendiri hingga sebuah kalimat yang menyiksanya keluar dengan sendirinya, "sa!, nikah yu?".


Leonard terpaku yang langsung mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala, "eh enggak kok, e..itu ..anu maksudnya, aku.. Gak lakukan ini buat itu kok!, kita .. e...apa ya.. Hmm.. Jangan berpikiran kesana dong!", leonard gelagapan menanggapi ucapan raisa, dia sendiri kecewa dengan bibirnya yang tidak terkontrol.


Raisa bangkit dari duduknya, hatinya terasa sedikit ngilu, jelas ucapan leonard barusan sudah memberikan bentang pembatas padanya untuk tidak melewati wanti wanti, melihat ekspresi diam raisa leonard lagi lagi meruntutti ucapannya sendiri.


Raisa duduk di ranjangnya sesekali dia melihat leonard yang masih duduk di atas sejadahnya, hati leonard kembali tergores mendapatkan penolakan halus seperti itu, leonard mengalihkan pandangannya dan melihat wajah raisa, raisa dengan cepat menundukkan pandangannya, rasa canggung menggeliat memenuhi ruangan bagaimanapun mereka adalah orang asing untuk saat ini keadaan seperti itu menjadikan raisa dan leonard gugup.


"Kak!, kita bertemu lagi belum sempat 12 jam, apa harus secepat itu?", leonard membulatkan matanya mendengar ucapan raisa, ada desiran aneh di dadanya dan perutnya yang terasa bergejolak, ingin rasanya dia berdiri dan melompat lompat, sebuah hamparan keyakinan memeluknya memberikan jawaban untuk penentian sudah cukup untuknya mengartikan sebagai "'iya"'.


"Ee.. Ya!, aku memang kurang tepat mengatakannya sekarang, tapi aku sangat serius dengan ucapanku", raisa meremas kedua tangannya yang serasa basah oleh keringat, entah dilema apa yang menjadikannya sulit untuk berbicara, leonard menghadap ke arah raisa memegang kedua tangannya.


"Aku juga tidak mengharapkan jawabanmu sekarang, tapi aku hanya tidak ingin kehilangan jejakmu lagi", deg, jantung raisa seketika terasa berhenti, ritme jantungnya tiba tiba meningkat ada rasa menyenangkan yang dia dapati namun rasa ragu selalu membelenggunya, selain rasa kejut itu leonard pun terperanjat saat mendapati gelang yang di berikannya saat kecil masih di kenakan di lengan kiri raisa, hatinya tiba tiba berenang kesana kemari menysuri sudut bahagia yang kini tengah menggenangi hati.


"Hmm, aku minta waktu untuk berfikir 40 hari ya?", raisa menarik lengannya, leonard menyadari bila raisa bukanlah wanita biasa, dia tersenyum kikuk.


"Lama banget, 1 minggu aja", leonard berusaha nego pada raisa.


"Kak!, ibu baru meninggal a..", raisa ingin melanjutkan ucapannya namun kembali ditikung oleh leonard.


"Ok 40 hari gak bisa nambah lagi", leonard meruntutti kebodohannya sendiri, dia tau jelas raisa sedang berkabung malah mengatakan hal yang tidak semestinya.


'Bodoh banget si gue, tau raisa lagi kehilangan, nangis aja semalaman gue masih melamar dia lagi pas lagi sedih sedihnya, bodoh banget gue!', gerutunya dalam hati.


Bersambung...