
"Mau kemana kamu de?", bunda melihat ridwan yang melenggang meninggalkan mereka.
"Ke atas", jawab ridwan yang langsung berjalan memasuki kamar leo dan raisa, leo yang melihat itu hanya menggeleng membiarkan adiknya melakukan hal yang dia inginkan.
"Dia itu siapa si?, kenapa bisa se cerdas itu?", leonard terdiam, mengingat ingat saat dirinya pertama kali melihat ridwan yang kehujanan dengan tangan bergetar di tepi jalan.
Fleshback on.
5 tahun yang lalu saat itu leonard masih belajar sebagai mahasiswa di sebuah universitas ternama di fakultas ekonomi, saat pulang kuliah dia melihat seorang balita yang tengah di pukuli preman, hati leonard terenyuh dan mendatangi para preman itu.
"Woi.. Apa kalian ganggu bocah!", leonard mengacungkan lengannya menunjuk beberapa preman yang tengah berkerumun.
"Waaah.. Kayanya anak orang kaya nih!", ujar salah satu di antara mereka.
Tanpa basa basi leonard enggan banyak bicara, perkelahian tak terhindarkan, namun naas bagi leonard meski dirinya sangat mahir tawuran dan berkelahi karena kurang persiapan ternyata preman itu membawa sebilah pisau.
Beberapa kali para preman itu menghabitkan pisau tajam itu ke arah leonard, namun leonard berhasil menghindar, hingga akhirnya sebuah pukulan mengenai wajahnya dan clep, pisau itupun mengenai lengan leonard, leonard berlumuran darah dengan gemercik hujan yang mulai turun dari awan yang berat.
"Kak!", bocah itu menghampiri leonard dengan cepat leonard menarik bocah itu dan membawanya lari, hingga akhirnya sampai ke tempat ramai dan menuju apartemennya.
"Ka, atita tanannya?", (ka, sakit tidak tangannya?), bocah itu bersuara saat berada di gedung apartemen leonard.
"Enggak kok, kakak kan cowok masa iya segini aja sakit", bohong leonard sembari mengangkat bocah itu yang terlihat amat manis, namun dia nampak sangat kurus perkiraan berat badannya hanya 7 kg.
"Udah makan belum?", tanya leonard hangat agar tidak mengejutkan bocah itu, dengan polos bocah itu menggeleng.
"Kita makan yu!", leonard tersenyum bahagia membawa bocah itu ke dalam apartemennya.
Di dalam apartemen itu nampak nathan yang tengah bermain PS, nathan amat terkejut saat melihat lengan leonard meneteskan begitu banyak darah, namun dengan cepat leonard memberi aba aba agar tidak mengejutkan bocah yang dia bawa.
"Wahhh.. Siapa itu leo?, manis banget, siapa namanya sayang?", nathan menghampiri dan menunduk di hadapan bocah itu.
Bocah itu menggeleng, nathan tersenyum getir, usia seperti ini seharusnya sedang di sayang sayangnya oleh orang tua, dan juga masih belajar bicara.
"Dia kaya malaikat penjaga surga kan than?, kita panggil dia ridwan aja atau iwan, malaikat penjaga pintu syurga", ucap leonard tersenyum ramah, ridwan mengangguk setuju, begitupun leonard yang meski tidak mengerti dia ikut mengangguk.
"Lo mandi dulu dah, bau...!", nathan mengusir leonard menuju kamarnya, sebenarnya bukan karena mandi alasan utamanya melainkan karena leonard harus mengobati luka di lengannya.
Nathan kembali melihat ridwan dan tersenyum tulus, "iwan juga mandi yu di kamar kakak", ajak nathan menggandeng tangan dingin itu ke kamarnya.
Dengan hati hati dan sedikit ngilu nathan memandikan ridwan yang di penuhi lebam biru di sekujur tubuhnya, nathan hanya menatap sedih dengan hati yang terasa tercabik.
