Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Kecanggungan



Malam itu Alika mengerubungi tubuhnya dengan selimut tebal. 'apa suami akan minta lagi ya, uuh... Yang tadi juga masih saki.' Alika tanpa sadar menutup matanya hingga tertidur pulas.


Rama yang baru keluar dari kamar mandi terkekeh menatap tubuh isterinya yang tengah terbalut sempurna oleh selimut tebal, Rama mendekat dan tersenyum namun dia kembali menghadap lemarinya mengenakan baju tidurnya. Rama akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang dan memeluk tubuh Alika dengan hati hati karena takut bila isterinya terbangun akibat gerakannya. Rama mendekap erat tubuh wanitanya itu hingga dirinyapun ikut larut dalam mimpi.


*


*


*


Pukul 2 dini hari Alika terbangun dan mengerjapkan matanya merasakan benda berat yang kini ada di atas tubuhnya. Alika menggeliat dan terbelalak menatap Rama yang tengah memeluknya, dia hampir lupa bila dia kini telah menikah dan akhirnya diapun sadar dan menghadap menatap wajah Rama.


Wajah yang putih dengan rahang kokoh dan hidung mancung denagn mata yang terpejam, bulu mata yang lentik dengan alis tegas yang begitu mempesona.


"Apa sayang?" Rama ikut terbangun dan menatap mata Alika hingga pandangan mereka saling beradu. Wajah alika memanas dan memalingkan matanya membuat Rama ikut terkekeh gemas dengan tingkah isterinya.


"Kenapa sayang?" tanya lagi Rama dan membelai pipi Alika yang kini nampak merona. Alika terdiam merasakan getaran hebat di dadanya yang kian meronta ronta.


"Gak papa kok!, udah adzan subuh, sholat berjamaah yu!" ajak Alika dan kembali membuat Rama kian gemas menatap punggung isterinya yang telah terbangun. Rama tahu betul rasa canggung yang mungkin kini di rasakan Alika, mau bagaimanapun dulu dirinya adalah paman kecil yang selalu menjaganya.


Tanpa permintaan dua kali Ramapun terbangun yang masih berada di atas pembaringannya dengan lekat lekat Rama menatap Alika yang memasuki kamar mandi hendak membersihkan diri dan melakukan wudhu, Rama menunggu di atas ranjang seraya merapikan bekas tidur mereka. Merapikan selimut tebal dan bantal guling yang telah menemani malam mereka.


Alika keluar kamar mandi dan melihat ranjang yang telah rapi. Rama tersenyum menatap Alika dengan rambut basahnya. Hanya dalam diam mereka saling menafsirkan dengan beradu pandang mereka mengerti dengan keadaan.


Rama memasuki kamar mandi dan membersihkan diri mengambil air wudhu. Alika yang berada di dalam kamar menyiapkan tempat untuk mereka melakukan sholat.


*


*


*


Waktu menunjukkan pukul 7 pagi Alika di bantu Rama menyiapkan sarapan mereka.


Mereka yang sudah saling mengerti dengan makanan dan masakan apa yang paling mereka nikmati tak perlu mencari tahu harus bagaimana, mungkin terlihat membosankan namun berbeda dengan mereka dengan situasi yang biasa mereka lakukan namun dengan status yang jauh berbeda dengan sebelumnya mereka rasakan.


Kondisi memasak yang kondusif meski tak ada yang berbicara satu sama lainpun membuat kegiatan memasak mereka cepat selesai hingga mereka makan bersama bersantap melahap makanan mereka.


"Apa mau ke pemakaman hari ini?" tanya Rama yang memang dirinyapun kini terbawa merasakan gugup. Alika mengangkat wajahnya setelah begitu lama memandangi makanan yang tengah dia lahap.


"Iya, bila suami ada waktu." Raisa kembali menundukkan pandangannya. Entah situasi aneh apa yang tercipta kini baik Raisa maupun Rama keduanya merasakan kecanggungan luar biasa.


"Ada, kita berangkat jam 10 pagi, kalo terlalu pagi jalannya tidak akan terlalu mendukung karena licin, bagaimana?" Rama memberikan nasihat sekaligus menanyakan kembali pendapat isterinya.


Alika mengangguk setuju dan membawa piring yang semula dia gunakan dan di bersihkan sebdiri. Mungkin perasaan Alika kini amat sangat tidak karuan dan sangat sulit di tafsirkan.


