
Raisa terbangun, tingkat kesadaran raisa yang tinggi dan dia selalu melatih jantungnya untuk tidak terkejut membuatnya menyadari posisinya malam ini, "selamat pagi suami!, ayo bangun sholat dulu", raisa mengecup kening suaminya.
Leonard menggeliat dan memeluk istrinya, "disini dulu ciumnya", leonard menunjuk bibirnya dan tersenyum lembut.
Cup, raisa mengecupnya lembut dan bangkit dari tidurnya, leonard terkekeh melihat gelagat istrinya yang langsung menghilang dari kamar, leonard menunaikan sholat subuh dengan keheningan, raisa memasak di dapur dan menyibakkan gorden melihat remang remang cahaya yang mulai terlihat.
Rentetan cahaya yang mulai padam menandakan malam mulai beranjak dari peraduan, pagi yang biasa bagi sebagian manusia namun tidak dengan leonard, dia merasakan hatinya terbang menatap indah wajah teduh yang menyihirnya untuk jatuh cinta tanpa jeda, lagi lagi dan lagi dia kembali dan terus berulang kali jatuh cinta pada wanita di upuk matanya.
Leonard menatap pujaannya di ambang pintu, berjalan dan duduk di kursi makan memperhatikan langkah istrinya, yang membuatkan teh hangat untuknya, leonard tersenyum hal yang paling di impikan dalam hidupnya benar benar terjadi, kini tidak ada lagi alasan untuknya untuk tidak bersyukur atas apa yang menimpanya.
"Terima kasih istri", leonard tersenyum saat istrinya membawa teh dan sebuah kue basah yang terlihat baru di buatnya.
"Sama sama suami!", raisa kembali ke dapur dan melihat nasi bekas tadi malam, dia mengambilnya hingga habis dan dihangatkan di atas kompor, tak lupa raisa menyiapkan beberapa bahan untuk membuat menu sarapannya pagi ini hingga matahari terlihat, raisa menata masakannya di atas meja yang serba sedikit tapi cukup beragam.
Leonard terus tersenyum memandangi istrinya yang tidak berhenti bergerak, "mau tanya boleh?", leonard menatap gerakan istrinya yang terus mondar mandir menata makanan, "boleh, tanya saja!".
"Kenapa kamu seperti tidak terkejut dengan kehidupan baru mu?", raisa mengangkat alisnya tak mengerti meminta penjelasan lebih terperinci, "begini sayang biasanya wanita yang baru menikah akan condong lebih terkejut dengan dunia barunya, contohnya saat bangun tidur akan teriak dan berdiri lalu bertanya, kenapa kamu tidur di ranjangku!?, atau saat terkejut karena aku memelukmu diam diam atau sejenisnya gitu!, maaf kalo gak jawab juga gak papa aku cuma penasaran", leonard tersenyum lembut.
"Hmmm.. Mudah si aku memiliki ingatan yang sedikit tajam dan tingkat kesadaran tinggi meski aku sangat terpaku pada kebiasaan tapi aku sudah sangat bersiap untuk menjadi istrimu, jadi aku memang terpaku karena kebiasaan namun aku sudah cukup persiapan, seperti itu!, nah contohnya begini kenapa kakak juga tidak terkejut saat aku tiba tiba ada disini bukankah itu hal yang sama?, jadi tingkat kesadaran dan ingatan kakak juga sangat sensitif sehingga tidak berteriak seperti yang kakak katakan!", raisa menafsirkan pikiran dirinya yang sebenarnya, awalnya memang sedikit takut bersama orang baru berada satu atap, namun melihat sifat manis leonard dia pun dapat menyimpulkan baik dirinya atau leonard memiliki banyak kesamaan dan itu cukup memudahkannya untuk membuat suasana menjadi tidak canggung.
"Hmm... Ya masuk akal, aku hanya terkejut saat melihat kamu tanpa kerudung dan tengah memasak dengan nyaman, kamu juga tidak memberikan penolakan bila aku sentuh, tidak seperti biasanya", ucap leonard mengambil piring untuknya.
"Kalo kakak gak suka aku gak pake kerudung, aku akan pakai kerudung dimanapun bila begitu, tinggal bilang aja yang tidak kakak sukai dari aku kak!, biar aku bisa memperbaiki diri sendiri", ucap raisa berdiri dari duduknya untuk mengambil kerudungnya di kamar.
"Ambil kerudung, kakak gak suka kan liat aku kaya gini!", ucap raisa berjalan melewati leonard.
"Bukan begitu sayang!, aku suka kamu seperti ini, bahkan sangat suka", leonard berhasil menarik lengan raisa dan mendudukkannya di paha kokohnya.
"Terus apa yang tidak di sukai?", raisa menaikan alisnya tidak mengerti.
"Semuanya aku suka!, sangat suka!, dan aku tidak tahu harus mengatakan rasa cintaku sekarang bagaimana sayang, aku hanya ingin membuatmu bahagia dan hidup bersama sampai tua itu saja", leonard mengecup kening istrinya lembut.
"Cuma sampe tua!, simple banget!, aku maunya lebih tau!", raisa menyunggingkan bibirnya.
Leonard mengangkat alisnya, "lebih?, maksudmu sayang?", leonard masih belum mengerti maksud terselubung raisa.
Raisa tersenyum lembut, " ayo kita bangun surga kita di akhirat suami?", raisa memeluk suaminya dan di barengi anggukan dari leonard, leonard terasa menjadi pria paling sempurna di dunia memiliki istri yang dapat memahaminya dan tidak mengeluh dengan apapun, bahkan dengan kondisi rumah yang acak acakan pun raisa tidak mengeluh dan merapikannya.
"Terima kasih istri", leonard menyelipkan rambut yang terjuntai ke telinga raisa.
Raisa tersenyum dan mengangguk, mereka mengawali sarapan mereka dengan hikmat, hingga semua makanan di atas meja habis semua, leonard yang tidak biasanya makan banyak kini malah makan banyak.
Bersambung...