Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Lamar aku!



Suasana hening sejenak hingga akhirnya bunda elfie buka suara setelah duduk di samping suaminya, "bagaimana kata dokter?", tanya bunda elfie pada suaminya.


"Alhamdulillah baik ica atau putra putrinya sehat, meski dia harus melahirkan secara prematur", ucap ayah dzikri tersenyum menatap istrinya.


"Syukurlah, baik baik jaga ica!, kalo kamu sampai lengah lagi, bunda gak akan maafin kamu leo!", ancam bunda elfie menunjukkan jarinya ke arah leo.


"Iya aku tahu bun, maaf sayang si kembar pasti baik baik aja!", ucap leonard mengelus perut raisa.


"Kembar?", bunda elfie dan raisa, bertanya bersamaan.


"Iya bun kembar, aku juga bingung aku kan gak punya keturunan kembar", seru leonard, namun bunda elfie menggeleng.


"Kata siapa, bunda punya kembaran, bunda anak ke dua dari lima bersaudara dan kakak pertama adalah kembaran bunda", ucap bunda elfie tersenyum lembut.


"Loh kok aku gak tahu si!", leonard kebingungan dengan identitas ibunya.


"Ya, kan kamu gak pernah nanya buat apa bunda kasih tahu!", bunda elfie nampak tidak perduli.


"Kak, aku mau sholat!", raisa menggenggam tangan suaminya dan membuat leonard tersenyum sekilas dan langsung mengangkat raisa.


"Sst..", raisa meringis saat infusan tertarik karena dirinya di angkat.


"Leo!", bunda elfie meradang melihat leonard yang tidak teliti dengan kondisi istrinya.


Leonard kembali tertunduk dan mendudukkan istrinya, "maaf sayang maaf, fuuuh..", leonard meniupi infusan di lengan raisa.


"Gak papa kok kak aku tadi cuma kaget doang!", ucap raisa mengelus tangan suaminya yang nampak khawatir.


Ayah dizkri menggelengkan kepalanya dan berdiri, "bunda sudah yu!, kita kembali ke kantor!, kasian ridwan sendirian", ucap ayah dzikri membiarkan leonard memiliki kesempatan berduaan bersama istrinya.


"Baru juga duduk!", ucap bunda elfie menggerutu, ayah dzikri tersenyum sekilas namun bunda elfie yang mengerti lantas berdiri dan menggandeng tangan suaminya keluar dari kamar tersebut.


"Sayang kenapa kamu gak cerita tentang penyakit kamu?", tanya leonard menggenggam kedua tangan istrinya.


"Maaf aku hanya takut kalo aku kasih tahu kakak, kakak akan nyuruh aku buat gugurin anak kita, aku gak terima kalo sampe itu terjadi sayang", ucap raisa tersenyum lembut dengan rasa bersalah.


"Fiyuh!, sayang kita tidak boleh merahasiakan apapun kedepannya satu sama lain ya!?", leonard menggenggam penuh sayang tangan kecil istrinya.


Dengan lembut raisa mengangguk, dengan senyum manisnya mampu menentramkan hati leonard yang semula sempat khawatir.


"Seeetaaan!, sialan lo!, sini gue jewer telinganya!", suara atikah terdengar murka, hingga akhirnya nathan masuk dan sembunyi di belakang leonard.


"Kenapa?", leonard mengangkat alisnya sebelah bertanya pada saudaranya.


"Ck, kalian berdua sama aja, nih!", atikah melemparkan sebuah buku kecil berwarna merah dan biru.


"Surat nikah?", leonard tertegun sejenak dan mengambil buku kecil tersebut, "lo emang saudara gue bro!", seru leonard tertawa menepuk pundak nathan.


Raisa yang memperhatikan mereka hanya menggeleng, "kapan resepsinya?", tanya atikah menatap sahabatnya.


"Resepsi apaan, akad aja belum!", atikah memalingkan wajahnya dari kedua orang pria yang nampak bersekongkol itu.


"Sabar ya!, mau kapan akadnya?", tanya lagi raisa menatap nathan.


"Niatnya si minggu depan pas pulang dari pulau sekalian resepsi, tapi kayanya aku gak akan tahan terus zinah mata, zinah tangan, zinah hati gini mendingan di cepetin aja, kan kata pepatah aja lebih cepat lebih baik", seru nathan cengar cengir sendiri.


"Bunda sama ayah udah tahu?", tanya leonard penasaran bagaimana reaksi orang tuanya.


"Belumlah, bisa bisa di cincang sama bunda kalo tahu aku kaya gini diam diam", ucap nathan berjalan menuju sofa.


Nathan tertegun dan menatap mata biru yang nampak mempesona, dengan bibir manis berwarna merah muda yang nampak amat menggoda, glek, nathan menelan Saliva nya sendiri menatap wajah atikah yang nampak sangat sempurna, "oke!", seru nathan singkat dia tak tahan menahan gejolak di dadanya dan mengecup paksa bibir atikah.


