Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Buku harian raisa



"Siapa yang berani melakukan hal kejam seperti ini pada menantuku!", bunda elfie murka, namun dirinya berhasil di lerai beberapa polisi saat bunda elfie mengamuk.


Seorang wanita muda berumur sekitar 24 tahun nampak was was meremas tangannya yang terasa basah oleh keringat.


Introgasi di muali dari sekitar 8 pelayan ada 3 orang yang menurut para penyidik sangat mencurigakan, pertama seorang wanita berusia 24 tahun, kedua seorang pria yang merupakan koki rumah berumur 37 tahun dan seorang wanita berusia 32 tahun, para penyidik meyakini salah satu dari merekalah yang melakukan pembunuhan.


***


Leonard membuka matanya mendapati samar samar wajah sang istri yang menghilang dari upuk matanya, air matanya tak dapat dia tahan tangisan menjadi pilu dalam relung hatinya.


Air garam yang terus membasuhi kemeja putihnya memberikan bintik putih dari garam garam yang mengeras.


"Mengapa tuhan melakukan ini padaku, kenapa kau ambil istriku ya allah", dadanya terasa amat sesak berusaha menerima kenyataan namun lagi dan lagi air matanya tak dapat dia bendung dan terus menangis.


"Leo?", nathan nampak memasuki kamar rawat inap yang di tempati leonard, leonard memalingkan wajahnya namun dia tiba tiba tertegun saat dua bayi yang di gendong atikah dan nathan, dia menatap mata gadis yang hampir sama dengan raisa, rambut hitam dan kulit putih.


"Bertahanlah untuk putra putrimu leo!", nathan menaruh anak laki lakinya di dekapan hangat dadanya, leonard kembali berurai air mata saat bertatap wajah yang seperti persis layaknya dirinya, dia mengusap pipi putih yang kemerahan putranya dan mengecupnya lembut.


Baik nathan maupun atikah mereka bisa mengerti bagaimana perasaan leonard, dia tidak ingin dulu menceritakan apa yang terjadi sebenarnya pada raisa untuk menghindarkan amarah leonard yang sulit di redam.


"Siapa namanya?", tanya nathan duduk di samping leonard.


"Namanya rayanza attahaya, dan putriku bernama alika attahaya, bundanya yang memberikan kedua nama itu, aku menyayangi kalian, putra putriku", leonard meraih tubuh putrinya yang semula dalam dekapan atikah dan menciumi keduanya.


Nathan tersenyum kecut dia tahu pasti bagaimana raisa dan leonard yang amat menantikan kedua putra putrinya, atikah meraih tangan suaminya dan tersenyum pahit.


"Aku keluar dulu, dan raisa akan di pulasari apakah kamu mau ikut?", leonard mengangguk mendapatkan penawaran dari adiknya.


Tak berapa lama afifah dan beberapa santri perempuan bersama leonard memulasari raisa, atikah tidak ikut di karenakan tengah hamil.


Leonard menatap geming tubuh sang istri yang tengah di mandikan, air matanya merembas kembali bahkan bekas kecupannya tadi malam masih berbekas di leher raisa, rasa sesak memenuhi hati leonard bekas sayatan dari oprasi berbekas di perut raisa, untuk ke sekian kalinya leonard mengecup kening sang istri yang mulai di balut beberapa lapisan kain putih, hatinya meronta ingin bersama raisa namun apalah daya dunia kini sudah memisahkannya dari sang cinta sejati.


Leonard merasa pusing di kepalanya dan terjatuh pingsan tak kala selsai memulasari, dadanya tak sanggup untuk bertahan menopang tubuh yang kini tanpa hati lagi, seakan hatinya ikut mati bersama kepergian istri tercinta.


Semua orang panik saat melihat leonard tergeletak karena semua yang ada di sana perempuan mereka menggusur tubuh leonard karena tak mampu memangku tubuh besar itu, setelah keluar dari ruangan nathan tertegun melihat tubuh sang kakak, di bantu ayah dzikri dan beberapa perawat pria, leonard di angat menuju ruangan tempat dia semula di rawat.


...


Nampak wanita yang amat cantik yang sangat di kenali leonard melambaikan tangan yang sontak leonard menangkap lambaian itu dan memeluk wanita berbaju putih dengan wajah bak terang bagai matahari itu, dia kecup ubun ubunnya dan mendekapnya erat.


