
Nathan bersama farhan meninggalkan tempat tersebut sebelum menginjakkan kakinya ke dalam rumah calon mertuanya.
"Hallo, maaf saya farhan!", farhan mengulurkan tangan kanannya dengan senyum yang teduh di bibirnya.
"Oh ya gue jhonathan panggil nathan aja!, gue gak ngerti masalah pesantren atau yang peraturan di sana, gue mau tanya tanya ke lo deh, gue juga masih bingung mesti gimana malam ini", seru nathan menyambut uluran tangan farhan.
Farhan tersenyum lembut, awalnya dia sudah menyangka pasti nathan adalah pria bar bar layaknya atikah dan di lihat dari gaya bicara nathan farhan sudah tahu pasti mereka adalah mahluk satu spesies.
"Anterin gue ke apartemen dulu, gue mau ngambil maskawin sama perhiasan buat bini gue dulu", ucap nathan menepuk pundak farhan.
"Baiklah", farhan menyalakan motor sejuta umatnya, awalnya dia ke sana untuk bertemu dengan afifah, dia tidak akan bertemu afifah setelah itu karena pingitan akan di lakukan resmi dan mereka akan di larang bertemu setelahnya.
Nathan sampai di bawah gedung apartemennya dan masuk menuju lift di ikuti farhan dari belakang yang nampak malu malu, "han lo kerja apa sekarang?", tanya nathan menyenderkan tubuhnya.
"Saya hanya pegawai serabutan, mau bagaimana lagi saya tidak memiliki kemampuan dan uang untuk melanjutkan ke tingkat universitas, toh adik adik saya kasihan bila saya harus melanjutkan kuliah, ibu pasti kesulitan", ucap farhan yang tiba tiba curhat.
"Oh, berapa gajinya?", tanya lagi nathan yang tiba tiba kepo.
"Gak tentu, kan serabutan!", seru lagi farhan menjelaskan, nathan melihat kelangit langit lift, rasa syukur menggeliat memenuhi hatinya meski dia memiliki bos yang sangat menyebalkan namun dari kerja sampingannya saja sebagai disainer dia mungkin mampu menghidupi dua ratus keluarga.
"Lo mau gak jadi model", nathan menatap tubuh tegap farhan dari bawah ke atas yang nampak cukup tampan dan bagus.
"Waah saya gak berani, kalo saya jadi model takutnya saya di cap jelek..", belum selsai farhan menjelaskan nathan menyambar ucapannya.
"Mulai minggu depan lo kerja sama gue, lumayan buat nambahin maskawin, jangan tapi tapian gua paling benci sama orang naif yang terlalu memandang penting pengelihatan orang lain", ucap nathan tidak mengharapkan jawaban lagi dari farhan yang langsung terdiam, pintu lift terbuka, nathan langsung membuka pintu apartemennya dengan sidik jarinya sendiri.
"Duduk aja dulu kalo mau minum ada di lemari pendingin!", nathan mengeluarkan koleksi pakaiannya dan beberapa gaun pengantin yang dia rancang, "eh sini dulu, menurut lo yang mana yang paling cantik?", nathan memperlihatkan keindahan gaun gaun yang dia bawa dan sontak saja membuat mulut farhan menganga.
Untuk farhan boro boro gaun secantik itu bahkan untuk menyewa MUA saja dia tidak sanggup, matnya tertuju pada sebuah baju yang mungkin akan sangat pas di tubuh afifah dia meringis sakit di dadanya, merasa tidak mampu itu sudah pasti dan rasa syukur memenuhi sanubarinya karena afifah masih menerima dirinya apa adanya.
Nathan yang mengerti mengangkat baju yang di pandang farhan dan menyerahkannya kepada farhan, "kemas itu di kardus itu, gue mau liat afifah pake baju itu pas kalian nikah, anggap aja itu rasa terima kasih gue karena udah berusaha keras", ucap nathan.
Sontak saja wajah farhan nampak memerah dan langsung memeluk nathan, "terima kasih.. Terima kasih banyak!", farhan hampir menangis terlihat matanya yang berkaca kaca.
"Dah, gue mandi dulu sekalian mau ngehubungin bunda sama ayah, kamu tunggu aja di sini dan ahhh... Ya gue inget, tuh pake baju itu", nathan menunjuk jas pormal dengan dasi dan aksesoris lainnya.
Nathan tanpa menunggu jawaban dari farhan masuk ke kamrnya, "oh ya kamu ganti baju di sana mandinya juga di sana, gue agak lama di dalam", nathan kembali masuk ke kamarnya setelah memberi himbawan dan langsung mandi dan mengbil ponsel yang masih tersegel di lacinya menghubungi kedua orang tuanya, bunda elfie bahkan seperti jantungan yang mendapatkan kabar dari putra keduanya begitu pula ayah dzikri yang tertegun sejenak saat tengah belajar bersama ridwan.
