
Leo tiba di depan sebuah rumah yang sangat sederhana, berukuran cukup kecil namun sangat nyaman untuk di tinggali.
Leo tergugu menatap rumah sederhana yang mana barang barang raisa seperti piagam dan pila dia tempel di dalam rumah, tak lupa foto pernikahannya dan berbagai kenangan yang di tinggalkan sang istri tercinta.
"Assalmmu'alikum!", seorang pria berusia paruh baya mengucap salam di ambang pintu saat leonard baru saja tiba di rumah barunya.
"Wa'alikum salam, silahkan masuk pak!", leo menyapa dengan sangat ramah.
"Pak maaf saya disini sebagai kepala desa hanya ingin menyapa saja, dan saya mengucapkan selamat datang di desa kami!", seru kepala desa dengan senyum ramahnya.
"Terima kasih banyak pak!, dan iya ini perkenalkan adik saya rama attahaya dan saya leo attahaya, dan ini si kembar rayan dan alika", rama mengecup tangan kepala desa taqdzim dia memang dingin namun tidak sombong, dan amat menghargai tata susila dan adat istiadat.
"Tampan sekali, kalian nampak sangat mirip!", seru kepala desa, ya meski dia tahu bila leo dan rama bukan saudara sedarah namun dia bisa melihat rasa saling melindungi antara keduanya.
"Terima kasih pak!, silahkan duduk kita bis bicara dulu", ucap leo menyondongkan jari jempolnya mempersilahkan kepala desa duduk.
"Wah.. Terima kasih maaf saya ke sini hanya ingin menyapa saja, sekarang saya juga harus kembali ke balai desa", ucap kepala desa itu berpamitan.
"Hmm.. Baiklah pak, jangan sungkan untuk mampir ya pak!", seru leonard mengantar kembali kepala desa keluar.
"Tentu saja, assalammu'alaikum pak leo!".
"Wa'alikum salam pak!", leonard menatap punggung kepala desa hingga akhirnya tak terlihat kembali.
"Hua..owa..owwa... " Leo menatap rayan yang menangis dan tersenyum sekilas menatap alika yang nampak menjambak saudara kembarnya.
"Dedenya nakal ya!", leo tertawa dan melepaskan jambakkan adik kembarnya.
"Kalian lapar tidak?", tanya leo melihat kedua putra putrinya yang nampak sangat polos.
"Sebentar ya sayang ayah buat dulu susu untuk kalian!", leonard masuk ke dalam rumah setelah sebelumnya dia menutup pintu dan menguncinya terlebih dahulu.
"Lagi apa rama?", tanya leo melihat adiknya yang tengah mencuci beras.
"Nyuci beras", rama menjawab enteng dan kembali melanjutkan aktivitasnya.
Rama menggeleng memperhatikan adiknya yang tengah menank nasi, "kamu temenin si kembar aja gih, ni bawa biar kakak yang masak!", leonard menyerahkan dua botol bayi pada rama, rama mengangguk dan menyerahkan pekerjaan yang sebelumnya dia kerjakan pada yang lebih dewasa.
"Hai.. Lagi apa kalian?", rama terkikik melihat dua bocah kembar yang tengah mngulam jari jempolnya, dengan hati hati rama melepaskan tangan mereka dan memasukan dot yang berisi susu pada dua bocah di hadapannya.
"Enak gak?", tanya rama mengelap air liur yang menempel di jari jari rayan dan alika.
Keadaan damai berlangsung cukup lama tanpa ada gangguan atau pun kejahatan lainnya, mereka hidup damai dan tentram tanpa permasalahan yang rumit.
6 tahun kemudian.
"Bang lo tu ya bisa gak si diem gue lagi nyoba baju lo doang kok pelit amat, mang amat aja gak pelit!", seru alika yang nampak marah marah berusaha masuk ke dalam kamar kakaknya.
" kenapa ini?", rama tiba dengan wajah dinginnya.
"Tuuuh heheh eee... Gak papa kok heheh.. Aku balik dulu ke kamar deh!", alika kabur meninggalkan paman kecilnya.
