
Raisa dan leonard menunaikan sholat berjamaah setelah di rasa sunyi, hati keduanya kembali tentram setelah melantunkan do'a do'a suci dalam ibadahnya.
"Sayang maaf bila selama ini aku selalu membuatmu kesulitan", leonard mengecup kening istrinya saat raisa menyodorkan tangannya untuk meminta maaf karena keteledorannya, dia telah memberikan kesalah fahaman yang memang saat itu dirinya bertindak tidak dewasa dan malah menyakiti dirinya sendiri.
"Kakak tidak salah, aku yang salah!, maafkan aku karena terlalu berpikiran negative", ucap raisa dengan air mata yang meleleh di pipinya.
Leonard dengan lembut dan penuh sayang mengusap air mata yang sempat menggenangi pipi putih istrinya dia tersenyum lembut penuh syukur.
"Terima kasih sayang!", kembali leonard mengecup lembut kening sang istri dengan rasa hangat yang menjalari tubuhnya, dia dekap erat erat tubuh kecil sang istri.
***
Di tempat yang berbeda di depan sebuah gapura, nathan mengucuri tubuhnya dengan keringat, bergetar gugup yang hinggap di tubuhnya menjadikan dia salah tingkah dan gelagapan.
"Ngapa lo than?", tanya atikah melihat nathan yang nampak ketakutan, "gue ajak lo ke rumah orang tua angkat gue ngapa lo kaya yang di ajak ke rumah hantu", ledek lagi atikah dengan tawa yang kemudian keluar.
"Huuuft...", nathan menghembuskan nafasnya kasar dan menatap gapura yang bertuliskan nurul ihsan, nathan kembali menarik nafasnya yang begitu terasa berat, 'beginikah rasanya menemui calon mertua', seru nathan dalam hati.
"Sini!?", atikah menarik pundak nathan hingga mendekat, dengan hati hati atikah melepaskan anting anting yang sempat bersemayam di telinga pria tampan itu, "kedepannya jangan di pake lagi!", seru atikah kembali mengambil cincin, gelang dan kalung yang sempat menghiasi tubuh indah nathan.
Glek, nathan meneguk saliva nya sendiri, dia menatap atikah yang memasukan aksesorisnya ke dalam tasnya.
"Ayo!", atikah berjalan tanpa menggenggam tangan nathan, saat ini nathan seakan terhempas ke belakang menatap punggung atikah yang berjalan, "tunggu apa lagi?, ayo!", akhirnya atikah menggenggam erat tangan nathan, awalnya dia takut akan di cap buruk karena menggenggam tangan pria namun kini atikah tidak perduli dia sekarang lebih ingin menguatkan pria yang bersamanya.
Nathan menatap lembut wanita di hadapannya, dia yang tidak tahu bagaimana rundungan yang akan di dapatkan atikah saat tangannya di genggam hanya tersenyum senang karena dia merasa di perdulikan.
"Weeeh.. Liat tuh si tikah gandeng cowok!, udah rambut cowoknya aja merah pasti tuh cowok gak baik", ucap seorang santriyah yang menatap atikah tidak suka.
"Iya dulu aja dia sempet mau di perkosa, aku yakin sebenarnya dia udah di apa apain sama tuh cowok", ucap yang lain menimpali.
"Gak tahu malu banget dia ke sini", ucap yang lain memalingkan wajahnya.
Dari kejauhan nampak afifah yang melambaikan tangan dan menggelang setelah dia melihat atikah dan nathan.
"Kalian ini ya!!, kamu juga tikah!, tahu ini di lingkungan pesantren malah gandeng pacar, hadeeeh!", afifah menggelang dan menarik lengan atikah.
Atikah menepis lengan sahabatnya dan tetap mengenggam tangan nathan, "maaf fif, aku gak mau menafikan cinta begitu saja, aku kesini juga mau meminta restu dari ayah dan ibu, aku akan menikah", ucap atikah dengan senyum lembut di bibirnya.
"Apa nikah?!", afifah terbelalak hampir tidak percaya begitu pula ibu angkat atikah yang merupakan ibu afifah yang kebetulan ada di ambang pintu.
"Iya", atikah mengangguk yang tidak berapa lama kemudian ayah afifah tiba dengan menggunakan kopiah, sorban dan sarung khasnya.
