Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Penasaran



"Alik kenapa?", rama melihat alika yang duduk di tepi kolam memperhatikannya berlatih.


"Paman bisakan paman jangan kemana mana dan terus bersama alik?, alik takut paman kenapa kenapa!", alika menunduk menatap air yang meriak di depan retinanya terombang ambing dari gerakan kakinya.


"Hmmm, kenapa alik berpikir paman akan ninggalin alik?", rama mengangkat alisnya menatap alika yang nampak terdiam memperhatikan riakan air.


"Paman jangan seperti papa lagi!, alik dan ayan gak mau kalo paman pergi kaya papa, alik sayang paman!", alika meremas tangannya mengingat kejadian berdarah yang merenggut keluarganya.


Rama terdiam melihat tetesan garam yang yang meleleh di pipi mungil alika kecil.


"Paman gak akan kemana mana, paman janji!, sekarang paman hanya sedang berlatih saja untuk menghindari sesuatu yang buruk menerpa kita", rama memegang tangan alika yang terasa dingin.


"Paman janji?!", alika memberanikan dirinya mengangkat wajah yang amat manis dengan lelehan air yang kian menetes, rama mengelap air yang terus meleleh itu dan tersenyum lembut.


"Paman janji!", alika tersenyum mendapatkan jawaban dari paman kecilnya dia beranjak dan memeluk pamannya yang berada di dalam air, alika yang tidak terlalu pandai berenang gelagapan merasakan dinginnya air.


Rama dengan sigap meraih tubuh alika dan mengangkatnya kembali ke tepi kolam, alika terbatuk batuk karena air kolam hampir tertelan olehnya.


"Nakal!", rama mengacak acak rambut alika, sama seperti dulu leo yang sering mengacak acak rambutnya, "nah jadi sekarang alik tahu kan bagaimana pamanmu ini berjuang, nah paman melakukan ini bukan karena paman ingin pergi tapi karena paman ingin melindungi alik, mengerti?!", alika tersenyum patuh dan kembali duduk di tepi kolam dan memperhatikan paman kecilnya yang kembali berenang.


12 tahun kemudian.


Byur.. Rayan berenang kesana kemari bersama ikhna si bayi kecil yang sudah tumbuh menjadi anak anak, "bibi alik ayo ke sini!", ikhna melambaikan tangannya melihat alik yang masih diam di tepi kolam tengah membaca sebuah buku yang sangat tebal.


"Gak ah, kalian aja!", alika mengelak dan bediri, kakinya yang basah membuat lantai yang di pijaknya menjadi licin, dia merasakan tubuhnya yang tidak seimbang hingga akhirnya, byuur.., alika dan bukunya jatuh ke dalam kolam, alika yang memang tidak begitu pandai berenang dia meronta dan merasakan kakinya yang keram.


Byur.. Rama yang tahu alika tak dapat bernenag langsung menenggelamkan tubuhnya dan meraih tubuh alika dan mendekapnya erat memberikan sedikit udara membawanya ke atas air.


"Paman aku takut!", alika memeluk rama sangat erat tak sadar kini hobinya menggunakan pakaian pria telah menodainya.


Rayan terbelalak dan terkikik mendapatkan ide gila, dia membungkam mulut ikhna dan menariknya ke darat perlahan meninggalkan mereka berdua.


Tangan dan tubuh alik yang bergetar hebat mengartikan dirinya yang amat ketakutan namun sebuah rona nampak di wajah rama dan sedikit memalingkan wajahnya.


"Ayo ke darat, alik akan baik baik saja!", rayan mendekatkan dirinya ke tepian dan menelan ludahnya merasakn sebuah getaran hebat di dadanya.


"Paman juga takut?", alika merasakan tubuh rama yang bergetar dan degup jantung rama yang terdengar sangat kencang.


