Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Tamu tak diundang



Raisa keluar kamar melepaskan kerudungnya, raisa mengikat rambutnya dan mulai mengecek beberapa alat kebersihan, sabun lantai, hingga kantong keresek hitam untuk sampah, raisa mengangguk saat menemukan semuanya.


Raisa mulai mengambil baju yang berserakan dan mencucinya di mesin cuci, raisa menyalakan penyedot debu dan membersihkan sela sela sofa bekas makanan ringan, memisahkan sampah organik dan non organik, setelah menyelesaikan itu raisa mulai menyapu dan mengepel lantai hingga kinclong.


Raisa melihat dapur yang sangat berantakan dia mulai merapikan piring piring yang berserakan, mencuci dan merapikannya, raisa kembali membuka lemari es dan di lihatnya barang barang yang berserakan, raisa mulai merapikan dan membersihkannya, beberapa bahan masakan masih bisa di gunakan raisa mulai memasak dengan senandung lembut sholawat di bibirnya.


Greb.. Sebuah pelukan menempel di tubuh raisa, "sudah bangun?", raisa yang tahu bila itu suaminya bertanya dengan lembut.


"Gak kaget?!", suara leonard terdengar serak khas bangun tidur, "buat apa kaget?, kakak bilang ini rumah tempat persembunyian kakak jadi selain kakak siapa lagi!", jelas raisa yang memang tingkat kesadarannya sangat tinggi.


"Masak apa?", leonard bertanya dan enggan membuka matanya yang wajahnya dia taruh di atas pundak raisa, leonard menyesap aroma harum dari rambut raisa yang baru pertama di lihatnya saat gadis itu dewasa, merasakan belaian lembut rambut indah itu di atas wajahnya.


"Cuma ada iga sapi, dan sawi di lemari es, juga ada mie, jadi aku buat iga sapi saus manis pedas dan sawinya aku tumis aja, kalo mie gak aku pasak", raisa melihat nasi di rise cooker yang sudah matang.


"Lapar gak?", tanya raisa menyentuh pipi leonard yang terasa sangat manja.


"Suapin!", raisa mengerutkan dahi melihat sifat suaminya yang sangat berbeda dengan sebelumnya, suminya sangat manja, berbeda dengan sebelumnya yang terlihat lebih dewasa dan bertanggung jawab.


"Ya sudah duduk gih!, tapi tolong cicipin dulu ya!", seru raisa menyodorkan sebuah sendok ke depan mulut suaminya, leonard memakan suapan itu dan mengacungkan jempol.


Raisa mengangguk dibarengi dengan leonard yang duduk di kursi makan yang mengarah menuju pemandangan kota yang mulai senja,


Sungguh penomena yang sedap di pandang, rimbunan gedung yang menjulang bermandikan cahaya jingga kemerahan, sungguh kesempurnaan sore yang amat sulit di ibaratkan, raisa menata masakannya di atas meja dan menyuapi leonard.


"Sayang?, kenapa gak makan?", leonard keheranan saat istrinya hanya menyuapinya saja.


"Heheh belum adzan maghrib kak, nanti makannya habis adzan magrib", ucap raisa memberikan suapan pada suaminya, leonard memegang tangan mungil istrinya.


"Sayang, kamu lagi puasa?", leonard bertanya penuh selidik.


"Insyaallah, ya meski hari ini di penuhi banyak emosi dan kalo secara hati kayanya udah batal dari pagi", raisa tersenyum lembut, leonard mengambil sando di tangan sang istri dan menggenggam tangan kecil yang hanya seukuran tiga jarinya itu, mengecupnya lembut dan menaruh di pipinya.


"Maaf sayang aku gak tahu!", raisa mengangguk mendengar permintaan maaf dari suaminya, wajah raisa memerah saat lengannya di elus lembut oleh leonard.


