Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Ku dekap ku sayang sayang



Leonard membuka pintu kaca di depan matanya, sebuah pemandangan yang sangat hangat dengan gorden putih dan cat semua putih dengan dekoran dekoran yang selaras memanjakan mata yang melihatnya.


"Selamat datang di rumah baru kita istri ku!", leonard tersenyum lembut mempersilahkan istrinya masuk, sebuah untaian do'a dan kalimat suci terucap begitu mereka memasuki rumah baru mereka.


"Sangat nyaman", bisik raisa tersenyum lembut merasakan desiran kenyamanan membumbung di dadanya.


"Alhamdulillah kalo kamu suka", leonard mengecup kening istrinya sekilas, " ayo jalan jalan di rumah baru!", leonard menggenggam tangan istri tersayangnya mengajaknya berkeliling.


"Tapi aku belum berganti pakaian dan lagi aku masih pake mukena, heheh...", raisa nyengir memamerkan gigi putihnya.


"Feeet... ayo ke kamar ganti baju dulu kalo gitu, kamu juga belum makan apa apa kan!, nanti aku siapin sekarang ayo ikut aku, kita akan ke kamar baru kita", leonard menarik tangan raisa menuju lantai dua, membawa raisa ke sebuah pintu yang sangat berbeda dari yang lainnya, " ini kamar kita sekarang!", leonard membuka pintu mempersilahkan sang istri untuk melihat keindahan di ruangan yang telah cukup lama di persiapkan olehnya.


"Cantik sekali", raisa tersenyum lebar melihat kamarnya yang langsung menghadap ke tepi pantai.


"Suka?", leonard mendekap tubuh yang tengah menikmati angin yang masuk ke dalam kamarnya melalui jendela yang terbuka.


"Terima kasih, sangat suka", raisa tersenyum bahagia dengan keindahan di upuk matanya.


"Sukur deh kalo suka, ayo ganti bajunya aku tunggu di bawah", leonard tersenyum meninggalakan sang istri yang tengah menikmati keindahan yang tersaji.


Di kamar itu terdapat tiga buah pintu raisa membuka satu persatu yang mana terdapat ruang kerja leo, kamar mandi, dan yang ter akhir yang membuatnya tercengang adalah sebuah ruangan ganti dengan berbagai benda di tempatkan berdasarkan jenisnya, seperti tas, sepatu, jam tangan, pakaian dan lain sejenisnya, raisa menutup mulut memasuki ruangan yang sangat mewah dengan aksen warna keemasan dan mengambil sebuah gamis yang langsung di kenakan raisa.


Raisa melenggang meninggalkan kamarnya melihat sekeliling hingga sebuah suara bising terdengar dari tempat yang cukup terbuka.


Nampak leonard yang tengah memasak dengan telaten dia menyiapkan makanan untuk raisa.


Greb, raisa memeluk leonard dari belakang, "masak apa?", tanya raisa manja, leonard tersenyum lembut.


"Buat makanan untuk istri nakal yang gak mau makan sejak pagi", goda leonard mencubit hidung raisa.


Rambut raisa yang tergerai indah memancarkan kecantikan tersendiri yang membuat raisa semakin menggoda di mata leonard.


"Ayo makan!", leonard tersenyum mengangkat tubuh mungil raisa dengan sebelah lengannya dan sebelahnya lagi dia membawa piring berisi roti isi.


"Kakak gak makan?", tanya raisa melihat roti yang di buat leonard hanya satu.


"Aku udah makan tadi di hotel", ucap leonard yang langsung mendudukkan raisa di atas pahanya.


"Hmm.. Suapin!", raisa menjadi manja dan itu amat di sukai leonard, dia terkekeh gemas dan mengecup pipi istrinya.


"Baiklah, setelah ini kita dzuhur dulu ya!, di sini tidak akan terdengar suara adzan karena hanya ada kita berdua di pulau ini", ucap leonard tersenyum simpul.


"Ha.. Uhuk.. Uhuk.. Kak.. Uhuk.. Cuma kita berdua?", raisa terkejut dan tersendat akibat ucapan leonard.


"Nih minum dulu, iya kita cuma berdua, jadi apapun yang akan kita lakuan di sini jangan takut akan ada orang yang melihat", leonard menggoda istrinya yang tengah terkejut.


Raisa membelalakkan matanya, 'mati aku!, pasti harus kerja keras mulai sekarang', bisik hati raisa yang mulai ketakutan.


"Tenanglah aku juga tahu batasan", leonard meluruskan ucapannya melihat raisa yang nampak ketakutan.


