
Raisa terus menyapa para tamu yang menghampirinya, meski hanya menelungkupkan tangan di dada.
Hingga tiba akhirnya atikah yang menghampiri raisa dengan senyum menyungging di bibirnya, "selamat ca!, do'a in aku cepetan nyusul", ucap atikah terkekeh.
"Do'a terbaik untuk sahabat terbaik, aku do'akan kamu sama nathan cepetan nyusul", ucap raisa keceplosan namun itulah do'a yang dia ukir di hatinya.
"Nathan?, kamu kenapa ca?, kamu mau nyomlangin aku ceritanya?", atikah sedikit terkejut saat mendapatkan do'a dari sahabatnya.
"Heheh.. keceplosan!, tapi kalian best Cople kok!, aku dukung", ucap raisa yang meski tidak tahu perjuangan nathan namun dia dapat melihat bagaimana sifat serius yang di tunjukan nathan pada atikah.
Bola mata biru itu berputar malas atikah merogoh tas kecilnya mengeluarkan kamera digitalnya, "foto bareng yu ca?", atikah memohon dengan wajah memelasnya.
raisa mengangguk dan berfoto dengan atikah, "Sini biar aku aja, kalian berpose yang keren", ucap nathan merebut kamera yang di pegang atikah yang kebetulan berada di belakangnya.
"Hati hati itu hasil dari gaji pertama aku dari ica, kalo kamu sampe rusakin, aku banting lagi kamu", ucap atikah menunjukkan jarinya penuh ancaman.
"Iya iya, ampun!, sadis banget!", gerutu nathan dengan wajah manisnya.
"Lagi?", raisa sedikit kebingungan menatap lekat ke arah atikah.
"Heheh.. gak kok aku cuma bercanda, o ya dan satu lagi, kalo kamu terus pasang muka mode cake kaya gitu aku gigit nanti", ucap atikah lagi menambahkan, dia yang sangat berani amat gemas dengan tingkah nathan.
"Sekarang aja nih kalo mau gigit!", nathan menelan rasa malunya dan menyodorkan wajahnya dengan rona merah muda menghiasi pipinya.
"Ehem.. ehem.. masih lama nih?", afifah menyadarkan obrolan mereka yang tengah berada di belakang nathan.
"Wah pas banget, foto bareng yu!", atikah menarik lengan afifah dan farhan untuk berfoto bersama.
"Eh eh.. apa apaan tuh jangan sentuh sentuh!", nathan melihat atikah yang menarik lengan farhan menjadi kegerahan.
"Apaan si?", atikah mengangkat bahunya dan berdiri di samping antara raisa dan afifah.
Nathan tersadar, dia bukan siapa siapanya atikah saat ini, 'kenapa jadi musim mangga muda begini si!?, padahal belum musim panas tapi gerahnya minta ampun', ucap nathan dalam hati kecilnya.
Beberapa foto berhasil di ambil nathan dengan sangat bagus karena dia terbiasa dengan lensa kamera, "gimana bagus kan?", nathan sangat percaya diri saat menyerahkan hasil tangkapan gambarnya, namun tak terlihat senyum sedikitpun dari wajah atikah.
"Apa yang bagus?, jelek gini!", atikah mencibir dari hasil foto nathan yang di matanya sangat terlihat buruk.
"Udah udah, atikah memang pengambil gambar terbaik di dunia sekarang kasian yang antri, kalian turun dulu ya", raisa dengan halus mengusir atikah dan nathan untuk turun dari pelaminan.
...
Setelah turun dari pelaminan atikah memotret sebuah bunga di pojok ruangan yang merupkan dekorasi dari pesta tersebut, "nih ngambil foto kaya gini!", atikah memperlihatkan karya seninya dengan bangga.
Nathan yang memang mengerti ke estetikaan foto berdecak kagum, di bahkan hampir tak percaya bila itu adalah karya tangan dari atikah.
Sebuah tepukan di berikan nathan dengan dua jempol teracung setelahnya, "keren!, suhu ternyata!", ucap nathan terkagum kagum.
"Yalah, cita cita itu jadi fotografer yang pro, tapi yah nasib boleh di kata apa?, ini jadi hobi aja, tapi ini cukup buat aku seneng", atikah menjabarkan keinginan hatinya sedari kecil.
...
waktu berlalu cukup lambat bagi raisa, kakinya amat sakit dirasa karena menggunakan hills yang cukup tinggi.