Atikah yang tidak menyangka tidak dapat bergerak karena pipi dan tengkuknya di pegang nathan, "huuft.. Hosh hosh", nathan melepaskan kecupannya setelah cukup lama membuat atikah ngos ngosan seperti habis naik gunung.


Plak, sebuah tamparan mengenai pipi atikah oleh tangannya sendiri, tamparan itu cukup keras berharap kesadarannya kembali pulih.


"Sayang!, kamu apa apaan!", nathan melihat pipi atikah yang memerah karena tamparannya sendiri dia meniupi pipi atikah dan langsung di dorong atikah kasar.


"Hiks.. Hiks.. Aku bodoh!, aku tahu ini dosa dan malah menikmatinya hiks.. Hiks..", atikah menangis, nathan yang melihat itu langsung memeluk atikah, meski atikah berontak namun dia tidak perduli dan kembali memeluknya.


Para perawat yang melihat itu menutup mata mereka dan melihat sekilas sekilas kejadian yang terekam kamera cctv itu, bahkan para pengawas cctv pun menjadi malu dan senyum senyum sendiri.


"Aku enggak bawa cincin atau bunga untuk melamar kamu sayang, aku bingung!, kecuali itu yang bisa aku lakukan", seru nathan melonggarkan sedikit pelukannya dan menatap mata yang terus mengeluarkan cairan.


"Huft..", atikah menungging kan bibirnya memberikan kesan menggemaskan, atikah berusaha meraih tangan nathan yang memeluknya namun malah di pererat pelukan itu, "pinjam tangannya!", seru atikah melotot.


Nathan mengangguk memberikan tangan kanannya, "krek..", atikah menggigit jari manis nathan hingga terdengar suara, nathan menggigit bibirnya menahan sakit.


"Atikah melepaskan gigitannya dan terlihat sebuah ukiran gigi di lengan nathan, "bila di mata kamu cincin itu sangat penting, maka itu gantinya sementara", ucap atikah mengulurkan tangan kanannya, "gigit nih!", seru atikah menyodorkan jari manisnya di hadapan bibir nathan.


"Cup", nathan mengecup lembut jari atiah dan tidak mengigit nya, dia mengulam senyum dan mengecup kening atikah, "aku tidak tega sayang!, ayo kita nikah!", seru nathan menggenggam lembut tangan atikah.


"Beneran?", tanya atikah memberanikan dirinya menatap mata coklat nathan, nathan mengangguk, mengusap sisa sisa air mata yang sempat mengaliri pipi atikah.


"Iya sayang!, kita kasih tahu ayah sama bunda dulu habis itu besok kita persiapkan semuanya dan kita adakan resepsi dan akadnya sekaligus!", seru nathan tersenyum lembut.


Atikah mengangguk setuju, dan kelihatannya atikah kembali menikung afifah untuk menikah duluan setelah sebelumnya raisa yang nikung dan menikah duluan.


Nathan menarik lengan atikah membawanya ke dalam kamar raisa, "mana surat nikahnya!, gue mau pulang ngambil baju", seru nathan yang langsung diserahkannya dua buku kecil dari lengan leonard ke lengan nathan.


"Ayo sayang!", nathan menggandeng tangan atikah dan berlalu keluar.


"Jaga baik baik sahabat gue!", ancam atikah pada leonard sebelum akhirnya menghilang di balik pintu, atikah dan leonard saling beradu pandang dan saling beradu senyum.


Nathan terdiam sejenak dia lupa bila dirinya tidak bawa uang sepeserpun dan hanya membawa beberapa kartu di dompetnya, dan tidak membawa ponsel karena memang masih di segel oleh leonard.


Atikah tersenyum lembut dan mengambil sebuah kartu dari dalam dompet nathan, "ini punya aku mulai sekarang, sebagai ganti rugi aku yang bayarin jalan kali ini!", seru atikah namun kembali di ambil oleh nathan.


"Nih punya kamu mulai sekarang, di sini duitnya cuma dikit, dan yang ini no limited!", seru nathan menyerahkan kartu hitamnya, "sandinya 01122001", atikah melotot seketika.


"Itukan tanggal lahir aku, dari mana kamu tahu!", tanya atikah melotot.


"Kan dari KTP sama kartu keluarga kita sayang!, oh ya kartu keluarga kita juga lagi di urus sekarang", seru nathan tersenyum penuh kemenangan.


"Pantes aja aku cari di mana mana gak ketemu ternyata ada yang nyuri toh!", seru atikah membuat nathan menggaruk tengkuknya yang tak gatal salah tingkah.


"Tadinya kartu itu bakal aku kasih setelah kita nikah tapi kayanya sekarang aja", nathan tersenyum kikuk, atikah terkekeh dan menarik lengan nathan menuju sebuah taksi.


"Kemana?", tanya supir taksi tersebut.


"Ke ponpes ...", supir itu mengangguk dengan tatapan tajam nathan yang mengarah ke arah atikah.


"Aku akan kenalin kamu ke orang tua aku", seru atikah dan menutup matanya kemudian, membiarkan lehernya yang terasa sakit bersandar ke jok mobil, dan tertidur.


Bersambung...