Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Cuma satu, dan hanya kamu!



"Lepas setan!", atikah berontak kian menjadi namun dengan tanpa bersalahnya nathan malah kian semakin mendekap erat tubuh atikah.


"Aku tahu kamu curi curi pandang ngeliatin tubuh aku, kalo mau sentuh, sentuh aja sepuasnya!", ujar nathan membuka matanya sebelah.


Blush, wajah atikah seketika memanas dan memerah, dia menyadari kini tangannya tengah menyentuh dada bidang nathan, "jangan malu gitu!, nanti juga tiap hari kaya gini", ucap nathan dan semakin membuat atikah tertegun dengan wajah yang merah padam.


"Aku sayang kamu tikah!", ucap nathan di rasa atikah yang sudah tidak berontak lagi.


"Sayang ya sayang, ingat setan kita belum nikah!, kita masih belum muhrim, faham!", bentak atikah marah besar.


"Tapi aku harus gimana ngasih tahu kalo aku sayang banget ke kamu, sekarang kita terdampar di pulau tanpa manusia kecuali kita berdua, dan kini kita layaknya adam dan hawa, kita harus apa?, mau nikah aja gak ada saksi dan penghulunya", keluh nathan mengecup kening atikah.


"Setan!", atikah melotot saat bibir nathan menyentuh keningnya.


"Kalo kamu sayang ke aku jangan seret aku berbuat dosa kaya gini!, kalo beneran sayang sebaiknya kamu sayangi jiwa ragaku bukan cuma omdo!", atikah berontak kembali dan berhasil lepas.


"Helikopter!", atikah melihat sebuah helikopter mendarat tak jauh dari tempatnya, nathan berdecak kesal dia mengikuti langkah atikah setelah merapikan barang bawaannya dan terlihat rumah raisa dan leonard yang tak jauh dari tempatnya berdiri dan sebuah helikopter beserta pilotnya.


Pilot itu menghampiri nathan yang baru sampai di depan rumah, "kenapa?", tanya nathan ketus.


"Maaf tuan muda kedua, itu nona pertama ica sakit dan bunda meminta nona kedua atikah untuk menemani nona pertama!", ucap pilot itu ketakutan saat melihat nathan yang tengah marah.


"Yeeey.. Ingat janji kamu!, aku tunggu undangan buat pakai baju pengantin!", ancam atikah dan bersorak langsung memasuki rumah, dan menyimpan barang bawaannya, mandi dan sedikit berdandan.


Nathan menggeleng tapi sangat senang mendapatkan ancaman seperti itu dari atikah dan berjalan masuk sama seperti yang di lakukan atikah, keduanya sudah siap dengan wajah yang sama sama sudah cantik dan tampan.


Blush, wajah keduanya memerah saat bertatap muka, 'imut banget', bisik hati keduanya, "anda berdua sangat cocok!", seru pilot dari ambang pintu yang melihat mereka.


Atikah menundukkan wajahnya menyembunyikan semirak merah yang tertanam di wajahnya, nathan tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya, "ayo!", atikah menggenggam tangan nathan dan sontak saja membuat dada nathan berdegup tak beraturan.


Nathan mengangkat tangannya yang di genggam atikah, "ini mutiara dari kerang kemarin, aku juga udah tambahin aksesoris lain di situ, di pake ya!", nathan menyerahkan sebah gelang dengan mutiara yang tertanam dan beberapa hiasan indah, atikah terdiam memperhatikan nathan membantunya masang gelang itu.


"Terima kasih calon suami", atikah berbisik lirih namun karena jarak mereka sangat berdekatan dapat tertangkap dengan jelas di telinga nathan.


Nathan sangat senang namun dia tidak ingin menjadikan suasana yang tercipta menjadi ambyar hingga akhirnya dia hanya tersenyum dan mengelus lembut lengan atikah.


Bila nathan berbicara dan berusaha menggoda atikah tentu suasananya tidak akan sesahdu itu, karena dapat di pastikan sifat bar bar atikah akan kumat dan menghancurkan suasana yang sempat tercipta.


"Ayo tuan, nona kita berangkat!", ucap pilot itu tersenyum ke arah mereka, atikah mengangguk bersama nathan berjalan menuju capung besi yang agak jauh dari rumah raisa dan leonard.


Mereka berdua menaiki capung besi itu itu dan rasa lelah menggeliat memenuhi tubuh atikah hingga akhirnya tertidur di pundak nathan, nathan tersenyum lembut dan memeluk atikah membiarkan gadis itu dalam dekapannya hingga sampai di sebuah atap gedung rumah sakit, nathan yang tak ingin membangunkan atikah dia mengangkat tubuh tinggi kecil itu turun mengikuti ajudan yang di kirimkan ayah dzikri.


Nathan memasuki ruangan raisa dan di lihatnya ayah dzikri dan leonard yang tengah duduk di sofa, keduanya kebingungan melihat nathan yang tengah membawa atikah.


"Atikah sakit?", tanya ayah dzikri kebingungan.


"Gak kok, dia kelelahan tadi kita habis nyari sayuran eh malah ketemu ular, alhasil di kejar kejar sampe nyasar di hutan", ucap nathan duduk di samping ayah dzikri dengan atikah yang masih dalam pelukannya.


Leonard hanya terdiam memegang kepalanya yang terasa sakit, dia melihat bagaimana nathan yang memperlakukan atikah dengan sangat lembut dan penuh perhatian hingga wanita bar bar seperti atikah saja bisa luluh di samping nathan, sedangkan dirinya istrinya sakit saja dia tidak sadar, dia benar benar bodoh, hingga air matanya tak terasa merembas membasuhi matanya.


Setelah satu jam lebih nathan pun ikut tertidur di atas sofa dengan masih memeluk atikah dan ayah dzikri melihat keduanya yang nampak saling menyayangi.