"Dah selesai mandinya, tunggu di sini ya kakak cariin baju kakak yang kecil", nathan membuka lemarinya namun tak dia temukan pakaian kecil, "wah, gak ada!, bentar tunggu disini ya kakak pinjem dulu ke kak leo siapa tahu dia punya baju kecil", ucap nathan yang sebenarnya sangat khawatir pada sahabatnya leonard.
Ridwan mengangguk seraya terdiam di balut selimut yang di balut kan oleh nathan, dia melihat seluruh kamar itu yang terlihat begitu mewah dan elegan, matanya terasa amat berat karena rasa hangat yang membuatnya nyaman hingga akhirnya tertidur, mungkin ini adalah tidur terpulas yang pernah dia rasakan di sepanjang hidupnya hingga hari itu.
"Leo, lo gak papa?", nathan menerobos masuk dan melihat tangan leonard yang sudah di perban dan badan yang sudah bersih.
"Gak papa, untung pisaunya tajam kalo gak mampus gue, kalo tajamkan gampang nyembuhinnya", leonard tersenyum lembut menenangkan sahabatnya.
"Ya si emang kalo kena pisau tajam mudah sembuh, tapi siapa bocah tadi?, apa orang tuanya gak nyariin atau saudaranya gitu?", tanya nathan penasaran.
"Gue juga gak tahu, gue ketemu dia tadi di jalan, pas dia lagi di gebukin sama preman, gue kasihan dan bantu dia", leonard menjelaskan.
Nathan tertegun sejenak, "pantes di tubuhnya penuh sama lebam", nathan menambahkan dan menggeleng, "gimana rencananya?", tanya nathan penasaran dengan kelanjutan hidup ridwan.
"Gue mau bawa dia balik aja, nanti biar bunda yang memberikan keputusan, dia perempuan dan seorang ibu, pasti tahu yang terbaik untuk bocah kecil seperti dia, dah lah beli makanan gih sekaligus baju buat dia, duitnya ambil aja di tempat bias", leonard bangkit dari duduknya dan membaringkan tubuhnya yang terasa linu.
Nathan mengangkat alisnya tidak mengerti, "tempat biasa di mana?".
"Ya tempat biasa lo nyimpen duit di mana!", ucap leo menyembunyikan wajahnya.
Plak, nathan menepuk keningnya yang di jahili leonard.
Fleshback off.
"Kenapa de?", tanya leonard penasaran yang melihat adiknya kembali ke luar.
"Kak ica gak pake kerudung, gak baik buat aku lihat itu rambut ka ica punya abang", ucap ridwan polos, leonard terkekeh dan kembali mengacak acak rambut ridwan.
"Assalammu'alaikum?", nampak gadis manis dengan perawakan semampai dengan pria ber rambut merah mengucapkan salam berbarengan.
"Wa'alaikum salam", semua orang di ruangan itu sontak menjawab salam mereka.
Atikah memberi salam pada bunda dan ayah dzikri, dan saat mengulurkan tangan pada leonard nathan menyambar lengan atikah dengan tangan kirinya dan berjabat dengan leonard dengan tangan kanan, "dah gue wakilin aja, jangan sentuh sentuh sama cowok", nathan posesif pada atikah.
"Dih, siapa lo sok sokan ngatur gue!", atikah memutar bola matanya.
"Gue itu calon laki lo, lo sebagai calon bini ngarti ngapa!", nathan tambah posesif.
"Dih sejak kapan lo jadi calon laki gue?, perasaan lo gak pernah ngelamar gue!", atikah menentang ucapan nathan yang begitu terasa mendominasi.
Para pendengar yang juga melihat perdebatan itu terkekeh geli, "dah jangan berantem, dimana afifah?", tanya bunda elfie penasaran yang tidak melihat batang hidung afifah.
"Afifah lagi masa pingitan bun, jadi gak bisa keluar rumah dulu!", jelas atikah.