"Capek ya?", tanya leonard menatap wajah sang istri yang mulai pias.
Raisa menggeleng, mana mungkin dia mengecewakan suaminya, dia tahu benar bagaimana sang suami berjuang untuk hari ini, bunda elfie menghampiri mereka dan meminta ayah leonard untuk mengakhiri acaranya.
"Leo ajak istrimu ke kamar dia sudah terlalu lama berdiri dengan hills pasti kakinya keram sekarang", bunda elfie tersenyum lembut, "oh ya tadi atikah dan nathan sudah menyimpan koper kalian di kamar", leonard tersenyum puas.
"Baiklah ayo sayang!", leonard mengulurkan tangannya pada sang istri, namun karena kaki raisa yang sudah terasa sangat berat malah sulit melangkah, leonard terkekeh dan langsung mengangkat tubuh mungil itu ala bridenstyle menuju kamar yang dia pesan.
Sebuah kamar yang di dekorasi khusus dia pesan untuk memberikan kenyamanan pada sang istri, dia berharap sang istri dapat merasakan kenyamanan meski dia juga tahu mungkin istrinya masih kedatangan tamu bulanannya.
Sebuah aneka rona permai di pandang taburan kelopak bunga mawar menghiasi kamar bergaya kelas atas itu.
Rasa lelah dan kantuk memenuhi tubuh raisa, matanya terasa berat di tambah dengan bulu mata tebal yang tertempel, raisa beranjak dari pangkuan suaminya.
Raisa menghembuskan nafasnya kasar dia membuka gaun besarnya urat urat di tubuhnya terasa menegang, kakinya terasa memanas.
"Aku mandi dulu!", raisa menghamburkan tubuh kakunya menyentuh lantai berair di balik pintu, leonard tersenyum lembut merasakan pekikan menantang dadanya, rasa haus akan pelukan hangat sang istri membuatnya buta mata.
Di balik pintu leonard menatap tubuh indah terguyur air, matanya menatap sayu punggung putih di bibir matanya, tanpa terasa tangannya melayang menyimpulkan sebuah keinginan yang telah dia tahan.
"Aku menginginkanmu sayang", leonard memeluk tubuh mungil yang basah dengan sabun yang mengitari tubuhnya, rasa sesak di dada memberikan tekanan pada hembusan nafas yang mulai berbunyi nyaring.
"Kak tapi ini..", tanpa mendengarkan sang istri leonard menyantap bibir manis sang istri, rasa manis itu membuatnya lupa akan dunia.
Plak..
Leonard menepuk keningnya bayangan dan halusinasi itu menghilang seketika saat melihat sang istri tengah membuka jarum yang menancap di kerudungnya, riasan demi riasan raisa buka dan menghapus makeup yang semula memoles wajahnya.
Leonard terkekeh saat melihat raisa yang tidak bisa menghapus bedak tebal di wajahnya, "sini aku bantu", leonard yang memang sudah terbiasa dengan riasan karena sebelumnya sering menjadi model menangkap tangan sang istri membersihkan setiap sudut wajah mungil yang mempesona itu.
Darahnya berdesir merdu mengaliri urat dan nadi raisa, rasa hangat memenuhi wajahnya sekerjap dia menatap dan bergegas lewat dalam aortanya wajah tampan di pelupuk matanya.
Leonard terkekeh melihat raisa yang malu padanya, bukan menghentikan leonard malah tebar pesona memperlihatkan bagian wajah yang membuatnya tampan bukan main, raisa terperanjat menangkap sebuah gambar indah di matanya, rasa malu membuatnya menundukkan pandangannya menatap lengannya yang mulai basah oleh keringat.
"Sudah selsai..", leonard tersenyum melihat wajah polos sang istri tanpa riasan lagi.
Blush.. Wajah raisa panas bukan main menatap pose suaminya yang tengah merapikan barang yang dia gunakan membersihkan wajahnya, rasa aneh yang liar memenuhi tubuhnya.
"Aku mandi dulu!", raisa bergegas membawa sebuah handuk memasuki kamar mandi.
Rasa puas memenuhi jiwa leonard, namun sekilas bayangan nestapa di malam pertamanya membuatnya ngilu kamar pengantin ini dia persiapkan sangat lama namun sepertinya malam ini dia masih harus menjadi perjaka.
Bersambung...