Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Di anggap anak



sebuah koper besar di samping leonard yang tanpa hiasan atau tanpa ukiran itu di berikan pada raisa.


"Ini mas kawinnya istri!", ucap leonard berbisik lembut di telinga raisa.


Raisa tersipu menundukkan pandangannya, wajahnya yang menggunakan riasan tipis itu bersemu kemerahan, bunda elfie yang melihat itu terkekeh melihat tingkah raisa yang begitu menggemaskan, begitu pula leonard.


"Sekarang raisa jadi menantu bunda, jadi dia juga putri bunda, ayo sayang pulang!", ajak bunda elfie tersenyum lembut.


"Ide bagus tuh bun!, tadinya mau aku ajak ke apartemen tapi di rumah kayanya lebih aman", leonard mengangguk faham.


"Ya udah yu pulang, biar bunda masak yang banyak!, kita makan besar nanti malam!", bunda elfie sangat antusias.


Raisa tersipu malu, dia meremas tangannya yang terasa dingin, dia amat gugup meski kenyataannya baik bunda elfie ataupun ayah zhiqri mereka semua baik, namun dia tetap saja merasa kecil.


"Kenapa sayang?", leonard menatap istrinya keheranan, memegang tangan raisa yang terasa dingin.


Kata sayang yang di ucapan pertama kali oleh leonard mampu membuat raisa menghangat, bunda elfie mengangkat alisnya, dia tahu betul apa yang dirasakan raisa diapun tersenyum lembut dan mengelus kerudung panjang raisa.


"Gak papa sayang, kita itu keluarga kamu sekarang, jangan takut atau ragu, bunda juga bukan mertua yang jahat kaya di film film kok!".


Raisa mengangguk, dia memeluk bunda elfie dan menitikkan air matanya yang sejak tadi dia tahan, "terima kasih bunda, hiks.. Hiks.. Aku cuma merasa beruntung miliki kalian semua", raisa sesegukkan di pelukan bunda elfie.


Air matanya jatuh dan merusak riasan wajahnya, leonard tersenyum lembut, "ahh.. Sayang riasannya luntur tuh, mau di tambah lagi gak?", leonard berusaha membawa kedua wanita itu kedalam canda.


Bunda elfie melotot ke arah leonard, "aku kasian sama raisa loh, kenapa punya suami gitu amat ya?", bunda elfie sangat ingin menjewer telinga putrinya namun karena masih di tempat umum dia mengurungkan niatnya.


Raisa terkekeh mendengar ucapan bunda elfie, "hmm.. Bunda suamiku itu suami yang paling idaman bagaimana mungkin kasihan, ada juga dia yang kasihan punya istri seperti aku bunda!", raisa mengecilkan dirinya di depan keduanya.


"Kalo bunda punya putri macam kamu sayang udah bunda kunci di rumah gak bakal di biarin kenal berandalan macam dia!", bunda elfie menunjuk ke arah leonard.


"Bunda jahat!", ucap leonard cemberut.


"Bunda?, boleh tidak malam ini aku nginepnya di apartemen kak leo dulu?", raisa memohon dengan wajah memelas.


"Kenapa?", bunda elfie mengangkat alisnya tidak mengerti.


"Hmmm.. Bunda, aku dan kak leo belum saling mengenal satu sama lain bahkan aku tidak tahu apa saja yang di sukai dan tidak di sukai kak leo!, bila tinggal bersama bunda banyak kemungkinan yang tidak aku sadari karena bunda menghendelnya, bunda aku ingin belajar menjadi istri yang baik!", ucap raisa menundukkan wajahnya.


Leonard yang mendengar itu melayang entah kemana dadanya berdetak sangat kencang, bunda elfie tersenyum lembut dan mengangguk setuju, "baiklah, tapi kenapa di apartemen bukannya kamu punya vila leo?", tanya bunda elfie penuh selidik.


"Vilanya udah aku bakar sebulan yang lalu bun, bensin aja ngabisin 50 liter buat ngebakar tu vila sampe jadi abu semua, sekarang aku lagi ngebangun lagi di pinggir kota di dekat taman hijau", alasan leonard membakar vila itu karena vila itu di penuhi memori dari eki dan setelah putus dan bertemu raisa leonard membakar vila itu tanpa sisa.


"Sadis kamu, tapi bunda suka!", bunda mengacungkan dua jempolnya tanda like.


"Kok di bakar kak?", raisa mengangkat alisnya tidak mengerti.


"Ya iya di bakar, vilanya udah rusak dari pada nyelakain orang dan digunakan zinah sama yang tidak bermodal mendingan di bakar, tapi di taman hijau itu aduuuh idaman bunda banget, nanti kamu lihat deh calon rumah kamu pasti kamu juga suka", ucap bunda elfie tersenyum membayangkan.


"Aku beli tanah di sana karna istriku suka bunga, jadi aku juga mau buat taman bunga di taman hijau biar makin cantik", ucap leonard bangga.


"Lah terus kalo tanah yang di gunung cemara itu gimana?".


"Udah aku jual, uangnya aku sumbangin ke panti, aku rasa itu lebih berguna!", ucap leonard malas sekali mengingat ingat vila itu.


"Bagus!, kamu memang anak bunda!", bunda elfi mengacungkan kembali dua jemopolnya.


