
Perlahan namun pasti, dan terbilang sangat pelan dan hati hati rama mengecup bibir tipis istrinya penuh kelembutan, alika mulai terbuai dengan sentuhan sentuhan lembut yang di berikan suaminya.
Namun dia kembali terkejut saat ujung lidah rama berusaha merangsak masuk pada sela sela bibirnya, alika membiarkan apapun yang di lakukan suaminya hingga tampa sadar pria itu kini kehilangan kendali akan tubuhnya nafasnya memberat dengan mata sayu dan tangan yang terus bermain main di sebuah gunung yang belum pernah terjamah manusia itu, berjenis jenis keliaran terpancar dari gunung indah nan mempesona itu hingga menyajikan petualangan heroik bagi rama yang menikmatinya.
"Sa..yang.. Pelan pelan", lengguhan dan suara serak terdengar menja di telinga rama, alika mengigit bibir bawahnya saat tali bajunya sudah jatuh dan tubuhnya kian menegang dengan hawa panas yang kian menebar di seluruh tubuhnya, rama dengan liarnya menyesap setiap senti tubuh mulus sang istri.
Tubuh alika kian mengejang hingga tanpa sadar dirinya menekan kepala rama hingga membuat rama menyeringai penuh kemenangan, di lihat gadis pujaannya yang kini mulai menikmati sentuhannya.
"Sayang jangan di tahan..", rama berbisik mesra dengan suara serak di ujung telinga alika, rama menjatuhkan tubuh molek nan indah itu di atas kasur hingga lekuk tubuh alika dapat terpampang jelas di upuk matanya.
Rama dengan hati hati melucuti pakaian alika hingga kini alika terpampang jelas tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya.
Wajah alika memerah, malu sudah pasti, meski dulu dirinya dan sang paman tinggal satu atap namun dia tidak pernah berpakaian terbuka atau hal hal yang melanggar norma, alika memegang tangan rama erat merasa takut bila suaminya tidak puas akan tubuhnya yang aduhai.
"Kamu benar benar menggoda sayang", bisik rama lembut menyentuh wajah manis dengan rona merah yang tak padam dari pipi cantik alika.
Alika menutup netra matanya kembali merasakan sentuhan rama, dia menutup mulutnya saat melihat perut atletis yang dulu sering jadi tontonannya namun setelah dia tumbuh dewasa dia pun tak pernah melihat pamannya memamerkan perut bak roti sobek itu.
Bahkan sebuah basoka dengan dua bakso sudah hidup dan menegang meminta pemasukan dan pemuasan, alika menelan salivanya menatap benda besar di ujung matanya.
"Jangan takut!", rama berbisik setelah puas menikmati tubuh molek istrinya yang kini sudah terbuai di atas ranjang.
...
Kejadian yang baru pertama kali di rasakan alika dan rama itu menjadi sejarah bagi diri mereka sendiri, meski rama masih menginginkan lagi namun melihat tubuh alika yang sudah kelelahan bahkan ketiduran ramapun mengurungkan niatnya.
Rama teringat bila istrinya belum makan apapun dia bangkit dari tidurnya dan mengecup lembut penuh sayang pipi mulus istrinya dan bangkit menuju kamar mandi, dia menguyur tubuhnya dengan air, bayangan pengalaman pertamanya kembali terlintas beberapa kali di kepalanya hingga rasanya membuatnya akan menjadi gila dia kembali tersadar saat menatap tubuh yang masih terkulai akibat kelakuannya.
Rama memakai pakaiannya, karena memang dia tidak mengijinkan pelayan hadir beberapa hari ini jadi dia sendiri akan memasak untuk sang istri, kegiatan memasak memang sudah menjadi hal biasa bagi rama karena hampir setiap hari di taman hijau dirinya selalu memasak untuk seluruh anggota keluarganya.
Rama memilah dan memilih bahan masakan yang akan dia buat dan menyeimbangkan nutrisi yang akan di berikan pada sang istri.
Di kamar alika menggeliat merasakan tubuhnya yang seakan remuk habis terlindas truk, dia melihat ke samping di mana sang suami sudah tidak ada, alika bangkit menatap jam yang sudah waktu baginya untuk melakukan sembahyang.
Alika menggusur tubuhnya dengan rasa sakit di **** ************* akibat kelakuan rama, dia memunguti baju bajunya dan rama dan membawanya pada sebuah kotak untuk di cuci dan menatap seprai dengan bercak darah.
Alika menghembuskan nafasnya kasar dan meluncur ke kamar mandi melakukan mandi besar dan setelahnya sembahyang, alika mencari mesin cuci yang tak kunjung dia dapati hingga akhirnya dia mendengar keributan di dapur dari suara piring dan beberapa alat masak yang beradu.
"Sudah bangun", lirih rama mengusap lembut kepala alika lalu mengecupnya lembut.
"Suami, istrimu ini mencari mesin cuci dimanakah gerangan mesin cuci adinda sangat kerepotan mencarinya, atau haruskah adinda mencucinya dengan tangan wahai kangmas suami", rama terkekeh mendengar logat istrinya yang terdengar amat syahdu.
"Kakang tidak mungkin membiarkan tangan adinda menyentuh detergen sayang, sudah simpan saja di sana cuciannya biar aku saja yang nyuci nanti", ucap rama tersenyum lembut.
"Gak ah, aku mau cuci aja!, kalo suami gak ngebolehin maka suami juga gak boleh nyuci", ucap alika, rama terkekeh lembut dan menatap cucian yang semula di simpan alika di atas meja, mata rama terbelalak menatap bercak merah di sebuah seprai berwarna putih.
"Sini lanjutin masaknya, biar aku yang nyuci", rama menyerahkan pekerjaannya pada alika, alika mengangguk dan menangkap susug yang semula di pegang rama dan begitupun rama yang langsung membawa cuciannya ke belakang untuk mencuci.
Alika bersenandung dengan rama yang kembali dengan sangat cepat, alika amat menikmati hidupnya menjadi istri dari suami sempurna seperti rama.
Alika menyajikan masakan hasil kolaborasi dirinya dan rama dan duduk bersebrangan bersama rama di meja makan, menikmati setiap makanan dalam keheningan dan senyum yang terus saling lempar dengan pikiran masing masing yang entah apa isinya.
"Suami.. ", Alika dengan manja menatap mata suaminya setelah mencuci bersih piring yang telah mereka gunakan.
"Ya sayang?", rama menatap lembut istrinya yang tengah bermanja manja.
"Aku bolehkan ngasih ini ke penjaga di depan!", alika membawa beberapa piring makanan yang belum mereka sentuh, rama mengangguk namun kemudian dia kembali menggeleng.
"Tidak sekarang sayang..", rama tersenyum penuh arti memeluk istrinya dengan dua piring sebagai penghalang.
"Kenapa?", alika cembererut mendapatkan penolakan dari suaminya.
"Ganti dulu bajunya sayang, itu semua punya aku meski makannya akan di kasih juga, pakai kerudung besar, kaos kaki, masker dan sarung angan", seru rama menunjukkan sifat posesifnya.
"Dih, mana ada semua benda itu, di lemari cuma ada pakaian kaya gini aja", seru alika merengut.
Rama tergugu dengan kelupaannya, dia menuju kamarnya di susul alika dan mengambil sebuah baju yang sangat tertutup dengan ukuran besar dengan benda benda yang tadi dia sebutkan kecuali masker.
"Cup", sebuah kecupan terlontar dari bibir rama dan kembali keluar kamar menyelsaikan tugas mencucinya yang sempat tertunda, alika menggelang pelan melihat sifat posesif suaminya.
Bersambung...