***
"Kenapa ayah?", ridwan bertanya dengan wajah lugunya menatap sang ayah yang tertegun.
"Kakak kamu nathan dia akan menikah malam ini", ucap ayah dzikri mengelus dadanya, kisah cinta para putranya benar benar mengejutkan baginya.
"Ayo mandi dulu, kita harus siap siap nathan katanya nunggu di apartemennya", seru ayah dizkri.
Ridwan mengangguk mengerti dan diam kembali tanpa ekspresi, melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Buda elfie yang berada di kamar langsung melompat ke kamar mandi dan menghubungi empat MUA sekaligus di mana dua dia suruh ke tempat nathan dan dua lagi untuk mendandani dirinya.
Keriuhan tercipta begitu saja begitu nathan menghubungi leonard, leonard dan raisa hampir tak dapat berkata kata.
***
"Kakak juga!", raisa menambahkan komentar leonard, membuat leonard tersenyum dan menempelkan bibirnya di kening sang istri.
"Aku nekat karena aku takut keduluan orang lain sayang!", leonard menurunkan wajahnya mengecup lembut bibir istrinya.
"Kak, kita bagaimana sekarang?", tanya raisa kebingungan dengan kondisinya di tambah malam ini dia harus melakukan trasfusi karena Hb nya yang sangat rendah.
"Kita datang secara online aja, kita gak usah ke sana, do'a kan bisa di kirimin dari mana pun, kalo buat kado pernikahan, nanti pesan aja lewat aplikasi", ucap nathan duduk di bibir ranjang di samping istrinya.
Raisa yang merasa nyaman menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Leonard tersenyum dan mendekap tubuh mungil sang istri dan merasakan kenyamanan luar biasa di hatinya, dia berharap selamanya dia akan seperti itu bersama sang istri.
***
Nathan yang kedatangan dua orang MUA nampak kerepotan dan mengirim mereka ke pesantren atikah saja, sekalian mengirimkan gaun yang dia siapkan untuk atikah.
Di luar farhan menatap dirinya di depan cermin, dia tersenyum lembut dan berjalan layaknya robot.
Nathan yang melihat farhan seperti robot terkekeh geli, "lo kaya lagi nari ala robot bro.. Gila, lo ngapain kaya gitu!", nathan tertawa lepas dan melemparkan sebuah jam tangan yang cukup bermerek ke arah farhan.
"Saya takut buat kusut bajunya, nantikan harus di balikin lagi!", ucap farhan masih bergerak layaknya robot.
"Feet.. Paansi, itu buat kamu kok!, kata siapa harus di balikin?!", nathan menepuk pundak farhan yang nampak sangat kaku.
"Seeetan!", bunda elfie tiba dan langsung menarik telinga nathan kasar, farhan tertegun dan melihat ayah dzikri dan ridwan yang tiba di belakang.
"Ampun.. Bunda...ampun.. Bun!", nathan meringis memohon ampun, hingga bunda elfie merasa puas dan melepaskannya.
"Assalammu'alaikum, bu!, pak!, de!", farhan mengecup tangan ayah dzikri dan menelungkupkan tangan di dada saat menyapa bunda elfie.
"Wa'alaikum salam, waahhhh.. Ganteng banget!, siapa namanya?", tanya bunda elfie menatap dari atas ke bawah memperhatikan farhan, "oooh ya aku ingat kamu farhankan?, pacarnya afifah?", seru bunda elfie kemudian.
Farhan mengangguk mengiyakan, ayah dzikri tersenyum saat menatap mata bening farhan.
"Dah bun, ayo ah berangkat lagaian ini udah jam 8 malam aku juga udah sholat isa", ucap nathan yang di anggukkan farhan.
Namun tiba tiba nathan salah fokus saat melihat sendal jepit yang di gunakan farhan, "tunggu dulu di sini!", nathan kembali ke kamarnya dan kembali membawa sepatu hitam mengkilat dengan kaos kaki hitam.
"Pake ini!, wan gimana abang keren kan?", tanya nathan menyerahkan sepatu itu pada farhan dan mengalihkan pandangan keluarganya pada dirinya dengan meminta pendapat si bungsu.
Ridwan tidak menjawab dan memperhatikan farhan, bunda elfie yang mengerti maksud nathan langsung menjawab denagn mengacungkan dua jempolnya.
"Anak bunda memang keren keren!", ucap bunda elfie tersenyum sekilas.
Bersambung...