Adzan magrib berkumandang, raisa mengucapkan hamdallah, membaca do'a, dan meminum air putih, dia makan secukupnya dan terbilang sangat sedikit, begitupun leonard yang memakan makannya sendiri tanpa di suapi, raisa dan leonard menunaikan sholat magrib berjamaah dan bersenda gurau sesudahnya hingga adzan isya berkumandang mereka kembali mengambil air wudhu dan sholat berjamaah.


Raisa ke luar kamar dan merapikan bekas makannya, perutnya terasa ngilu dan keram, raisa meringis kesakitan, "aduh tamu bulanan mau datang", raisa memeluk perutnya sendiri.


"Kenapa sayang?", leonard terkejut saat mendapati istrinya tengah meringis kesakitan.


"Kak!, dari sini jauh gak kalo ke mini market atau warung gitu?", leonard mengangkat alisnya.


"Emang kenapa gitu?", leonard penasaran dengan apa yang terjadi.


"Aku mau beli barang kak!", raisa memegang perutnya yang sangat menyakitkan.


"Barang apa?, biar aku aja yang beli", leonard mendekat ke arah raisa memegang perut kecil itu.


"Kalo kakak kayanya gak akan bisa, biar aku aja!, kakak bisa anterin aku kalo jauh", ucap raisa berjalan dengan membungkukkan badannya mengambil kerudung yang baru di keringkan terlihat jelas kerutan di kerudung itu.


Setelah mengenakan kerudung raisa terkejut saat melihat leonard yang membungkuk, "mau di depan apa dibelakang?", tanya leonard ambigu.


"Apanya?", raisa kebingungan.


"Di gendongnya, jalan kaya nenek nenek gitu", raisa tersenyum dia ingin di belakang tapi karena rok batiknya dia jadi enggan.


"Gak papa kak!, aku bisa sendiri kok", raisa tersenyum lembut.


Leonard berdecak kesal dan langsung mengangkat raisa saja, "ck, susah banget di atur ya!", leonard tersenyum sekilas saat mendapati lengan kecil melingkari lehernya.


Leonard membawa raisa ke sebuah pusat perbelanjaan yang memang agak jauh, raisa meringkuk malu menyembunyikan wajahnya saat di tempat ramai seperti itu leonard masih menggendongnya, semua orang memandangi mereka dengan tatapan kagum.


"Mau beli apa sayang?", leonard bertanya setengah berbisik amat gemas dengan tingkah raisa yang malu.


"Astagfirullah hal'azim, kak aku lupa bawa uang", raisa yang memang tidak menggunakan sandal melonjak berdiri di hadapan leonard.


"Ck, aku suami kamu tahu!, masih mikirin uang!", leonard kesal tapi khawatir saat raisa melonjak tiba tiba.


Leonard melihat troli belanjaan dia menggusur troli itu ke hadapan raisa, "ayo belanja!", leonard tersenyum sekilas dan memegang tangan raisa, raisa mengambil barang barang keperluannya seperti pembalut, jamu nyeri haid, daleman, dan beberapa gamis, dia juga tak lupa membeli perlengkapan suaminya yang kemungkinan habis dan barang yang tidak ada di rumah, selain itu raisa juga membeli perlengkapan dapur dan sayuran.


Leonard mengekor dengan troli baru karena dua troli sebelumnya sudah penuh, "cukup gak uangnya?", raisa mendengklengkan wajahnya dengan senyum manisnya.


"Mau beli mall ini juga cukup sayang!, masih banyak?", tanya leonard mengangkat alisnya.


"Heheh, udah kok!, cuma tinggal beli pot sama bibit bunga aja!", ucap raisa yang tidak sabar ingin menghias rumah barunya.


Leonard terkekeh melihat kelakuan istrinya dengan senyum indah di bibirnya, "ya sudah ayo!", leonard tak menyadari lagi bila istrinya tidak mengenakan alas kaki, hingga raisa merasa keram di kakinya.


"Kenapa sayang?", leonard mendekat melihat raisa yang tengah mengurut kakinya yang tertutup rok batik span.


