Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Mengakhiri masa lajang



Di pesantren nampak atikah yang sudah sangat cantik dengan gaun putih yang di kirimkan nathan dengan kerudung berwarna senada, beberapa hiasan berkilau menghiasi tubuh tinggi kecilnya dan nampak begitu sempurna.


Nathan sampai dengan dua buah mobil yang berbeda dengan orang tuanya karena kini dia adalah pemeran utamanya di pesantren itu.


Nathan masuk ke rumah calon mertuanya setelah di persilahkan seorang santriyah yang nampak terpukau menatap nathan namun nathan tidak perduli dan celingukan mencari sosok atikah.


Setelah berbasa basi antara dua keluarga kini atikah keluar dari kamar ibu afifah dan nampak begitu luar biasa cantik, nathan yang melihatnya sampai akan ngiler melihat kecantikan wanita di upuk matanya.


"Sekarang kedua mempelai telah siap, mari kita lakukan langsung acara ijab qobulnya", seru ayah afifah mempersilahkan nathan, atikah dan semua orang yang berada di ruangan itu menuju sebuah aula yang cukup besar yang penuh sesak oleh para santri dan santriyah, semua orang menatap kagum pada keduanya termasuk pada farhan yang terlihat berbeda, bahkan afifah sendiri tak dapat mengedipkan matanya saat melihat calon suaminya yang nampak amat tampan.


***


Raisa dan leonard menatap layar leptop penuh bahagia, raisa yang berada di pelukan leonard tak henti hentinya menatap kagum pada nathan dan atikah.


"Sayang, boleh pinjam ponselnya?", tanya raisa dengan mata manisnya.


"Buat apa?", tanya leonard mengangkat sebelah alisnya.


"Buat hubungin afifah, aku mau ngasih hadiah buat nathan", ucap raisa tersenyum jahil.


"Hadiah?, semacam apa?", tanya leonard tidak mengerti, raisa menarik tangan leonard dan membisikkan rencananya.


"Hmmm... Aku juga mau kaya gitu dong!", ucap leonard setelah mendengarkan rencana dari sang istri.


"Dulu tiap malam juga aku kaya gitu, emangnya masih kurang?", raisa menahan senyumnya dengan mata yang menatap ke arah suaminya.


"Aku gak akan pernah puas sayang, aku selalu menginginkan mu", leonard mengecup kening sang istri untuk ke sekian kalinya, raisa hanya tersenyum sekilas setelah leonard menyerahkan ponselnya.


Raisa menghubungi afifah, dan dari tawa keduanya pasti rencana mereka akan berhasil, di tambah lagi saat ini tidak ada yang mengawasi afifah.


***


Afifah mengambil sebuah koper yang cukup besar memasukkan beberapa barang atikah ke dalamnya dengan berbagai kebutuhan sesuai yang di ucapkan raisa, mereka berdua tertawa jahat, entah apa yang akan terjadi malam ini karena kejahilan mereka.


Acara ijab qobul berjalan lancar, "tangan kamu bau keringat ih!", atikah mencibir nathan saat dalam kondisi yang haru tak kala mencium tangan nathan yang kini resmi menjadi suaminya.


Nathan tergelak mendengar ucapan atikah, dia mengelus lembut ubun ubun sang istri, bunda elfie yang mendengar cibiran itu tak dapat menahan tawanya saat air mata menggenangi matanya, dia justru tersenyum puas.


"Permisi!", dua orang pria bertubuh besar datang menghampiri mereka saat tengah berbicara setelah akad berlangsung.


"Iya", bunda elfie menaikkan alisnya melihat ajudan leonard yang berada di ambang pintu.


"Saya di perintah tuan pertama untuk menjemput tuan kedua dan nona kedua zet sudah siap terbang malam ini menuju korea selatan, di mohon tuan dan nona ikut bersama kami untuk mendapatkan hadiah dari tuan pertama", ajudan itu menjelaskan atas dasar apa mereka datang, bunda elfie tersenyum lembut dan melihat afifah yang kesulitan mengeluarkan koper besar dari dalam kamarnya.


"Hadeeh beraaat bengeet!", keluh afifah yang langsung di bantu farhan.


"Berat ya?", farhan membantu afifah mengangkat koper tersbut dan saling beradu senyum.


