
Perlahan Alika membuka matanya dan merasakan sentuhan lembut di dada kirinya, matanya membulat saat yang dia rasakan ternyata benar, namun matanya kembali sayu saat yang dia lihat adalah sang suami.
Alika menyentuh tangan Rama yang tengah mengelusnya lembut, menatap mata pria itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.
"Terima kasih Sayang!" ucap Alika berbalik mengelus tangan Rama yang terasa hangat.
Merasakan sentuhan itu bulu kunduk Rama menjadi bediri dan merinding, merasakan desiran yang kian menyebar ke seluruh tubuhnya, pipinya memerah.
"Sayang bagaimana sekarang?" Rama menundukkan pandangannya menatap bibir sang isteri yang nampak pucat namun sangat menggodanya.
"Aku baik baik saja!" ucap Alika lembut dengan senyum di bibirnya.
Tanpa bisa di tahan Rama mengecup bibir sang isteri yang sedari tadi sudah sangat menggodanya, Alika yang baru terbangun menjadi kesulitan bernafas dengan rasa sesak yang begitu terasa.
Dengan terpaksa Alika ingin mendorong tubuh suaminya, namun sebelum niatnya di lakukan terdengar suara denyitan pintu terbuka.
"Aw.. aku keluar lagi..!" Ferry kembali keluar saat matanya tak sengaja menangkap potret yang tidak boleh di lihatnya.
Merasa terciduk Rama mendengus kesal, berbeda dengan Alika yang terkekeh geli melihat ekspresi suaminya.
"Bener baik baik aja?" tanya lagi Rama menyelidik wajah sang isteri.
"Heheh.. Sebenarnya alik lapar suami.." Alika tersenyum membuat Rama yang mendengar itu menepuk jidatnya merasa bodoh akan kelakuannya sendiri yang belum memberikan asupan pada sang isteri.
"Aduuuh lupa, mau makan apa sayang?" tanya Rama membantu Alika membenahkan bajunya yang tersibak ke atas.
"Sate enak kayanya!" ucap Alika yang sebenarnya dia takut bila suamina melakukan hal semacam tadi, dadanya yang sesak bisa saja membuatnya pingsaan kembali bila mendapatkan ciuman semacam tadi.
"Okedeh, tunggu ya sayang!, dan makannya di jalan aja ya kita harus ke RS sekarang!" ucap Rama tersenyum lembut.
Alia tersnyum lembut dan mengangguk kemudian, dengan hati hati Alika berusaha bangkit dari duduknya namun karena kepalanya yang terasa pusing dia amat sulit untuk bangkit. Rama yang menyadari kesulitan isterinya ingin keluarpun mengurungkan niatnya lantas mendekat dan membantu sang isteri untuk bangkit dan dirasa sangat susah Rama langsung mengangkat saja tubuh isterinya itu.
Rama dengan hati hati keluar ruangan itu bersama Alika dalam dekapannya, Ferry yang tadi sempat memergoki mereka nampak sudah tidak ada.
Sebelumnya Ferry mendapatkan kabar bila Gunawan sudah meninggal dan lantas ingin pamit pada Rama hingga akhirnya tanpa sengaja dia memergoki kelakuan Rama yang tengah mencium isterinya.
Ferry sangat terkejut saat mendapatkan kabar itu, dan kini dari geng lima orang itu hanya tersisa dua orang yaitu dirinya dan Amry saja.
Rama celingukan mencari sosok Ferry namun nampak Ferry yang sudah tidak ada. Dirasa Rama yang tengah mencari seseorang Amry pun bertanya.
"Sedang mencari siapa?" tanya Amry menatap Rama yang nampak celingukkan.
"Kemana perginya Dokter itu?" tanya rama dengan sorot mata yang menghunus tajam.
"Dia sudah pergi lebih dahulu ke ruamh sakit." Jawab Amry dan melihat para pengawal Rama yang terus bersiaga.
"Baiklah, mana mobil untukku, dia akan ikut denganku!" ucap Rama pada pengawalnya, salah seorang pengawalnya mempersilahkan Rama menuju sebuah mobil yang sudah mereka siapkan.