"Ya ampun ada ada saja!", rama mengentuk pintu rayan dan mendapati sebuah bantal melayang menuju wajahnya, dengan sigap rama menghindar.
Bugh, bantal itu ternyata melayang menuju wajah leo, "aduuuh!, rayan.. ada apa ini?", leo menggelengkan kepalanya menatap anak laki lakinya yang nampak tengah marah.
"Feet..", rama menahan tawa mendapati kebiasaan buruk alika yang terus berulang.
"Aish.. Bocah itu!, kita nanti belanja lagi deh, sudah jangan marah ayo sekarang turun kita sarapan dulu", leonard menyimpan bantal yang semula rayan lemparkan.
Rayan mengangguk dan keluar bersama leo, rama beralih menuju kamar di samping kamarnya dan kembali mengetuk pintu, "lik ayo sarapan dulu!", rama memutar gagang pintu dan mendapati alika yang tengah menggunakan baju kakaknya rayan.
"Heheh.. Paman!, yaudah aku turun, tunggu di situ ya!", seru alika yang kembali menutup pintu, mengikat dua rambutnya dan mengenakan baju perempuan.
"Ayo paman!", alika meraih tangan rama, rama tersenyum tulus dan berjalan menuju ruang makan, di sana nampak rayan dan leo yang sudah siap di depan meja makan.
Leo dan rama memang sudah terbiasa mengapit kedua bocah kembar itu, karena bila mereka berdekatan akan dapat di pastikan makanan yang ada di meja akan menjadi alat baku hantam.
"Besok kalian akan mulai belajar di sekolah dasar, papa tidak ingin melihat kalian terus tawuran, ingat saat di sekolah kalian adalah saudara dan kalian harus saling melindungi!", leo memperingatkan alika dan rayan yang memang sangat terkenal akan kenakalannya, namun meski mereka sering saling tawuran di rumah namun mereka selalu sangat kompak saat berada di luar rumah.
"Iya pah!", kedua bocah itu mengangguk dan menunduk takut pada papanya.
"'Tok Tok Tok!", terdengar suara pintu di ketuk, rama bangkit dari duduknya dan membuka pintu.
"Bunda!", rama tertegun sejenak hingga suara dari dalam rumah mengembalikan kesadarannya.
"Rama siapa?", tanya leo beranjak dari duduknya dan melihat dua orang wanita tiga bocah dan dua pria berada di ambang pintu.
"Bunda!", ucap leo sesketika terdiam.
"Papa! Alik nakal lagi!", rayan berlari ke arah sang ayah menatap orang orang yang berada di ambang pintu, rayan menatap geming semua orang itu lekat leka.
"Papa, jangan sendih!", tiba tiba rayan mengucapkan kata itu dan memeluk sang papa.
"Paman!", alika mendekat ke arah pamannya yang memang sangat dekat dengannya, rama tersenyum menatap gadis kecil di dekatnya.
"Assalammu'alikum", atikah menunduk menatap wajah alika kecil.
"Wa'alikum salam!", alika mencium punggung tangan atikah dan semua orang yang ada di sana.
"Kalian cepat pergi dari sini, alik gak suka ada orang asing di rumah alik", alika ingin menutup pintu namun di hentikan rama.
"Jangan ditutup, biarkan mereka masuk dulu ya!, sebentar saja, sekarang ajak kakak rayan ke kamar dulu ok!", rama mengusap kepala alika dan alika pun mengangguk menuju ayahnya dan sang kakak.
"Ayo bang!, kita ke atas dulu!", seru alika mengedipkan sebelah matanya.
Rayan mengangguk girang namun rama kembali berucap, "jangan menguping!", kedua bocah itu kembali loyo saat mendapatkan teguran dari pamannya.
"Baiklah!", ucap keduanya berlalu meninggalkan mereka dengan wajah yang kusut.
Bersambung...
author memohon maaf bila akhir akhir ini kurang melakukan update di karenakan author baru saja mengalami musibah dan keponakan author meninggal dua hari lalu.
author memohon maaf sebesar besarnya pada pembaca sekalian.
🙏🙏🙏🙏🙏🙏