"Taruh saja di tempat cucian piringnya nanti aku cuci, aku akan bersiap dulu." Alika menaiki tangga rumahnya dan melangkah menuju kamar yang terletak di lantai dua itu.


"Pakai celana, dan pakaiannya harus agak hangat." Rama mewanti wanti isterinya karena perjalanan yang akan mereka lewati tidak akan mudah.


"Ah ya ampun kenapa jadi canggung begini!" Rama merasakan pipinya yang nampak memanas setelah kepergian Alika. Dia sama sekali tak menyangka bila situasinya akan menjadi secanggung ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" Rama menghembuskan nafasnya kasar merasakan hal aneh yang sedari tadi terua bergejolak. Mungkin sebelumnya dia tidak pernah merasakan cinta namun hanya sayang dan ingin melindungi saja. Namun sekarang cinta itu kian tumbuh sehingga mampu menciptakan suasana canggung luar biasa.


Rama menyelsaikan makannya dan membersihkan bekas makannya sendiri, sisa makanan yang masih banyak dia berikan kepada para penjaga yang berada di depan gerbang. Hingga diapun kembali ke rumah memeriksa garasi kendaraannya.


Rama memperhatikan beberapa sepeda motor yang akan dia bawa. Karena tempat yang dia tuju mustahil baginya menggunakan mobil, jalur yang cukup sulit di lalui karena sebelumnya dia mendapatkan kabar bila daerah yang jauh dari tempat pemukiman itu mengalami longsor dan tidak dapat di lalui kendaraan roda 4.


...


Alika memilah dan memilih baju yang Rama kembalikan, karena sebelumnya sempat dia sembunyikan Alika memilih sebuah levis yang cukup ketat, tapi dia kembali menimang takut bila suaminya tak mengijinkan dirinya menggunakan pakaian seperti itu.


Ceklek..


Pintu kamar terbuka dan terlihat Rama yang memasuki kamar, Alika mendekat dan memperlihatkan apa yang akan dia kenakan.


"Suami boleh tidak aku menggunakan celana seperti ini?" Alika bertanya dengan sedikit memohon.


"Itu di sediakan untuk di guakan sayang." Rama mengelus rambut Alika yang nampak sudah cantik.


"Maaf aku belum terbiasa menggunakan kerudung." Alika menundukkan pandangannya berharap suaminya mengizinkan dirinya tidak mengenakan kerudung.


"Iya, semuanya juga perlu proses, lakukanlah apa yang sekiranya nyaman terlebih dahulu namun cobalah untuk berusaha terbiasa dengan pakaian tertutup dan kerudung." Rama tersenyum memberikan penuturannya. Alika mengangguk faham dan mengangkat wajahnya tersenyum dengan ukiran bibir terindahnya kepada Rama.


'Cantik sekali,' tanpa sadar Rama meraih tubuh Alika dan mendekapnya erat. Alika yang terkejut terperanjat menatap wajah tampan yang berada di atas tubuhnya. Hembusan nafas Rama menyapu lembut wajah Alika hingga tanpa sadar Rama langsung menyatukan bibir mereka, mata alika melotot menatap mata rama yang terpejam dan merasakan lidah Rama yang berusaha merangsak masuk menuju rongga mulutnya.


Alika menutup matanya, ' aku berdosa bila tidak melayanimu suami, maka maafkan aku yang semalam langsung tertidur,' ucap hati Alika dan melingkarkan tangannya di leher kokoh suaminya.


Rama yang merasa mendapatkan balasan kini menjadi kian liar, meski dengan sangat lembut dan hati hati namun dia sangat menikmati, hingga akhirnya terjadi tahapan tahapan berikutnya.


*


*


*


Alika menatap tubuhnya di depan cermin dan terlihat bintik bintik merah di leher, dada, perut, punggung, bahkan pahanya. Bintik bintik merah itu nampak brutal menghiasi tubuh Alika.


"Ya ampun suami ganas sekali." Alika terkekeh geli namun hubungan suami isterinya kini terasa jauh berbeda dan lebih jauh terasa nikmat tanpa rasa sakit.


Bersbung...


Raisa memaohon maaf bila akhir akhir ini sangat jarang update di karenakan kondisi kesehatan Raisa yang tidak baik dan mendukung.


Mohon do'a nya dari para pembaca sekalian untuk kesembuhan Raisa teeimakasih... 🙏🙏🙏