Rama sekilas tersenyum pada sang isteri yang berada dalam dekapannya saat pintu mobil terbuka.
Semua orang memperhatikan sifat Rama yang sangat berbeda saat bersikap pada isteri dan orang lain, dia nampak sangat jauh berbeda.
Rama, Alika, Amry dan seorang supir dalam mobil yang sama menuju ke rumah sakit.
Rama mengambil makanannya dan memberikan pada sang isteri, Amry dan Supir.
"Kalian makan juga, dan kamu setelah mengantarkan kami, kamu juga harus makan." ucap Rama pada supirnya, dengan terus memperhatikan jalan supir itu mengangguk.
"Terima kasih tuan!" ucap supir itu tersenyum sekilas.
Rama menjawab ucapan itu dengan senyuman dan menatap Alika.
"Porsi aku banyak, buat berdua ya?" tanya Alika menyelidik suaminya, tanpa mengelak Rama mengangguk mengiyakan.
Amry yang memperhatikan itu lantas tersenyum lembut penuh kebahagiaan, ada terasa bunga bunga yang bermekaran di sanubarinya saat melihat kemesraan Rama dan Alika.
Perjalanan itupun di lanjutkan, Rama sangat gemas melihat sang isteri yang tengah memakan sate.
"Gimana rasanya?" tanya Rama tersenyum lembut menatap isterinya yang tengah memakan sate.
"Mau tau rasanya?" yanya Alika mengedipkan sebelah matanya memberikan kesan sangat imut.
Rama mengangguk dengan senyum yang tak lepas di bibirnya dan mata yang terus memperhatikan wajah Alika yang nampak begitu mempesona.
"Nih!" Alika menyodorkan setu tusukan sate pada Rama dengan bumbu kacang yang melekat, terlihat sangat nikmat.
Rama tersenyum dan memakan suapan dari isterinya rasa bumbu kacang yang melumer di lidahnya dengan daging yang terasa lembut.
"Enak?" tanya Alika berbalik bertanyam Rama mengangguk mengiyakan.
"Makanan apapun yang kamu suapkan padaku pasti enak sayang." ucap Rama mengusap bumbu kacang yang nampak disudut bibir isterinya.
"Masa iya kalo buah mahonipun apa akan enak?" ucap Alika memajukan bibirnya.
"Feet.. apapun itu tanpa terkecuali.." ucap Rama dengan senyum penuh menggodanya.
"Hmmm.." nampak semirak merak merah di pipi Alika dan membuat Rama sangat gemas di buatnya.
Gemercik air mulai turun perlahan dari langit menyentuh jalanan aspal yang baru saja terasa membakar, seliweran kendaraan di jalan besar memperlihatkan kebiasaan sehari harinya di kota metropolitan, Alika dan Rama menghabiskan makanannya dn kini Alika tengah tertidur di paha sang suami menunggu sampai di Rumah Sakit.
Suasana syahdu dan hening dari ucapan hanya suara telakson, deru kendaraan dan suara hujan yang terdengar memenuhi telinga mereka. Rama terus mengelus kerudung sang isteri penuh kelembutan.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Amry berhasil memecah keheningan.
"Secara negara sudah dua tahun dan bila secara agama baru dua hari!" jawab Rama memperhatikan wajah sang isteri yang nampak tertidur lelap.
"Kenapa tidak sekalian saja dua tahun lalu?" tanya Amry merasa penasaran dengan hubungan aneh mereka.
"Dulu kami sembunyi di taman hijau dan aku sangat takut kebablasan makanya mendaftarkan secara formal dulu, tapi untungnya aku bisa menahan diri dan menunggunya hingga kemarin kami melakukan akad." ucap Rama menerangkan.
"Pengantin baru rupanya, bersabatlah memang saat awal awal pernikahan akan begitu banyak cobaan dan rintangan jadi harus siap menghapinya." Nasihat Amry, Rama mengangguk setuju dengan ucapan Amry yang menasehatinya tanpa membantah.
Suasana kembali sunyi hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah sakit yang cukup besar, dan suara mobilpun di matikan.
Bersambung...