
Hari ke dua dan seterusnya jauh lebih istimewa karena selain teman temannya raisa dan leonard yang hadir, ada pula guru besarnya, bunda elfie dan iwan yang ikut serta.
Suasana hikmat kian menggelora, sang kiyai yang memang sudah menganggap raisa layaknya anak sendiri, amat menyayangi raisa dia tak pernah membedakan raisa dengan putra putrinya.
Salah satu putri sang kiyai adalah siti afifah, dia adalah teman dekat raisa yang akan segera menikah tiga bulan mendatang, mereka berdua seumuran dan banyak kemiripan dalam bertingkah di luar rumah, namun di dalam rumah raisa malah lebih mirip sahabat pesantrennya yang lain yaitu siti atikah, atikah memiliki sifat tomboy dan sangat cowok banget, bedanya dia pengguna hijab besar berbeda dengan wanita tomboy yang berada di luaran.
Raisa, atikah, dan afifah, mereka layaknya saudara tak seibu dan sebapak, hati mereka seakan terikat satu sama lain, kasih sayang mereka amat sangat sulit untuk di ukir.
Atikah tidak tahu rupa ayah dan ibunya, dia di tinggalakan di pelataran mushola seorang diri saat tali pusar di perutnya belum kering, dan kini Raisa pun menjadi yatim piatu dan hanya afifah yang memiliki keluarga lengkap dengan sanak saudara yang banyak.
Hari hari berlalu dengan cepat, 7 hari telah berlalu, kaki raisa telah membaik dan dapat berjalan seperti biasa dia di bantu teman teman pondoknya kembali membuka toko kue peninggalan sang ibunda.
Dia mempekerjakan atikah dan afifah dan membiarkan mereka pulang ke pondok setelah adzan duhur, karena pembuatan kue pun biasanya sudah selesai dan tinggal menerima pesanan saja, raisa di bantu oleh seorang kariawan tetapnya mengolah toko itu dari siang hingga sore hari dan di malam hari biasanya leonard datang untuk membantu mereka.
Waktu ke waktu berlalu dengan sangat lambat, raisa kian membentangi dirinya untuk dekat dengan leonard dia bahkan sering menghindar dari tatapan mata elang leonard.
Leonard tahu betul dengan posisi mereka yang sulit, pagi hingga sore leonard harus bekerja untuk meneruskan bisnis orang tuanya sedangkan malam dia selalu ke toko kue raisa.
Di sebuah pagi indah dengan cahaya mentari yang telah berjuang menaiki langit, raisa tertawa menatap atikah yang tertidur dengan dengkuran menggelegar memenuhi ruangan.
"Bentaran ca!, aku ngantuk banget liat nih iler ku!, mau kuenya rasa iler gara gara manggut manggut buat kue?", atikah berdalih dan kembali menyumpalkan wajahnya ke dalam bantal.
(Sedikit informasi, para santri atau santriyah rata rata sangat kekurangan waktu tidur di pesantren itulah yang menyebabkan mereka menjadi muka bantal dan sangat sulit bangun dan sangat mudah tertidur).
Raisa menggelengkan kepalanya, dia keluar kamar dan membiarkan atikah tidur dengan mendengkur, afifah tersenyum melihat rona bekas tawa di wajah raisa.
"Gimana bangun ga sa?, dibilang juga apa tuh anak gak akan bangun kecuali di gusur ke bak mandi", usil afifah terkekeh dengan sifat atikah yang sangat bar bar.
"Feet.. Iya fah, biarin aja semalam dia emang beneran gak tidur!", ucap raisa terkekeh mengingat atikah yang ronda malam di kamarnya sembari menatap layar ponsel dengan drakor kesukaannya.
"Memang sogokanmu mematikan sa!", afifah menggeleng melihat kejahilan kedua sahabatnya.
"Feet, iyalah gampang banget buat nyogok atikah di kasih kuota nonton aja udah dia angguk angguk setuju, tapi aku juga kayanya harus lapor polisi deh, yang nguntitinnya bener bener makin gak ada ahlak", ucap raisa menggelengkan kepalanya.
"Hmmm.. Ya si itu emang udah kelewatan!", afifah mengangguk setuju.
Bersambung...