
Raisa di bantu bunda elfie duduk di kursi roda untuk menuju kamar jenazah dan melihat untuk terakhir kalinya wajah cantik yang sudah membesarkannya dan menemaninya, leonard siaga di samping kursi roda untuk menghindari kecelakaan yang tidak terduga, rasa gugup mengitari pikiran raisa, bagaimanapun dia dilayani untuk pertama kali bukan oleh ibunya.
Raisa berhasil duduk di kursi rodanya di dorang oleh leonard menuju kamar jenazah, susana menjadi dingin seketika.
Air mata raisa kembali tak terbendung saat menatap wajah sang ibu, "sudah ikhlaskan de", kata itu tiba tiba keluar dari bibir leonard, tak dapat di pungkiri rasa yang menusuk mencecarnya di sanubari.
Raisa mengangguk setelah perpisahan dalam diam, hanya do'a yang teruntai di lubuk hatinya, artian kehilangan dapat di tafsirkan dalam lelehan air mata yang tidak kunjung mengering, dia kembali ke kamarnya, membaringkan tubuhnya yang terasa melayang, entah mengapa jasadnya terasa rapuh tanpa ruh, bunda elfie yang dapat mengerti kesedihan hati raisa mengelus pucuk kepalanya penuh sayang, "kita berwudhu dulu ya sayang!, ketenangan pasti di dapat dari terang yang di berikan sang penguasa alam", raisa mengangguk mencengkram erat tangan lembut bunda elfie kembali melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
Leonard menatap geming kepergian dua wanita beda generasi itu, terlihat siluet membayangi bibirnya, rasa syukur terpancar dari sanubari terdalamnya, tidak ada rasa hancur yang sempat hinggap semula di hatinya.
...
Raisa memutuskan untuk menyemayamkan ibunya besok pagi, jam dinding menunjukan jari terpendek nya ke angka 12, raisa tidak mengantuk sama sekali air matanya terus berjatuhan, rasa kehilangan yang mendalam di tinggalkan oleh orang yang terkasih adalah hal yang paling menyedihkan.
Bunda elfie pamit kembali pulang karena takut putra bungsunya akan mencarinya dan menangis, dirinya telah membatu raisa untuk menunaikan sembahyang sebelumnya, dan dia juga sudah mewanti wanti leonard untuk jangan melakukan hal konyol.
Hingga suasana kembali hening saat bunda elfie pergi kini hanya ada leonard dan raisa saja.
Leonard amat mengerti dengan kondisi raisa, dia juga tau kehilangan seseorang yang paling berharga dan satu satunya kerabat di dunia, itu pasti sangat menyakitkan, malam itu leonard pun tidak tertidur dia mendengarkan tangisan raisa di ranjang, leonard mungkin akan memeluk orang di hadapannya bila dia bukan raisa, bukan karena tidak ingin tapi rasanya tidak pantas.
Suara air ber gemercik, menyentuh beberapa anggota tubuh raisa, raisa membuka pintu dan alangkah terkejutnya saat leonard berdiri di depannya.
"Bisa gak si jangan buat orang khawatir!?", leonard ingin memapah raisa namun raisa menggeleng.
"Maaf kak aku sudah ada wudhu, kita sholat berjamaah yu?, aku tunggu di sana!", raisa tersenyum lembut dan berjalan menuju katifah, terdapat sejadah dan mukenanya menunggu untuk dikenakan.
"Dah biar aku aja, kamu tunggu dulu", leonard mengambil sejadah dan mukena raisa, terjuntai lah sejadah di hadapannya tergerai di atas katifah untuk menjadi alas duduk raisa.
Raisa tersenyum kaku, dia memang sedikit takut mendapatkan perhatian berlebih seperti ini, namun dia juga tidak bisa menolak karena ucapan dan perlakuan leonard serentak, hingga tidak sempat untuknya berkata kata.
Leonard ke kamar mandi mengambil air wudhu dan mulai mengimami raisa, di dalam hidupnya, ini adalah pertama kalinya dia menjadi imam, setelah salam terucap leonard berbalik menghadap raisa.
Karena kebiasaan dengan sang ibu raisa mengambil lengan leonard dan mengecupnya lembut, leonard terbelalak mendapatkan sebuah perlakuan di luar ekspektasinya.
Deg..deg..deg.. Jantung leonard terpompa amat cepat, repleks tangannya mengelus lembut kepala raisa entah dari mana asal kenyamanan di hatinya namun dia sangat ingin selamanya merasakan getaran itu, dia juga sangat menikmati suasana yang tercipta tanpa sengaja menjadi pengalaman indah dalam memori kepalanya.
Bersambung...