"Lihat seperti itulah bentuk saling menyayangi, bukan malah mengunci istrimu dan tidak membiarkan dia berinteraksi dengan dunia luar, kamu juga malah seenaknya membatasi kehidupan istrimu, dan kamu juga tidak sadar dengan kondisi istri sendiri, sungguh memalukan!", ucap ayah dizkri memaki leonard, berharap putranya sadar dan memperbaiki sikapnya, leonard tertunduk enggan berbicara.


"Maaf sayang, semua salah kakak, sayang bangun!", leonard tidak tahan dengan apa yang terjadi dan air matanya tak dapat di bendung, dia menangis membasuhi lengan raisa.


Atikah yang memang kebo versi manusia tak bangun mendengar isak leonard yang cukup jelas, dia malah mendekap erat tubuh nathan, berbeda dengan nathan yang terbangun dan merasakan pelukan hangat dari atikah, "nakal", nathan berbisik namun atikah tetap terjaga.


Perlahan raisa membuka matanya merasakan tangan hangat yang menggenggam tangannya dan melihat leonard, "kak?", raisa menatap nanar ke arah suaminya.


"Iya sayang, aku di sini sayang!", leonard mengusap air matanya kasar dan menatap raisa.


"Maaf kak aku gak siap di madu, kalo kakak memang mencintai wanita itu, tolong tunggu aku melahirkan dan ceraikan aku, aku tidak sanggup bila harus di madu", ucap raisa dengan air mata yang mengalir.


"Kamu bicara apa sayang, selamanya istri kakak hanya satu dan itu kamu!, jangan mikirin yang aneh aneh!, kakak sayang kamu istri", ucap leonard lirih, raisa tersenyum kecut.


"Tidak baik berzinah kak, bila kakak mau bisa kakak nika..", leonard menempelkan jarinya di bibir raisa hingga raisa terdiam.


"Kamu salah faham sayang, dia bukan apa apa di hadapan aku, aku malah jijik lihatnya, sekarang dan selamanya hanya kamu yang kakak sayangi dan hanya kamu satu satunya wanita yang akan mengisi kehidupan kakak kedepannya, jangan berfikiran yang tidak tidak ya sayang!", leonard mengusap kening raisa, dengan senyum lembut raisa mengangguk.


Ayah dzikri bersyukur melihat mereka yang sudah dapat memperbaiki kesalah fahamannya, dia juga bersyukur karena raisa adalah orang yang pemaaf dan dapat memberikan kelapangan meski dengan banyak himpitan di hatinya.


Brak.. Pintu kamar raisa terbuka dengan sangat kencang, "bentar afifah!, gue masih ngantuk!", ucap atikah polos dan menaikkan kakinya memeluk nathan, raisa melihat ke arah sofa dan melihat atikah yang tengah tertidur memeluk nathan.


"Atikah?", mata raisa membulat sempurna hampir tak percaya melihat apa yang di lakukan sahabatnya.


Bunda elfie yang baru datang dan melihat nathan menggelengkan kepalanya, namun dia tidak marah karena atikah lah yang memeluk putra keduanya bukan nathan yang memaksa.


"Ayang, bangun!, kita udah sampe!", bisik mesra nathan dan sontak saja atikah terkejut dan membulatkan matanya dan mendorong tububh nathan.


Bruk, tubuh nathan terjatuh dari sofa, "seetaaan!", atikah berteriak murka, bunda elfie terkekeh begitu pula raisa, leonard dan ayah dzikri.


Atikah kembali membelalakkan matanya saat melihat semua orang yang sudah berkumpul dalam satu ruangan begitu juga raisa.


Atikah berjingkarak mendekati raisa, "ica kamu tega ninggalin aku sama pria macam dia di pulau terpencil gitu!", seru atikah tak terima.


Raisa tertegun tidak mengerti, atikah yang melihat raisa yang nampak tidak mengerti melihat bunda elfie, dan bunda elfie malah menatap kan matanya pada leonard.


"Nathan yang minta!", seru leonard menjual adiknya sendiri atas apa yang dia lakukan.


"Dasar tukang kibul lo!, mana ada si setan ngelakuin hal kaya gitu, kalo dia mau bisa aja dia nikahin aku dulu baru ngajak bulan madu bukan ngelakuin hal yang mengundang dosa gitu!", cecar atikah menyudutkan leonard, raisa mengangkat alisnya tidak mengerti.


"Kenapa tikah?, kenapa kamu ngejelekin suami aku?", tanya raisa tak terima mendapati suaminya yang tengah di sudutkan.


"Heeh.. Ni ya ca!, kelakuan suami kamu ini udah keterlaluan banget, masa iya aku sama nathan di tinggal di taman hijau", ujar atikah dengan wajah cemberutnya.


Raisa menoleh tatapannya menghunus tajam pada leonard, "sayang jangan salah faham, aku ngelakuin itu di suruh sama nathan tau!, yang positif ya pikirannya kamu lagi hamil loh", seru leonard memelas dengan wajah manisnya.


"Iya sayang, maaf itu salah aku, shuuut!, ica lagi sakit jangan buat dia tambah sakit, nanti kita hajar si leo di belakang ica!", seru nathan dengan suara yang kian di pelankan.


Atikah mengangguk mengerti dan menguap lagi, "aku ngantuk banget!", seru atikah malas dan duduk di sofa panjang, di dekat ayah dzikri.


Atikah kembali tertidur, dan enggan berinteraksi menahan rasa amarahnya, "sayang dzuhur dulu yu, ini udah waktu sholat asar malah", nathan menarik tangan atikah dan dengan malas atikah bangun dan keluar dari kamar raisa mengikuti natan menuju mushola.


Bersambung...