Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Love you paman!



"Pertanggung jawaban seperti apa yang kamu inginkan?", rama menatap tajam mata alika, seketika suasana lembut berubah mencekam.


"Paman sudah melihat auratku, paman harus menikahiku!", alika kekeh dengan pendirian tegasnya dan balik menatap mata sang paman.


"Apakah pak gunawan yang melihat rambutmu juga harus menikahimu?", rama bertanya pada alika yang sudah dia besarkan.


"Tidak", alika berucap lirih menundukkan wajahnya, hal konyol yang dia lakukan sebelumnya memang amat memalukan.


"Lalu kenapa kamu meminta paman bertanggung jawab?", rama mengangkat wajah alika yang nampak semirak merah di pipinya.


Alika terdiam seribu bahasa dia ingin mengutarakan hatinya, namun sebuah penolakan mungkin akan di utarakan rama dan itu mungkin akan membuat dirinya kian menjauh dari orang yang di kaguminya sejak kecil.


Rama terdiam, memang tak dapat di pungkiri dirinya sudah menaruh hati pada keponakan yang selalu bersamanya itu, namun melihat alika yang terdiam dia menjadi ragu bila sebnearnya alika tidak benar benar menginginkan dan serius dengan ucapannya.


"Sudahlah!, paman kemali ke kamar dulu, ganti bajumu dan sholat dzuhur", rama meninggalkan alika yang berdiri, namun alika kembali bersuara meski dia tahu konsekwensi yang akan di terimanya namun dengan mengatakan hal yang mengganjal di dadanya dia berharap dapat bernafas lega.


"Aku mencintaimu paman!", teriak alika hingga terdengar ke lantai bawah, rayan yang mendengar itu terdiam begitupun rama, bahkan pak gunawan yang berada di dapur saja dapat mendengar jelas ucapan alika.


Mereka enggan ikut campur karena mereka yakin rama sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Rama mendekat menyentuh pipi alika, dan melihat cairan garam mengalir di pipi manisnya, "kenapa meanangis?", rama menghapus air mata alika sangat lembut.


"Paman aku sudah menelan harga diriku dan membuangnya, aku mengatakan ini dengan konsekwensi yang besar, aku benar benar mencintai paman, jangan membenciku aku mohon!", alika mengeraskan genggaman tangannya yang sedari tadi terus mencengkram rok panjangnya.


"Kenapa aku harus membencimu?", rama menyentuh dagu alika dan mengangkat menatap wajah manis yang terus menghiasi harinya.


"Karena paman akan membenciku karena mengatakan ini, dan paman pasti tidak akan dekat lagi dengan alik!", alika sesegukkan dengan tangis yang tak kunjung berhenti, rama meraih pinggang alika dan mendekapnya erat.


"Apakah kamu tahu menikah itu apa?", rama mengangkat dagu alika melihat mata yang begitu indah yang sering membuat dadanya berdegup amat kencang.


"Aku tahu, dan aku mau menikah dengan paman!",alika menatap lembut wajah rama.


"Baiklah tapi jangan menyesal!", rama menempelkan kenungnya di atas kening alika, nafas mereka beradu amat terasa.


"Aku sangat mencintaimu alik!", alika melotot mendapatkan uapan yang keluar dari bibir rama, "kamu tahu bila kamu sudah melakukan ini maka jangan harap bisa lepas dariku!, dan maaf aku belum bisa menghalalkanku sebelum tugasku selsai", rama mengelus dan membelai rambut alika penuh perasaan.


Alika masih belum percaya dia mengerjap ngerjapkan matanya dan ternyata benar ini nyara bukan mimpi.


"Apa tugas paman?", alika terdiam menatap dan merasakan hembusan nafas rama yang menerpa wajahnya.


"Membalaskan dendam dan mengambil kembali yang seharusnya menjadi milikmu", rama mengecup kening alika dan mendekapnya erat.


Alika mengangguk karena mustahil bagi mereka untuk selamanya tinggal di tempat itu, sebelumnya rama pernah menyelam menuju kapal karam dan mendapati sebuah kotak harta karun berisi sebuah kotak berupa sebuah teknologi muthakir pengendali sebuah satelit, rama menempelkan banyak bom di kapal karam tersebut.


"Sore ini kita sembunyi di ruang bawah tanah!", rama mengelus rambut alika dan menatap tubuh indah keponakannya, glek.., rama menelan ludahnya sendiri melihat dua buah gunung yang berhimpitan dalam dekapannya.