Farhan menahan senyumnya dan tanpa sengaja menyentuh tangan afifah dan sontak saja kedua pipi mereka memerah.


"Oh jadi udah di siapin toh!", atikah memiliki firasat buruk akan hal itu namun mau bagaimana lagi, dia menatap nathan dan dengan isyarat nathan menganggukkan kepalanya membuat atikah menghembuskan nafasnya kasar.


"Bukan jebakkan bukan?", tanya atikah setengah berbisik pada afifah, afifah tersenyum simpul mengacungkan jempolnya.


"Mari tuan kedua dan nona kedua", ajudan itu meraih koper besar yang di berikan farhan dan dengan berat hati atikah mengikuti kemauan mereka.


Untuk pertama kali dalam hidupnya atikah bisa melihat dan menumpangi pesawat zet, sungguh di luar espektasi.


Nathan melihat dua koper kemudian yang di bawa dua ajudan lainnya di dekat landasan penerbangan, dia sudah mengerti pasti leo yang menyiapkan semuanya.


Atikah dengan gaun pengantin besarnya, mengikuti langkah nathan, nathan tersenyum lembut saat sang istri yang nampak kesulitan dengan hils tingginya, keduanya berjalan layaknya model di peragaan busana.


"Susah ya?", nathan menundukkan tubuhnya dan sejenak tertegun menatap kaki atikah yang lecet, "kenapa gak bilang kalo sakit?", nathan menatap tajam ke arah atikah.


"Yah habisnya kasian kalo aku ngasih tahu nantinya kamu sendiri yang malu", ucap atikah menggaruk tengkuknya.


"Ck, dasar bar bar!", nathan mengangkat tubuh istrinya, dan sontak saja membuat atikah menjerit histeris karena dalam keadaan sadar untuk pertama kalinya dia di angkat manusia.


"Setaaan.. Aaa..", atikah berteriak ketakutan, nathan hanya tertawa geli melihat rontaan tubuh atikah yang kian menjadi.


"Diem lah, mau aku jatuhin?!", nathan tersenyum penuh kemenangan, dengan cepat atikah menggeleng saat mulai menaiki tangga menuju zet yang sudah menunggunya, atikah melingkarkan tangannya di leher nathan, senyum nathan terus mengembang penuh kemenangan.


"Sudah sayang!", nathan duduk dengan atikah yang di biarkan duduk di pahanya, perlahan atikah membuka matanya dan cepat cepat melepaskan tangannya yang sempat mengitari leher nathan.


Atikah berdiri dari duduknya dan kembali duduk di kursi tepat di samping nathan, nathan tersenyum jahil menatap wajah sang istri yang nampak bersemu kemerahan.


Atikah menguap setelah beberapa lama dia di dalam zet hingga turbulensi yang membuat perutnya terasa enek namun dengan sigap nathan memijat kening sang istri yang nampak mual.


Atikah kembali menghempaskan tubuhnya di kursi dan rasa kantuk di tambah berat dari bulu mata palsunya membuat dia tertidur begitu saja.


"Dasar muka bantal!", gerutu nathan saat melihat istrinya tertidur pulas, nathan mengecup lembut kening sang istri dan menghembuskan nafasnya lega.


Akhirnya dia mengahkiri masa lajangnya dan bersama dengan gadis barbar naif, yang berwatak macan berhati hellokitty.


Atikah memang amat bar bar, namun dia adalah wanita baik dan sangat mementingkan orang orang yang berada di dekatnya dia bahkan tidak akan perduli dengan omongan orang saat suasana mengharuskan dia untuk membantu atau menolong orang di sekitarnya.


Atikah sendiri awalnya enggan mencintai nathan karena takut tersakiti, namun cinta tulus dari nathan mampu merobohkan tembok batu yang menyemayami hatinya.


Wajah berseri nampak dari tidur atikah dan tanpa di sadari atikah menyebut nama nathan dalam tidurnya.


Nathan tersenyum simpul di bibirnya menatap wajah cantik di upuk matanya, nathan sungguh beruntung memiliki gadis secantik atikah bahkan dia dulu tak menyangka ingin menikah muda, pernikahannya tidak pernah masuk ke dalam agendanya tahun lalu namun tuhan ternyata menyiapkan kejutan istimewa di tahun yang membuatnya sangat bahagia ini.


Bersambung...