***


Di perjalanan terjadi kekakuan, tidak ada yang terucap dari keduanya hingga sampai di parkiran apartemen, leonard mengambil koper besar di bagasi mobilnya, leonard memperhatikan raisa yang nampak risih dengan kebaya panjangnya.


"Mau di bantuin?", leonard menawarkan jasanya namun raisa menggeleng dan memegang setiap ujung kebaya itu dan berjalan di samping leonard.


"Risih banget!", leonard dengan sebelah lengannya mengangkat tubuh mungil raisa dan menariknya kedalam pelukannya, "jangan nolak!", leonard menyela saat melihat raisa akan protes.


Raisa mengangguk dan melingkarkan tangannya di leher suaminya, leonard tersenyum lembut mendapati pelukannya tanpa penolakan untuk pertama kalinya.


Mereka sampai di sebuah lift, leonard melepaskan genggaman koper di lengan kananya dan memijit angka 12.


Leonard memeluk raisa menggunakan kedua tangannya, wajah mereka beradu pandang, raisa tidak menghindar meski menahan malu yang luar biasa, "terima kasih kak!", raisa mengucapkan tiga kata itu dengan tulus dari hatinya.


Leonard ingin sekali mengecup bibir mungil berwarna merah muda milik raisa namun dia urungkan saat melihat pintu lift sudah terbuka, leonard kembali menyeret koper besar dan tubuh mungil raisa.


Leonard menurunkan tubuh raisa mengetik beberapa angka mengklarifikasi sidik jari sebagai kunci masuk, leonard memasangkan identitas baru di kunci apartemennya, "sayang pinjam jempolnya", leonard meraih tangan raisa dan menaruhnya dia atas pendeteksian hingga akhirnya berhasil.


Leonard membuka pintu, "selamat datang di rumah istriku", leonard dengan manis membuka pintu.


Sebuah diding ber cat putih dengan sebuah kursi mahal dan berbagai ornamen lainnya menghiasi apartemen itu seperti bekas makanan piring cucian yang belum di cuci, dan lantai yang bersih namun berceceran bekas makanan ringan.


Raisa menggeleng menepuk jidatnya, rumah yang layaknya kapal pecah dengan pakaian kotor berserakan, leonard tersenyum lebar mengusap tengkuknya yang terasa meremang berusaha menelan malu di mulutnya.


Adzan asar berkumandang nyaring, raisa menghembuskan nafasnya kasar, dia harus bekerja keras di hari pertamanya pindah rumah.


"Disini kamar kita!", leonard membuka pintu dan terlihat kasur yang berukuran besar dengan selimut yang berceceran dan bantal yang berada di mana mana membuat raisa menelan salivanya.


Raisa tersenyum sekilas karena tidak ingin menyinggung suaminya, "kak suka ada tamu gak ke sini?", raisa bertanya memastikan.


"Tidak ada, ini tempat rahasiaku!", raisa mengangguk mengerti, raisa membuka lemari di kamar tersebut, dan untunglah lemari leonard cukup rapih, raisa mengambil sebuah suwiter leonard, "aku pinjam ini ya kak!", raisa menuju sebuah pintu yang menurut intuinsinya kemungkinan adalah kamar mandi, raisa masuk dan untunglah kamar mandi juga cukup rapih.


Leonard terpaku, dia berfikir apakah istrinya akan marah atau tidak melihat apartemen nya yang berantakan seperti itu, tak berapa lama raisa keluar dari kamar mandi dan terlihat sudah membersihkan wajahnya dan mengambil air wudhu dengan menggunakan kerudung putih rok batik yang semula dia kenakan dan baju suwiter milik leonard.


"Ayo kak kita sholat asar dulu!", ajak raisa setelah keluar kamar mandi, leonard mengangguk, selama leonard di kamar mandi raisa merapikan kasur dan bantal beserta selimut yang berantakan di kamar itu hingga terlihat lebih rapih, raisa membuka koper yang semula leonard bawa, di sana terdapat uang yang hampir memenuhi seluruh koper, raisa mengambil sebuah mukena dan sejadah yang di gunakan leonard sebagai maskawin untuk raisa.


Leonard keluar dari kamar mandi dan dilihatnya sang istri yang sudah mengenakan mukena.


Mereka melakukan sholat berjamaah asar, setelah selsai raisa mengecup lembut punggung tangan leonard dan dihantam sebuah kecupan di kening raisa dari leonard.


"Kak cape ya?", tanya raisa melihat mata leonard yang memerah, leonard menjawab dengan anggukan, "gak papa sekarang sini tidur!", raisa menepuk pahanya meminta suaminya untuk tidur di sana, leonard mengerti dan tidur di pangkuan istrinya.


Raisa melantunkan ayat ayat suci dan dirasakan ketenangan luar biasa di hati leonard, dia menjadi tenang dan terlelap di pangkuan istrinya.


Raisa tersenyum saat mendapati leonard tertidur, raisa perlahan beralih mengangkat leher leonard dan menaruhnya, raisa mengambil bantal dan selimut tebal dia menyelimuti tubuh suaminya dengan selimut besar itu, dan memberikan ganjalan di kepala dan leher leonard menggunakan bantal.


Menatap wajah tampan di hadapannya hampir membuatnya tak percaya bila dia telah menikah, raisa mengelus rambut leonard dan mengecupnya sekilas.


Raisa melepaskan mukena yang semula dia kenakan dan merapikannya, rasa keram mulai menjalari perut raisa dan memilih terdiam sejenak di samping suaminya.


Bersambung...