
Leonard menggenggam pintu rumah sakit dan keluar dari ruangan raisa dia melihat ke arah tempat jaga para perawat dan mendekatinya, "permisi!, apa disini ada kain sarung dan sejadah?", leonard bertanya pada seorang perawat wanita.
"Ada pak, silahkan!", perawat pria itu menyerahkan sarung dan sejadah yang semula terlipat di atas lemari, leonard kembali ke ruangan raisa.
Leonard melepaskan alas kakinya dan berjalan menuju kamar mandi, leonard berpikir sejenak mengingat ingat do'a wudu, dan bagaimana cara berwudu, leonard pun mengucapkan basmalah dan mulai membaca do'a dan berwudlhu, setelah sekian lama dia akhirnya melakukan wudu, dia sendiri tidak ingat kapan terakhir kali dirinya membasuh muka dengan ritual suci itu.
Leonard kembali menapakkan kakinya di atas sejadah, setelah bertahun tahun tanpa arahan sejadah dan sujud ke arah kiblat, leonard menapaki hamparan sejadah di bawah kakinya, kakinya terasa sejuk karena panas di kakinya tersentuh dengan keinginan nurani untuk menghadap ilahi, leonard mengenakan kain sarung untuk menutupi robekan celana jeansnya.
Kehidupan leonard yang merenangi zaman edan, kuku di laku salah di tingkah, menghamburkan hidupnya untuk kesenangan duniawi, uang yang di dapat hanya untuk membuat jiwanya tersayat, namun lengguhan sakti, bukan mantra atau puisi namun leonard bisa merasakan rasa nyaman dan terobati di dalam sanubari yang telah sekian lama berkarat.
***
Seorang wanita yang masih terlihat muda dengan wajahnya yang nampak belum berkerutan, wanita itu melangkahkan kakinya ke arah tempat informasi dan bertanya keberadaan putranya, namun lagi lagi mereka tidak tahu,hingga akhirnya dia menuju UGD dan bertanya pada seorang perawat.
"Permisi?, apa tadi nona bertemu dengan leonard?, youtuber itu?", wanita itu berbicara sangat sopan.
"Oh ya!, saya melihatnya, dia membawa pasien atas nama raisa, sekarang dia di rawat di ruang VVIP", jawab perawat itu.
"Ah ya, terimakasih banyak", wanita itu kembali melangkahkan kakinya ke arah tempat yang di tunjukan dan bertanya pada para penjaga di rawat inap tersebut.
"Permisi, saya mau bertanya di mana ruangan atas nama raisa?", wanita itu bertanya sesuai dengan petunjuk yang ditinggalkan dari perawat sebelumnya.
"Di raung VVIP ini hanya ada dua ruangan nyonya, dan hanya satu yang terisi, silahkan di kamar satu", perawat itu menunjuk dengan jempol tangannya ke arah ruangan raisa, dia yang sudah mengetahui identitas bunda leonard tak bertanya muluk muluk langsung mempersilahkan.
Wanita itu membuka pintu ruangan yang layaknya pintu kamar hotel bintang 5 secara perlahan, sebuah cahaya menyilaukan matanya, dia melihat putra sulungnya tengah melakukan sembahyang, sebuah keajaiban yang sangat sulit di terima akal sehat.
Dia sering kali memberikan jutaan kata untuk menyadarkan putranya, melantunkan do'a do'a nya untuk sang putra tercinta, cairan bening meleleh membasuhhi riasan ringan di pipinya, rona bahagia terpancar jelas dari bingkai senyumnya.
Air mata wanita itu menetes hingga kakinya berjalan memasuki kamar tersebut, wajah putranya yang nampak khusuk membuat dadanya merasa tenang.
Tunggu!.
Bunda elfie menghentikan langkahnya, kenapa kiblat yang di gunakan sang putra terasa aneh, apakah putranya masuk ke aliran baru.
Plak, bunda elfie menepuk keningnya dan menggelengkan kepalanya, 'ni anak buta arahnya kumat', bisik bunda elfie dalam hati kecilnya, bunda elfie membiarkan putranya menyelesaikan sholat isa nya, namun dia kembali terkejut saat melihat wajah yang terbaring di atas ranjang.
'Cantik sekali', batin wanita itu, dia meletakan punggung tangannya di kening raisa.
'Dia tidak demam, lalu kenapa?', wanita itu bertanya tanya dalam hatinya, hingga putranya menyelesaikan sholat isa nya.
"Bunda?", sapa leonard saat melihat bundanya duduk di tepi ranjang pasien.