Bunda elfie manggut manggut mengerti sedangkan leonard mengangkat alisnya yang tidak begitu familiar dengan kata pingitan, "pingitan itu apa than?", tanya leo pada nathan.
"Ah lo kemana aja hidup, udah nikah aja gak tahu pingitan, pingitan itu sesi sebelum menikah yang di mana pasangan pria dan wanita di larang saling bertemu?", jelas nathan.
"Biar apa gitu?", tanya lagi leonard yang memang dirinya tidak melakukan pingitan dan langsung tancap gas ke KUA.
"Ya mana gue tahu, itu tradisi leo!", nathan mengangkat bahunya.
Bruk.. Sebuah benda jatuh terdengar dari lantai dua, rupanya suara bising yang di ciptakan nathan dan atikah mampu membangunkan raisa, saat itu raisa ingin mengambil kerudung di lemarinya untuk menyapa mereka namun kepalanya yang pusing menjadi kehilangan keseimbangan dan membentur pintu kayu ruang gantinya.
Leonard yang mendengar itu lantas bergegas ke kamarnya dan melihat sang istri yang tertunduk di lantai, "sayang kamu gak papa?", leonard mengangkat tubuh raisa membiarkan istrinya terdekap di dada bidangnya.
"Aku mau ambil kerudung sayang!", raisa menengadahkan wajahnya melihat leonard.
Di bawah nathan yang juga ingin melihat, di tarik kerah bajunya oleh ayah dzikri, dan membawanya untuk duduk, sedangkan bunda elfie dan atikah berhambur menemui raisa.
"Jangan ke sana, kita pria diam saja toh udah ada yang tanggung jawab", ayah dzikri menepuk pundak nathan, mengingat kembali ucapan ridwan yang mengatakan bila saat ini raisa tidak mengenakan kerudung.
Nathan mengangguk mengerti dan terdiam.
"Ica...?!", atikah setengah berteriak berlari ke atas ranjang di mana raisa yang sudah di baringkan oleh suaminya.
"Atikah?", raisa yang melihat atikah matanya menjadi berbinar entah mengapa dia menjadi amat suka melihat sahabat julidnya itu.
"Selamat ca!, kamu bakal jadi ema!, hahahahah!", atikah tertawa dan memeluk raisa lembut, bunda elfie yang mendengar itu terkekeh dengan kelakuan atikah.
"O ya aku tahu kamu pasti mual, nanti siang kita buat rujak buah sama satu lagi aku udah bawa ayam geprek!, mau gak?" tanya atikah memberikan dua peperbegnya.
"Dia gak bisa makan ayam, tadi aja dia mual karena liat ayam", cegah leonard yang enggan melihat istrinya muntah kembali.
"Tenang aja!, ini ayamnya gak bau amis kok!, nih lihat!", atikah membuka tas yang berisi ayam geprek dan benar saja raisa tidak mual dan malah ingin ngeces melihat sambal dan sayuran yang melengkapi ayam geprek tersebut.
"Pengen!", raisa menyambar ayam tersebut dan dan langsung duduk di sangga bantal di bantu oleh atikah untuk memakannya, leonard menghembuskan nafasnya kasar melihat sang istri yang tak mual, bunda elfie duduk di tepi ranjang.
"Kamu hebat tikah!", ucap bunda elfie menepuk punggung atikah yang berada di depannya.
"Heheh, udah biasa bun!, kalo ica sakit dan gak mau makan alternatif terakhirnya ya di beliin ayam geprek, kalo gak di buatin seblak, bakso, atau mie ayam", atikah menambahkan dengan senyum yang mengembang melihat raisa yang makan dengan lahap.
"Eh bunda!, bunda mau?", tanya raisa menyapa bunda yang terbawa gaya bahasa bar bar atikah.
"Gak mau, buat ica aja", bunda elfie tersenyum lembut, leonard menghembuskan nafasnya lega melihat raisa yang yang sudah mau makan.
Bersambung...