"Kenapa paman?", alika bertanya menatap mata rama yang jelalatan.


"Tidak apa apa, sholat dulu baru nanti siap siap, kita ke ruang bawah tanah", ucap rama meninggalkan alika sendirian di kamar.


"Love you paman!, aaa.. Aku cinta paman!", alika memeluk gulingnya, rama yang memang masih berada di belakang pintu mendengarkan sorak bahagia alika dan tersenyum sekilas dengan rona di wajahnya yang memerah.


Di waktu petang seluruh anggota keluarga telah berkumpul begitupun alika, mereka merasakan sebuah gelombang besar yang mana rumah tersebut seperti tertelan tanah, dan dikelilingi baja, bahkan kolam renangpun ikut terbawa ke dalam tanah.


"De ini kenapa?", rayan melihat adiknya yang tengah membaca buku di kursi depan.


"Paman bilang jangan panik!", seru alika tak menghiraukan, dadanya terus berdebar mengingat kejadian siang tadi.


"Ck nyebelin lo de!, seandainya paman nolak lo gue sukurin!", rayan berdecak kesal namun alika justru terkikik.


"Feet.. Udah di terima kok!, gak usah nyumpahin yang jelek jelek toh gak bakal kejadian!", usil alika kembali membaca bukunya.


"Alik!, rayan!, kemari!", rama memanggil mereka dan melihat sebuah monitor besar, "lihat ini baik baik!", rama menekan sebuah tombol dan terdengar ledakan besar di bawah laut besrta seluruh pulau yang tersapu angin dan badai kemudian sunami besar datang.


"Kita akan bermalam di sini sekarang, kalian cobalah meredakan rasa takut kalian dan lakukan aktifitas seperti biasa.


"Tapu paman?", alika bergetar takut sesuatu hal yang buruk terjadi, rama mendekat dan mengelus rambut alika.


"Tidak apa apa!, lebih baik tak dimiliki siapapun dari pada menghancurkan banyak hal", lalu sebauh tembakan leser mengarah dari atas langit menuju sebuah pasukan besar di sebuah pulau dan beberapa orang.


"Apa paman akan membunuh?", tanya alika menatap wajah pamannya yang nampak serius.


"Iya!", jawab rama singkat dan menekan sebuah tombol hingga akhirnya seluruh tempat yang terkena tembakan leser luluh lantah dan hancur berkeping keping.


"Mengerikan!", rama merinding sendiri padahal dirinya sendiri yang melakukan itu hingga akhirnya sebuah ledakan kembali terdengar di bawah laut, benda yang semua orang incar hancur dengan satelit yang berada di luar angkasa.


"Paman!", tangan alika menjadi dingin merasakan ketakutan dan ingatan buruk tentang masa lalunya, rama tersenyum meraih tangan alika.


"Tidak apa apa!, mulai besok kita akan kembali ke kota dan berbaur dengan manusia lainnya, ini dompet kalian!", rama menyerahkan masing masing sebuah kartu deposit dan buku rekening, kartu keluarga dan kartu identitas beserta ijazah yang dia buat.


"Apakah ini aman?", rayan menatap kartu identitasnya dengan sangat lekat.


"Aku jamin aman!", rama tersenyum sekilas hinga akhirnya alika menghambur kepelukannya, rayan hanya menggeleng melihat bagaimana alika yang masih belum halal itu sudah nyosor.


"Paman aku turut prihatin!, aku yakin masa depanmu tak akan mudah di lalui saat bersama bocah ini!", rama menunjuk alika yang nampak tidak perduli.


"Alik!, jaga jarak kamu belum sah juga udah maen peluk peluk aja!", rayan menarik kerah baju alika, namun alika tak bergeming dan mempererat pelukannya.


"De malu lo udah gede jangan kaya bocah gitu dong maen nempel nempel aja!", rayan kembali menarik baju alika, alika tak perduli, rama yang melihat itu terdiam namun dia meraih pinggul alika dan menatap tajam bola mata indah gadis itu penuh makna.


"Sabar ya!, besok kita menikah!", goda rama dan sontak saja wajah alika memanas dan berbalik pergi menuju kamarnya.


Rayan mengangguk dan kemudian menggeleng menatap kelakuan dua manusia di hadapannya.


Bersambung...