"Sayang.. Aku bermimpi buruk!", leonard memeluk wanita itu dengan penuh cinta.


Dia raisa, raisa mengangkat wajahnya menyentuh tangan leonard dengan sangat lembut dan lebih lebut dari apapun benda paling lembut di dunia, dia mengecup kedua tangan suaminya.


"Itu bukan mimpi sayang, relakan aku dan jagalah putra putri kita, beribadahlah yang baik, perbanyak bekal untuk kita bersama, aku memohon padamu suamiku relakan aku, sedekahkan semua barangku yang tertinggal di dunia dan berikan buku yang sering ku tulis kepada pesantren, aku mencintaimu suamiku", raisa perlahan pergi dengan terang yang dia bawa yang kian meredup, leonard berusaha meraih tangan raisa yang kian menghilang namun naas meski dia berteriak hingga suaranya serak dan hampir menghilang pun raisa tidak kembali.


Leonard menatap ke sampingnya dan nampak putra putrinya yang menatapnya dengan mata bening, leonard tersenyum pahit memeluk keduanya, air matanya kembali meleleh menatap keduanya yang kini tak memiliki ibu, bila dia ikut sakit dan tidak bisa tahan pada dunia bagaimana nasib anak anaknya.


Leonard menatap ke arah jendela yang nampak gerimis dan gelap terlihat yang menunjukkan malam telah tiba, leonard tergugu yang mungkin kini istrinya telah di semayamkan.


Malam itu tanpa tidur, leonard mendapti putranya menangis dan tak lama kemudian putrinya pun ikut menangis, keterikatan batin mereka memang sangat erat di ingat keduanya adalah saudara kembar.


Ridwan membuka pintu dan melihat leonard yang sedang bersaha menenagkan kedua anaknya, ridwan mendekat dan membawa dua botol susu di tangannya dan di berikan salah satunya pada rayan, leonard tersenyum menatap ridwan.


"Terima kasih de!", leonard meraih satu lagi botol dan memberikannya pada alika, hingga akhirnya mereka tertidur, ridwan tanpa sadar tidur di samping alika yang sudah pulas tangannya tanpa sadar terus mengelus tangan kecil alika yang memegang tangannya amat erat.


Leonard tertegun menatap ridwan yang nampak nyaman begitu pun alika dan rayan.


Namun sayang dengan matanya yang tak mampu terpejam hanya mampu menatap sendu ke tiga bocah di upuk matanya dengan air mata terus menetes meratap hidupnya yang seakan buntu.


Mata merah dengan mata panda pasti tertera jelas di kedua bola matanya, bunda elfie menatap lembut putranya yang nampak hancur, kehancuran sang putra juga adalah kehancurannya.


Di sini bukan salah raisa atau pun salah leonard, namun sebenarnya adalah salah dirinya yang memiliki begitu banyak musuh hingga akhirnya dia harus kehilangan menantunya yang amat berharga.


Fleshback on.


Bunda elfie mendapatkan hasil pengamatan dari seorang detektif yang amat dia percayai yang merupakan salah satu dari orang yang menyelamatkannya saat dunia ingin menghancurkan keluarganya.


Dia tertegun yang ternyata koki rumahnya lah yang melakukan kejahatan besar itu, sudah lama dia mengincar untuk membunuh seluruh keluarga itu namun sayang raisa seakan jadi pelindung bagi mereka dan malah dialah yang harus menanggung maut yang menjemput.


"Bagaimana nona?", tanya detektif itu dengan rambut yang mulai berwarna keputihan karena usianya yang sudah tidak muda.


"Usut, dan hancurkan akarnya dia hanya sedadu saja, bantu aku membalakan dendam menantuku!", seru bunda elfie.


Pria itu mengangguk menerima perintah dari nonanya.


Fleshback off.


"Nak?", bunda elfie menyentuh tangan leonard yang terasa dingin.


"Ya bunda!", leonard dengan mata sayunya menatap ke arah mata yang menatapnya lembut.


"Mau mendengar sesuatu yang mungkin ingin kamu dengar namun berjanjilah pada bunda mu bila kamu tidak akan membenci bunda", bunda elfie memberanikan dirinya meminta pemdapat dari sang anak.


"Hmm.. Mungkin apa yang ingin ibu ketahui pun aku sudah punya jawabannya!", seru leonard memberikan sebuah buku dengan sampul hitam yang merupakan buku harian raisa.


Bersambung...