
"Sayang...", alika dengan manjanya memeluk sang suami yang tengah mengeringkan cucian, rama tersenyum lembut mendapati sebuah tangan melingkari perutnya.
"Kenapa sayang?", tanya rama saat alika menyembunyikan wajahnya di punggung bidangnya.
"Sayang apakah suamiku punya pekerjaan?", tanya alika melihat suaminya yang memang tak pernah bekerja selama di taman hijau.
"Memangnya kenapa?", rama hampir tertawa mendapati pertanyaan yang membuatnya tergelitik itu.
"Apa suamiku tidak apa apa mempekerjakan begitu banyak penjaga dan supir, alik takut bila suatu hari uang suami alik habis dan tidak dapat membayar gaji mereka", alika merengut mempererat pelukkannya.
"Feet, tenang saja sayang jangan takut kekurangan suamimu ini berjanji tidak akan membuat istriku kekurangan apapun", ucap rama menahan tawa, alika mengangguk membuat rama gemas dengan tingkah istrinya.
Rama berbalik menatap wajah istrinya yang menunduk, "kenapa masih merengut gitu?", tanya rama mencubit pipi sang istri.
"Sayang, bolehkan adinda mengandung dan melahirkan seorang anak untuk kakang?", alika dengan wajah memelas dan pipi yang di manis maniskan memohon pada sang suami.
"Feeet... Hahahah..", rama tak tahan menahan tawa saat ucapan itu keluar dari mulut istrinya.
"Tentu saja sayang, aku tidak akan keberatan, malah sangat senang bila memang istriku sudah siap, aku sangat menunggu kedatangan putra atau putri bila istriku tersayang ini sudah siap", ucap rama mendekap istrinya erat.
"Mau lagi?, biar cepet ada bayi di perutnya?", goda rama dan membat wajah alika memerah menahan denyutan hebat yang kian merembas dan memanaskan pipinya.
"Aa ..h.. Alik mau buat kue aja!", alika menjauh dan membuat rama terkekeh melihat kelakuan istrinya.
Alika menjauh pergi dari sisi suaminya dan meluncur ke dapur mempersiapkan setiap bahan untuk membuat kue, menghindari kejadian yang mungkin akan membuatnya lemas dan tidak mampu untuk berdiri lagi.
...
"Bagaimana?, kau sudah menemukan jejak putra dari kak nathan?", tanya rama saat di rasa istrinya telah pergi menjauh, dia memang tengah mengarahkan beberapa pasukannya untuk mencari jejak dari putra nathan yang di katakan dulu masih bayi dan baru saja beberapa hari lahir.
Dia tidak menjadi korban dari keganasan musuhnya karena menurut informasi yang di dapatkan rama, bila putra nathan selamat dan di bawa oleh seorang pria yang merupakan bawahan setia nathan.
"Tidak tuan, kami tidak menemukan apapun", seru pria dari sebrang telpon.
"Fiyuuuh, itu berarti dia baik baik saja dan mereka berhasil berkamuflase dengan baik dengan lingkungan mereka hingga tidak menimbulkan kecurigaan", rama menghembuskan nafasnya kasar, meski dirinya tidak mendapatkan apa apa namun para penjahat juga sudah luluh lantah dan hanya tersisa beberapa orang kecil saja, dia amat beryukur bila anak buahnya tak menemukannya itu tandanya musuhnyapun belum menemukan keberadaan dari putra nathan.
...
Alika yang tengah membuat kue amat kepanasan saat mengenakan pakaian tertutup, dia akhirnya meluncur ke kamar dan kembali dengan pakaian yang terbuka, dia membuat kue dengan senandung lembut dan penuh kegembiraan.
Mungkin ini adalah karakter yang turun dari sang ibu yang hobi membuat kue, alika membuat campuran gula halus dan mentega untuk menghias kuenya dengan aneka warna.
Alika kembali tersenyum saat mendapati perlengkapan rumahnya yang sangat mendukung, dia membuat ukiran bunga rose dan daun dengan aneka warna di atas kue buatannya, dia juga tak lupa membuat beberapa kue kering untuk cemilannya.
Dengan mulut yang berisi kue kering rasa coklat tang masih nongol sepotong di ujung bibirnya membuat rama gemas saat menatap istrinya dari kejauhan.
"Hmm, huft..", rama memakan langsung kue itu dari bibir alika oleh bibirnya, alika melotot menatap mata di hadapannya yang tengah mencuri makanannya.