"Siapa ini? dan kamu kenapa sholat kiblatnya salah gitu, ulangi lagi sholatnya!", bunda elfie bertanya dengan tatapan menyelidik, dan menegur sang putra, leonard mengusap tengkuknya yang terasa linu.
"Siapa ini?", tanya lagi bunda elfie menatap lembut ke arah raisa.
"Temen sekolah waktu kecil bun, oya bun mana benda yang aku minta bawa?", leonard menyodorkan telapak tangannya, hingga sebuah peperbeg diberikan bunda elfie pada putranya, "bunda jaga dia dulu ya!, aku mau keluar dulu", ucap leonard sembari melangkahkan kakinya keluar ruangan.
Bunda elfie masih terpaku menatap wajah ayu di hadapannya dengan sebuah hijab besar berwarna biru langit, tiba tiba cairan bening meleleh dari mata raisa dan menangis sesegukkan, "bu..huhu..bu..hiks..bu..ibu!..huhuhu", tangis itu membuat bunda elfie mengangkat alisnya, dia yang tidak mengetahui apa apa menggunakan nalurinya yang seorang ibu untuk menenangkan raisa.
"Tenang.. Tidak apa apa.. Jangan menangis..", raisa yang perlahan dapat mendengar suara yang menyahutnya membuka matanya perlahan menatap wajah teduh bunda elfie, raisa tersentak dan kembali menangis.
Dia berusaha melapangkan dadanya menerima kenyataan hidupnya, semua yang ada di dirinya adalah titipan pasti pada waktunya akan di pinta oleh yang punya, raisa terisak menahan sesak di dadanya.
"Hiks.. Hu..hu.. Hu.. Bu maafin raisa, ica telat datang menemui ibu", raisa mengangkat tangannya dan berdo'a agar di beri kelapangan dan keikhlasan, dia berdo'a untuk sang ibu untuk diberikan tempat yang indah di alam barzah.
...
Bunda elfie mengusap pucuk kepala raisa dan memegang tangan raisa yang bergetar, "aamin, hapus air matanya sayang, orang tuamu pasti bangga memiliki putri yang baik seperti mu, bunda saja bangga yang hanya baru melihatmu", ucap bunda elfie tersenyum pilu, bagaimanapun dirinya pernah kehilangan orang tua tentu sangat tidak mudah menerima kenyataan dengan cepat.
Raisa yang menyadari keberadaan bunda elfie setelah larut dalam pikirannya sendiri senyum terpaksa, rasa nyaman memenuhi dadanya saat menatap wajah teduh itu.
"Terima kasih", raisa berbalik memegang tangan bunda elfie dan mengecupnya lembut, " bunda in..?".
"Ah ya!, bunda itu bundanya leo, kamu panggil saja bunda", sela bunda elfie.
"Ah ya, aku raisa rohdhotul latica, bunda bisa panggil risa atau latica atau raisa atau senyamannya bunda saja", ucap raisa berusaha tersenyum meski rasanya amat berat, terbukti dengan matanya yang tanpa ekspresi.
Bunda leonard tidak bertanya lebih lanjut, selain karena takut menyinggung raisa dia juga tidak mau memberikan jarak pada dirinya dan raisa, mereka mengobrol hingga lebih dari 1 jam.
Sebuah genggaman pintu terbuka dan terlihat leonard yang sudah menggunakan celana jeans yang tidak berlubang dengan kemeja putih, "kak leo?", raisa berusaha duduk di ranjang namun karena kepalanya yang masih pusing dia kembali mengurungkan niatnya.
"Dah tiduran aja!, bunda ini baju buat raisa dan handphone baru, handphone lamanya hilang!", ucap leonard sembari menyerahkan peperbeg di tangannya pada sang bunda.
"Sa!, gimana perasaannya sekarang?", leonard bertanya seraya melemparkan tubuhnya ke pojok sofa di ruangan tersebut.
Raisa menjawab dengan senyum pahit, leonard menghela nafas panjang, menengadahkan wajahnya.
"Aku sudah hubungi ke daerah pemakaman tempat ayahmu di semayamkan entah besok atau sekarang juga bisa kita melakukan pemakaman", ucap leonard menerangkan, leonard yang memiliki koneksi yang luas memudahkannya untuk melakukan apapun dan mencari informasi apapun, apalagi setelah dia melihat alamat raisa dari KTP nya.
Bunda elfie manggut manggut sepertinya dia mulai mengerti dengan apa yang terjadi, dia mendapatkan pencerahan dari ucapan putranya barusan.
Bersambung...