"Keram!", raisa nyengir, leonard menepuk jidatnya melihat kaki raisa yang tanpa alas.


"Kenapa gak pake sandal?", leonard bertanya sembari memegang kaki istrinya yang terasa dingin.


"Ya kan tadi langsung di gendong, gak sempet pake sandal atau sepatu", raisa mengadu adu dua jari telunjuknya, leonard kembali menepuk jidatnya atas keteledorannya sendiri, dia juga terkekeh dengan tingkah raisa yang tidak sama dari biasanya, mungkin karena statusnya sebagai istri yang membuatnya tidak memberikan jarak pada suaminya.


Leonard melihat barang barang yang sudah terkumpul, "kamu tunggu disini", leonard memberikan belanjaannya ke kasir untuk di hitung dan segera kembali ke arah raisa, raisa nampak tengah duduk dengan baik, hingga seorang pria menghampirinya.


"Hai cantik, ikut duduk ya!", pria itu langsung duduk di samping raisa, raisa cepat cepat berdiri dan menjauh, "eh cantik sombong banget", raisa di ikuti pria itu hingga darahnya terasa naik.


"Loh kok sombong banget!", pria itu meraih tangan raisa, raisa berontak namun tenaganya yang kecil dia tidak sebanding dengan pria itu.


Bugh.. Sebuah jotosan berhasil menimpa wajah pria itu, raisa berlari ke arah pria yang memberikan jotosan yang tidak lain adalah suaminya sendiri, leonard melihat sekilas tangan raisa yang memerah, leonard naik vitam dia kembali memegang kerah baju pria itu dan mengucapkan sebuah kata kata kasar, "berani nyentuh wanita gue!, siap siap lo terima akibatnya!", ucap leonard melemparkan pria tersebut dan kembali pada istrinya.


"Sakit gak?", leonard melihat tangan raisa yang memerah, beberapa orang berkerumun, namun tidak disangka leonard, pria itu ternyata membawa sebilah senjata tajam berupa pisau lipat, pria itu mengarahkan pisau itu ke arah leonard dan akan menusuknya, beberapa orang berteriak, raisa melihat gelagat pria tersebut dan langsung melindungi tubuh suaminya dengan tubuhnya sendiri, namun leonard yang memang jago berkelahi memegang tangan pria itu saat tinggal beberapa senti pisau itu mengenai tubuh istrinya, leonard mematahkan pergelangan tangan pria tersebut hingga pisau yang di pegangnya terjatuh, beberapa pihak keamanan datang.


"Bawa dia ke kantor polisi atas dasar percobaan pembunuhan, saya akan seret kamu ke penjara!", ucap leonard menunjuk ke arah pria yang masih meringis.


Mata raisa masih tertutup dengan tangan bergetar memeluk suaminya, leonard menatap wajah istrinya yang tidak memikirkan nyawanya sendiri, bahkan dengan bodohnya membiarkan tubuhnya sendiri sebagai tameng.


"Sudah tidak apa apa sayang", beberapa orang mengerubuni mereka.


"Nih minum dulu mba, pasti syok banget!", seorang wanita yang tengah hamil menyodorkan air minumnya pada raisa, raisa berbalik melihat wanita tersebut dengan perut buncitnya yang di sebelahnya ada sang suami yang siaga.


"Terima kasih", raisa mengambil air mineral itu dan meminumnya hingga habis, leonard tersenyum simpul.


"Terima kasih!", ujar leonard dia meraih pinggang istrinya.


"Maaf nih, apa ini leonard youtuber terkenal itu ya?", seorang wanita dengan khas emak emak menatap tajam ke arah leonard, leonard mengangguk membenarkan.


"Waah ini istrinya?", seru beberapa orang penasaran.


"Dari tadi ingin menyapa tapi takut salah orang, cantik sekali istrinya!", puji yang lainnya menimpali, raisa tertunduk malu dengan wajahnya yang bersemu kemerahan.


Bersambung...