Namun alika yang masih belum tersadar malah mengangguk dan terus memeluk rama, rama melotot mendapatkan pernyataan tanpa ucapan dari alika, dia meraih tubuh alika dan melihat wajahnya yang nampak pucat dan ketakutan, rama menghembuskan nafasnya karena sepertinya alika belum tersadar dengan apa yang terjadi.


Rama mengambil handuk di dekatnya dan melingkarkan ke tubuh alika memeluknya erat hingga sampai di depan kamar alika.


"Sudah sampai!", rama dengan pelan merasakan tubuh alika yang melemas dan di lihat mata alika yang terpejam, rama menghembuskan nafasnya kasar dan menyentuh pipi alika.


"Alik bangun!, kita udah sampai!", rama mencolek pipi alika.


"Uuh paman aku ngantuk!", alika menggeliat memeluk pamannya, rama menghembuskan nafasnya kasar menarik selimut di atas kasur alika dan duduk di balkon kamar alika di sebuah kursi goyang memeluk tubuh alika dan menyelimutinya.


"Paman!, alik sayang paman!", rama mengangkat alisnya mendengar bisikan alika namun mata alika masih terpejam, alika mengigau dan merasakan aroma tubuh pamannya dan tanpa sadar mengatakan hal tersebut.


"Kamu nakal alik!", rama tersenyum kaku menatap dari tempatnya duduk menuju pantai dengan hempasan ombak mengelus ujung pasir di tepi pantai yang begitu lembut.


Rama menutup matanya merasakan hari yang belum menua dan waktu sholat yang masih jauh rama menutup matanya merasakan kenyamanan dari hembusan angin yang menerpa wajahnya.


Beberapa jam berlalu, hawa panas memenuhi tubuh alika dengan matahari yang kian meninggi, alika menggeliat, rama yang merasakan gerakan dari tubuh alika ikut terbangun dan tanpa sengaja mereka beradu pandang.


Dor, Dor, dua buah tembakan dari dua hati langsung mengena satu sama lain, alika tersenyum sekilas dengan wajahnya yang kian memanas begitupun rama alika terus bergerak karena merasa tidak enak hingga beberapa kali tanpa sengaja tangannya menyentuh senjata rahasia rama, rama merinding dan menangkap tangan alika, alika terdiam menatap rama dan melihat tangannya yang di angkat.


"Matahari sudah di atas kepala, Ayo dzuhur!", rama memalingkan wajahnya melepaskan tangan alika, alika terdiam mengangkat alisnya merasa aneh dan bangkit dari paha rama dan berdiri.


Deg!, jantung alika terlonjak saat menatap roknya yang tersibak dengan bajunya yang kian mengering namun dengan jelas belahan dadanya tercetak sempurna terpampang di depan mata rama, kemeja rayan yang dia kenakan kini benar benar membuatnya malu, kebiasan buruk alika yang sangat sangat menyukai mengenakan pakaian pria memang tak pernah sembuh, alasannya sangat enteng alika merasa tidak nyaman menggynakan pakaian wanita, meski kian kemari dia mulai mengurangi kegiatan buruknya karena dadanya yang kian membesar dan kian mencolok bila dirinya mengenakan pakaian pria, terbukti hal tersebut dengan kejadian kali ini.


Alika buru buru memegangi selimutnya yang berada di lantai dan membalut tubuhnya agar menutupi bentuk tubuhnya yang indah, 'baru sadar dia!', bisik rama saat melihat alika yang nampak risih.


"Aku sudah lihat tadi!, sudahlah cepat mandi dan oleskan minyak eucaliptus di perutmu agar tidak kembung!", rama mengacak acak rambut alika dan tersenyum sekilas, alika tertegun melihat rama yang berpaling dan meninggalkan dirinya sendiri.


"Paman harus tanggung jawab!", teriak alika saat rama berada di ambang pintu, rama berhenti sejenak dan berbalik menatap alika dan kembali mendekat.


Rama menyentuh pundak alika lembut menatap wajah manis di hadapannya penuh makna, alika terdiam sangat lema penasaran apa yang akan di ucapkan rama.


Bersambung...