"Tapi kan kalo kakak tahan tahan aku yang takut dosa kak", raisa menghembuskan nafasnya kasar.


'Biarlah ku dekap ku sayang sayang, itu sudah cukup membuat ku bahagia istri ku', bisik hati leonard.


Raisa melanjutkan makannya menikmati setiap suapan yang terasa nikmat karena di buat penuh cinta oleh suaminya.


Raisa bersama leonard malaku kan sholat berjamaah di kamar mereka.


"Kita ke pantai yu?", ajak leonard saat sudah siap dengan baju pantainya.


Raisa menggeleng, "panas kak!", ucap raisa tersenyum, dia melihat pasir yang seakan terbakar sengatan matahari, sangat berbeda dengan cuaca pagi tadi yang sempat mendung dan gerimis.


Leonard pun mengangguk dan hanya mengajak raisa menikmati sekeliling rumah yang berada di pulau terpencil, meski begitu pulau itu laksana surga di bumi yang tidak terlihat di navigasi, bagaimana tidak pulau itu amat indah di pandang mata, berpadang katifah hijau rerumputan, dengan semerbak wewangian dari bunga yang tumbuh bermekaran, berlangit bertudung awan, bergunungkan bukit, berpantai lautan, sungguh pemandangan yang tak ternilai.


Pinggang raisa yang terasa berdenyut tak sanggup kembali melangkahkan kakinya, dia terduduk di tepi kolam indah dengan air bening di pandang mata.


"Aku gak sanggup jalan lagi sayang", raisa enggan beranjak dari duduknya, leonard terkekeh dan mengangkat tubuh mungil raisa.


"Maaf, semalam aku keterlaluan", ucap leonard yang mana dirinya tak mampu menahan diri saat nafsu menggeluncah bercampur birahi.


Raisa mengangguk dan menikmati dekapan suaminya, "kalo aku tiba tiba beser itu juga normal ya?", tanya raisa yang merasa aneh karena dia selalu ingin buang air.


Leonard mengangguk, "sebenarnya itu gak normal, tapi bisa jadi normal karena itu salah ku yang keterlaluan", leonard tersenyum duduk di sofa rumahnya dan mendekap raisa.


Raisa mengangkat alisnya menatap mata indah dengan warna coklat terang, "ya maksudnya begini sayang kalo pertama kali memang seperti itu apalagi yang gas pool pasti akan merasakan keanehan dan itu masih terbilang normal", ucap leonard menjelaskan, yang mana dirinya telah belajar tak kala berpuasa di kamarnya untuk menahan diri untuk tidak memakan raisa.


Raisa mengangguk mengerti, dan memeluk tubuh leonard penuh sayang.


Senda gurau menjadi kenyamanan tersendiri bagi raisa dan leonard mereka yang memang belum terlalu saling mengenal membocorkan beberapa rahasia saat perjalanan hidup yang sempat mereka tapaki.


"Pernah ada berapa pria yang melamar mu sayang?", tanya leonard menatap lembut wajah manis sang istri.


Raisa menggeleng, "aku gak ingat, tapi memang ada yang pernah melamar", ucap raisa tersenyum sekilas.


"Hmmm.. bila saat itu kita tidak bertemu apakah kita akan seperti sekarang?, heeem.. aku sampe mikir kalo seandainya aku gak ketemu kamu, kamu pasti sekarang sudah menikah dengan orang lain", ucap leonard galau.


"Feeet.. Allah tahu yang terbaik bagi kita sayang, lagi pula aku juga akan menunggu kakak nikah dulu kalo seandainya aku akan menikah, bila sekiranya aku sudah tidak punya harapan baru aku akan menikah dengan orang lain", jawab raisa tersenyum lembut membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya.


"Menunggu aku nikah duluan?", tanya leonard penasaran dengan kelanjutan ucapan raisa.


"Iya kan kakak sering uploud foto kak eki, dan bilang kalo dia calon istri kakak", ucap raisa mengingat ingat kehebohan yang terjadi saat dirinya bersama dua sahabatnya melihat video leonard.


Leonard mengangguk mengerti, "saat itu apa kamu cemburu?", tanya leonard penasaran.


"Kakak fikir?, bagaimana perasaan ku saat itu kak?, tapi ya sudahlah lagi pula sekarang kakak sudah jadi suami aku buat apa musingin masa lalu", ucap raisa yang enggan mengungkit masa lalu.


Leonard mengangguk setuju dan mengecup rambut sang istri yang berada di ujung hidungnya.


Bersambung...