"Atikah?", ayah afifah menyapa dengan senyum ramahnya.
"Ayah, assalammu'alaikum", atikah mengucap salam menelungkupkan tangannya di dada, nathan mengikuti gerakan atikah.
"Feet.. Hmm..feet..", atikah menahan tawa dan hampir terlepas tak dapat menahan perut dan pipinya yang terasa mengencang.
"Sayang kenapa?", tanya nathan berbisik di samping atikah.
"Gak papa", jawab atikah dengan merapatkan bibirnya berharap tidak mengeluarakan suara ledakan tawa.
Nathan kebingungan bagaimana mungkin ayah atikah tahu namanya, "iii...iya om!", nathan menjawab ragu ragu.
"Kok jadi kikuk gitu seblumnya de nathan tidak seperti ini!", seru pria itu menepuk pundak nathan.
'Hah apa?, tunggu!, sebelumnya?', nathan kebingungan berbisik dalam hatinya.
"Iya kan sebelumnya kita pernah ketemu beberapa kali, dan terakhir ketemu kita di kantor urusan agama, waktu itu de nathan mendaftar nikah kan?", tanya pria itu menyelidik.
Nathan mengangkat alisnya dan jantungnya kemali terasa terpompa keras saat mengingat wajah itu, ayah afifah adalah naib di KUA tersebut, "jadi kapan ijab qobulnya, kenapa surat nikahnya sudah di ambil?", tanya lagi ayah afifah menyelidik.
'Mati gue!', bisik hati nathan terpojokkan, dia menatap sekilas ke arah atikah meminta bantuan, namuna tikah tidak memperdulikannya.
"Se..sesegera mungkin om", nathan lagi lagi menelan saliva nya dan tangannya terasa dingin dan dirasakan oleh atikah.
"Dah lah yah, dia ke sini juga mau minta ngehalalin aku, dia mau ijab qobul malam ini katanya di waliin sama ayah!", seru atikah dan langsung saja mata nathan membulat sempurna tak percaya dan syok sudah pasti.
"Serius?, kok dia nya kaya yang kaget gitu?", afifah menyelidik wajah nathan yang nampak ketakutan.
"Tau tuh!, ngapa tegang gituh?", tanya lagi atikah menatap tajam wajah nathan.
'Jahat banget kamu sayang, aku belum persiapan udah langsung minta ijab qobul aja', seru nathan dalam hati.
"Gak kok yank, aku belum sempet ambil baju di rumah jadi aku kayanya mesti siap siap dulu", seru nathan mengedipkan sebelah matanya.
"Hmmm.. Terus mana gaun aku?", tanya atikah tersenyum jahil pada nathan.
"Tunggu di sini, nanti bakal ada yang ngirimin, sabar ya sayang", nathan mencubit hidung mancung atikah dan para penonton semua hanya dapat menggelang melihat bagaimana cara pacaran mereka yang terbilang blak blakan.
"Ehem.. Ini pesantren loh!", seru afifah dan tersenyum jahil menatap sahabatnya.
Nathan menggaruk tengkuknya dan tersenyum kikuk, dia berpamitan pada keluarga atikah dan kembali berlalu, namun tak lama kemudian dia kembali lagi.
"Sayang, aku gak bawa uang cash!", nathan merengek meratapi dompetnya yang kekosongan uang cash.
Atikah mengambil dompet nathan dan menyerahkan sebuah kartu ke arah nathan, sembari mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah ke nathan.
"Ini, dan dompetnya aku ambil dulu untuk jaminan kalo kamu bakal balik lagi!", seru atikah tersenyum jahil.
"Assala...", farhan datang dan tiba tiba atikah tersenyum sumeringah.
"Kebetulan banget nih, bro anterin laki gua balik dulu gih!, nanti gua kasih vocher baca novel sama topup koin", seru atikah tersenyum penuh kemenangan.
Farhan yang baru tiba pun menghembuskan nafasnya kasar dan melambaikan tangannya pelan ke arah afifah dengan senyum tangisnya.
"Dah giiih, lama banget!, inget titipin ke si farhan gaunnya!", seru atikah tertawa jahil, sedangkan para penonton lagi lagi menggeleng dan menghembuskan nafas mereka kasar.
Bersambung...