
Raisa melihat lemari tidak di dapati satupun pakaian suaminya hanya ada pakaian dalam saja dan lemari di sebelahnya yang hanya berisi pakaian pakaian yang sangat tipis.
Alika menggigit bibir bawahnya, apakah hari ini benar benar dirinya tak dapat lolos, dengan terpaksa alika mengenakan pakaian terbuka yang tersedia dan mengeringkan rambutnya.
Alika mengepang sedikit rambutnya setelah sedikit merias wajahnya yang cantik namun rama tiba tiba muncul di belakang alika dan menghirup aroma lembut dari rambut alika, rama dengan wajah yang memerah dan mata yang kian sayu kian terbakar nafsu.
"Apa kamu benar benar siap sayang?", bisik rama lembut di telinga alika, alika merinding bukan main.
Alika sedikit mengangguk dan kembali menjepitkan hasil kepangannya di rambut belakangnya, rama menghentikan alika dan menguraikan kembali rambut hitam kecoklatan itu, rama menyingkirkan rambut alika yang menghalangi leher jenjangnya.
"S..sa..yang.. Pelan pelan ya!", Seru alika, wajah rama memanas.
"Apa tadi?", tanya rama lagi ingin kembali bisikan manja istrinya.
Alika yang mengerti berbalik badan dan memeluk rama dengan rambut yang masih basah alika berbisik manja, "pelan pelan ya sayang..", seru alika, wajah rama memanas dan perlahan mengecup kening alika.
Alika menutup matanya merasakan desiran lembut di tengkuknya yang meremang akibat sentuhan jari jari rama, "ta..tapi ini masih siang!", bisik alika mengangkat wajahnya kemudian.
"Apa bedanya siang atau malam, aku tidak akan melepaskanmu hari ini", ucap lagi rama mulai menikmati setiap lekuk bibir alika.
Tubuh alika kian menegang saat sebuah lengan nakal mulai menyatroni sebuah belahan di bawah lehernya, tubuh alika seakan tersengat aliran listrik berkekuatan 7000 mega volt.
"Paman kenapa paman seperti ini?", alika meraih tangan suaminya yang sudah berada di balik baju tipisnya.
"Kenapa bertanya seperti itu?", tanya lagi rama melihat sebuah raut dari wajah alika yang terlihat cukup aneh dalam pandangan dari pertanyaan yang alika ajukan.
"Bolehkah alik minta keterangan berkelanjutan sebelum melanjutkan ini?", alika menyingkirkan tangan rama yang sudah mulai memanas.
"Keterangan apa sayang?", rama makin gemas dan tak sabar menyantap tubuh alika yang nampak sangat mempesona seperti hutan yang belum terinjak manusia petualangan yang menegangkan akan di lakukan rama.
"Apa paman benar benar mencintai alik?, atau paman terpaksa?", rama terkekeh mendengar pertanyaan itu, yang memang pada dasarnya sangat sama dengan pertanyaan yang pernah di ajukan oleh rayan.
"Aku sangat mencintaimu sayang", bisik rama di sela sela rambut alika di tepi telinga yang sontak meremang merasakan sebuah rangsangan.
"Nekat seperti apa?", tanya rama penasaran melihat pipi alika yang memerah.
"Aku akan menculik paman!", seru alika tersenyum lembut mengecup kening suaminya.
"Waah pengen dong paman di culik!", seru rama memeluk dan mengangkat istrinya ke atas pahanya membawanya ke tengah ranjang.
"Alik sayang paman!", alika melingkarkan kedua tangannya di atas pundak kokoh suaminya yang terasa panas.
"Aku juga sangat menyayangimu sayang!", ucap rama mengecup leher jenjenag nan putih di tepi matanya.
"Paman, bila aku sudah tahpidz 30 juz dan menjadi seorang hafidzoh apa yang akan paman berikan ke alik?", tanya alika kembali menjauhkan diri dari rama untuk memperkuat mentalnya terlebih dahulu.
"Memang apa yang kamu inginkan sayang?", rama menengadah menatap alika yang berada di atas wajahnya.
"Alik mau masuk universitas dan mau belajar, alik mau jadi seroang dokter paman apa boleh?", alik dengan wajah manisnya memelas penuh harap.
Rama mengangguk dan mendekap erat tubuh mungil nan indah di depannya, "itu keinginan mulia sayang, bagaimana mungkin aku menolaknya", rama tersenyum lembut memberikan izin pada istrinya.
"Alik sayang paman!", alika menghambur memeluk pamannya hingga rama tersungkur di atas kasur, alika yang menyadari posisinya yang berada di atas tubuh sang suami menjadi gugup dengan perlahan alika ingin bangkit namun lengannya kembali di tarik rama.
"Jangan gugup sayang, aku suami kamu sekarang, dan satu lagi mulai sekarang tolong jangan panggil aku paman karena aku suamimu sekarang", alika tertegun dia mengangguk dengan rona di pipinya.
"Jadi apa aku benar benar akan mendapatkan jatah?", tanya rama dengan seringai licik penuh makna.
Alika mengangguk dan tersipu malu dia sudah cukup memperiapkan mentalnya hingga sekuat baja menghadapi apa yang akan di lakukan orang yang kini hak memilikinya.
"Tapi...tapi.. Jangan kasar dan harus pelan", lirih alika dengan gugup memenuhi sanubarinya, rama terkekeh mendengarkan keinginan istrinya.
Rama mengangguk menarik istrinya mendekapnya erat berusaha meyakinkan istrinya yang masih perawan untuk percaya padanya.
Bersambung...