"Kenapa malu malu gitu?", tegur rama membuat alika semakin salah tingkah dan mengambil loyang panas yang baru dia ambil dari oven dengan tangan kosong.
"Aw.. Aw... Ssst.. Panas", rama melotot melihat kecerobohan istrinya dan mengambil lengan sang istri dan membawanya ke wastafel untuk dia guyur dengan air dingin.
"Ceroboh banget!", rama memegangi tangan alika, dan membuat wajah alika semakin memanas mendapatkan perlakuan manis dari suaminya.
Rama mematikan air saat dia rasa cukup dan melihat tangan alika yang baik baik saja dan menghembuskan nafasnya lega, "kalo melakukan sesuatu harud hati hati jangan ceroboh, lihat korban kecerobahannya, bagaimana jika melepuh, untung saja baik baik saja, kedepannya jangan memasak atau membuat kue lagi, dasar ceroboh!", cecar rama membuat alika merengut dan bersedih, dia tak ingin membantah saat ini karena sudah pasti dia tidak akan menang berdebat dengan suaminya.
"Maaf!", ucap alika lirih membuat rama kembali di hantui rasa bersalah karena memarahi istrinya.
"Hmmm, sayang aku tahu kamu sangat senang saat membuat kue, tapi perhatikan keselamatan juga, maaf aku melakukan ini juga demi kebaikan kamu sayang", ucap rama mengelus penuh sayang tangan di hadapannya.
Alika tergugu menatap kekhawatiran suaminya.
Cup, sebuah kecupan di berikan alika di pipi kanan rama, rama tersenyum dan menatap wajah yang merona di hadapannya.
"Sedang membujuk?", tanya rama yang sudah tahu keinginan istri tercintanya.
Alika mengangguk lembut dengan wajah yang masih menunduk malu, rama terkekeh menatap bagaimana sifat manis sang istri dengan sebuah pemandangan indah di bawah leher sang istri yang nampak berdesakkan.
Glek, rama meneguk salivanya menahan hasrat pada dirinya dan merasakan sebuah benda yang mulai bangun dan merangsak ingin di puaskan.
"Sayang, alik bolehkan buat kue lagi?, alik janji gak akan ceroboh lagi!, dan alik akan berhati hati", alika berusaha menggoda suaminya dan membuat sang suami luluh dan memenuhi keinginannya.
"Apa bayarannya?", tanya rama mengangkat dagu sang istri yang nampak tersipu.
"Apapun yang alik punya kalo suami mau, tapi tolong beri ijin pada istrimu untuk memasak dan membuat kue ya?", alika memberanikan diri melingkarkan tangannya di leher sang suami di saat mungkin dirinya akan kembali kelelahan di malam ini.
"Fyuuuh, baiklah!, ingat akan ku minta bayarannya..", belum selsai rama mengucapkan kalimat terakhirnya lantunan adzan asar berkumandang, alika tersenyum dan memalingkan tubuhnya mematikan oven yang telah kosong dan berlari ke kamarnya dia mandi dan mengenakan mukena setelah berwudhu menunggu sang suami untuk berjamaah.
Mereka melakukan sholat ashar berjamaah dengan hikmat, alika menyalimi dan memohon maaf pada sang suami setelahnya dan rama amat bersyukur mendapatkan sosok wanita hebat di hadapannya, dia mengecup lembut kening sang istri dan berpelukan setelahnya.
"Jangan tinggalkan aku sayang!", ucap rama lembut, alika tergugu dengan air mata yang mengaliri pipinya memeluk erat sang suami, bagaimana mungkin dirinya meninggalkan suami sempurna seperti rama, dia saja merasa sangat kecil saat di sandingkan dengan rama.
"Kita ke pemakaman ayah dan ibu ya, kita minta restu mereka untuk rumah tangga kita", ucap rama penuh sayang mengusap lembut kepala sang istri.
"Baiklah, alik juga rindu, sangat rindu dengan mereka", ucap alika tersenyum lembut penuh arti dan kebahagiaan yang terpancar di matanya.
Rama tersenyum menyapu air mata yang sempat meleleh di pipi sang istri, "iya sayang", rama tahu pasti bagaimana perasaan alika.
Alika yang sejak kecil tumbuh tanpa ibu dan akhirnya ayahnyapun meninggal untuk melindungi mereka, tapi dia kuat dan menjalani harinya penuh tawa meski terkadang hati rama pun terasa tersayat saat alika menangis memeluk pakaian ayah dan ibunya diam diam yang ada di taman hijau.
Bersambung...