Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Kehidupan baru dimulai



Rama dengan hati hati menaruh alika di atas kasur dan keluar ruangan menuju sebuah kamar di samping kamar alika, dia membuka pakaiannya dan terlihat bekas percahan kaca di punggungnya dan darah yang mengering di sekujur tubuhnya, rasa perih sudah pasti dia rasa namun hatinya kini jauh lebih perih dari apapun.


Rayan mengguyur tubuhnya dengan air dan mengobati lukanya sendiri, "paman!", alika mengetuk pintu dengan baju putih yang berlumuran darah dia mengetuk pintu pamannya.


Rama membuka pintu untuk keponakannya dan melihat bertapa kotornya dia, "kenapa nak?", rama tertunduk menatap bocah kecil di hadapannya.


Tok!, Tok!, Tok!, pintu depan terdengar di ketuk, rama waspada dan meraih tubuh alika kecil ke kamrnya dan menuju ruang kendali CCTV, dia melihat pilotnya dengan menggendong rayan kecil dengan hujan gemercik.


Rama terperanjat dan langsung berdiri meraih tubuh alika menuju bawah, " pak gunawan ada apa?", rama membuka pintu dan mlihat rayan yang bernafas dan menangis memanggil nama ayahnya.


"Rayan!", dengan sigap rama meraih tubuh kecil rayan dan membaringkannya di kursi, dia melihat bekas jahitan di dada rayan.


"Aku sempat ke rumah sakit dulu dan menempelkan kulit sintetis di wajah tuan muda rayan, dia baik baik saja sekarang hanya perlu perawatan intensif saja", pak gunawan menatap alika kecil yang langsung menangis dan memeluk kakaknya.


"Terima kasih pak!", rayan beranjak ke ruangan atas dan mengambil baju kecil yang dulu dia gunakan saat berusia 7 tahun dia mengganti pakaian rayan dan menyelimutinya.


"Bagaimana situasinya saat ini?", rayan melihat jam dan nampak waktu sudah menunjukkan pukul satu dini hari.


"Semuanya terkendali, namun saya kemari membawa putri saya, saya tidak memiliki keluarga lagi selain putri kecil saya yang masih bayi jadi saya membawanya kemari karena tidak bisa membiarkannya sendiri atau hanya bersama pengasuh, situasinyapun kian rumit, dengan gamlang mereka melakukan pengakuan dan menarik semua saham perusahaan dan lagi semua aset yang di tinggalakan oleh tuan dzikri dan nyonya elfie semuanya sudah di ambil alih termasuk rumah dan kendaraan", jelas pak gunawan menginformasikan.


"Semuanya berjalan dengan baik, begitupun saya yang sudah mati dalam identitas kehidupan dan sudah tidak tercatat lagi di manapun", ujar pak gunawan dia melakukan pekerjaannya dengan sangat apik.


"Lalu dimana putrimu?", rama bertanya saat melihat pak gunawan yang nampak sendirian.


"Saya tidurkan di helikopter", pak gunawan tersenyum tulus.


"Bawa dia kemari, sembunyikan helikoptermu di ruang bawah tanah dan kita akan hidup seperti ini sampai mereka dewasa!", seru rama melihat alika yang masih menangis memeluk rayan dan pak gunawan mengangguk.


"Terima kasih tuan muda", pak gunawan yang memang tak memiliki siapapun di dunia ini hanya bisa pasrah dan berserah.


"Tidak, seharusnya aku yang berterima kasih berkatmu kami bisa selamat!", seru rama tersenyum lembut.


Pak gunawan membawa putrinya dalam rincik hujan, rama mempersilahkan mereka masuk dan membiarkan kehidupan baru mengalir dalam hari hari mereka.


Tak pernah terbayanan oleh rama bila hidupnya akan berjalan seperti ini, namun menurutnya asalkan kehidupan meraka berlanjut mereka bisa melakukan apapun di masa depan, mungkin raisa melarang mereka untuk membalas dendam namun berbeda dengan rama yang sudah terkukuh untuk menghancurkan para pembunuh yang membantai seluruh keluarganya.


Bersambung..