Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Benci tapi cinta



Pagi hari nathan menguap dan merenggangkan tubuhnya, terasa angin yang menyusup ke kamarnya dengan cahaya matahari yang mulai terang, "aku kelewat sholat subuh lagi!", ucap nathan sembari berlalu ke kamar mandi dan mengambil air wudu menunaikan sholat subuh di qodo.


Setelah sholat dia tidak mendengar suara apa pun di rumah besar itu hingga akhirnya dia menuju dapur dan menyipitkan matanya melihat pesan yang tertempel di depan lemari pendingin.


'Maaf di tinggal ya, awas jangan kebablasan dan jangan sampai kehabisan makanan minggu depan aku dan raisa akan kembali'.


'Leonard'.


Nathan terbelalak melihat pesan itu, melihat nathan yang aneh melihat secuir kertas atikah mengambil kertas itu dari lengan nathan dan membacanya, " Maaf di tinggal ya, awas jangan kebablasan dan jangan sampai kehabisan makanan minggu depan aku dan raisa akan kembali, leonard", mata atikah seketika melotot memperjelas setiap kata yang ada di kertas tersebut.


"Apa?, mereka ninggalin kita?", atikah menganga tak percaya, bagaimana mungkin raisa melakukan ini padanya, "pinjem hp lo gue mau hubungin ica!", bentak atikah pada nathan.


"Ngapa pinjem hp gue?, pake hp lo aja kali!", ucap nathan malas.


"Hp gue gak ada tau?", atikah menaiakan tensi suaranya dan sontak saja membuat nathan terkejut dan berlari ke kamar tamu yang dia gunakan, dia gelagapan mencari ponselnya yang sama sekali tidak dia temukan.


"Hp gue ilang juga tik!, arrgh..Leo...!", nathan berteriak sekencang pita suaranya.


***


Di kediaman orang tua leonard raisa tengah melihat kamar leonard yang baru pertama kali dia lihat, terdapat sebuah foto yang membuatnya senyum senyum sendiri, yaitu foto dirinya saat masih kecil yang di pinta leonard, leonard tiba tiba memeluk istrinya dengan penuh rasa sayang, dia mengecup tengkuk sang istri yang tengah tak mengenakan kerudung.


"Kamu memang sangat cantik sayang!", ucap leonard meletakkan kembali foto itu dan mengecup lembut bibir istrinya, "aku sayang kamu istri ku", ucap leonard mengelus pipi manis istrinya, raisa tersenyum lembut dan memeluk suaminya.


Ada rasa ragu di hati raisa untuk melakukan pemeriksaan, sebagaimana sebelumnya raisa memiliki riwayat penyakit jantung, dan sebelumnya sudah di wanti wanti dokter, bila nyawanya bisa terancam bila mengalami hamil.


Dan anaknya harus di angkat secara prematur saat usia kandungannya 32 minggu, raisa tersenyum getir mengingat hal tersebut dan tidak ingin menceritakan hal itu pada suaminya terlebih lagi kandungannya masih sangat kecil di takutkan sang suami meminta raisa untuk menggugurkan anaknya.


Namun bagaimana lagi dia pun memeriksakan keadaan janinnya, bersama leonard dan bunda elfie, untung dokter tersebut tidak menyadari tentang kondisi raisa dan hanya memeriksa kondisi bayinya saja.


Kali ini raisa benar benar bernafas lega dan senyum keceriaan kembali terukir di wajahnya.


***


Di taman hijau nathan melihat beberapa pakaian yang di tinggalkan leonard di lemari tamu begitu juga atikah, raisa sendiri tidak tahu bila mereka berdua di tinggal karena dia sendiri malam itu kelelahan dan malah tertidur, hingga akhirnya leonard membawa raisa dalam keadaan tertidur, sedangkan saat dia bangun dia sudah ada di rumah mertuanya.


Siang itu atikah memasak nasi dan sebuah makanan pendamping, "than makan dulu, maaf aku cuma buat satu makanan pendamping, kalo beras banyak di sini cuma kalo sayuran cuma sedikit sama daging juga cuma sedikit sedikit, jadi kita ngirit!", ucap atikah menyuguhkan masakannya.


Nathan mengangguk mengerti, "aku mau cari ikan siang ini, mau ikut?", tanya nathan penasaran.


Atikah mengangguk, "aku ikut, sekalian liburan kayanya terumbu karang di sini bagus banget", ucap atikah yang memang terpesona dengan keindahan laut di pantai itu.


"Oke!, bantuin aku dulu buat tombak ", atikah mengangguk setuju memang dalam kondisi genting semacam ini kerja sama amat di butuhkan.


Setelah makan atikah membungkus nasi dan sisa makanan pendampingnya untuk di jadikan bekal, sedangkan nathan mencari perkakas untuk membuat tombak.


Nathan menuju gudang dan di lihatnya sebuah alat panahan yang digunakan untuk mengambil ikan dan perahu karet, dan beberapa alat yang dia butuhkan untuk menyelam.


"Sudah siap?", nathan menengok ke dalam rumah dan melihat atikah yang sudah siap dengan bekalnya, atikah sudah berganti pakaian dengan celana renang dan baju renang yang dia dobel dengan pakaian besar agar tidak mempertontonkan bentuk tubuhnya, nathan mengangguk membawa perlengkapannya menuju pantai.


"Wah cantik banget!", atikah tergugu menatap terumbu karang di atas perahu karet.


"Mau ikut nyelam?", tanya nathan menyodorkan tangan kanannya, nathan yang sudah mengunci perahu karetnya dengan jangkar kecil membuat perahu karet itu terdiam di tempatnya.


"Di bawah ada binatang yang berbahaya gak?", tanya atikah kebingungan.


"Ngomong apa tadi?", atikah melotot meminta penjelasan.


"Yang mana?", tanya nathan pura pura polos.


"Tadi ngomong apa?, kalo gak bilang selamanya aku bakal ngambek ke kamu!", ancam atikah memperhalus kosakatanya namun mempertegas ucapannya.


Nathan terkekeh dengan suara renyahnya, dia menelungkupkan tangannya di atas perahu karet, "sayang?", nathan memperjelas ucapannya, atikah membelalakkan matanya hampir tak percaya dengan apa yang di dengar gendang telinganya.


"Eh ini otak gue apa telinga gue kemasukan air ya padahal gue belum turun tuh ngapa ngedenger kata aneh kaya gitu!", atikah tersenyum aneh menatap nathan.


"Ck, cepat atau lambat juga kamu bakal jadi istri aku, buat apa kaget kaya gitu!", nathan kembali mempertegas ucapannya semula dengan tambahan kalimat yang membuat atikah tertawa.


"Hahahahah, gue mimpi apa hari ini, ngapa aneh banget!, kayanya beneran dah ini mimpi, mana ada cowok model lo mau nikah sama gue!", atikah terkekeh geli.


"Mimpi?, ngapa berpikir mimpi?", tanya nathan penasaran.


"Ya iya lah pertama mustahil ica ninggalin gue di pulan berduaan di suruh zinah kaya gini!, kedua mana ada model cowok yang punya loyalitas tinggi model lo mengakui perasaannya sendiri", atikah menerangkan alasannya.


"Nah kalo bener ini mimpi, lo mau bilang apa ke gue?, seenggaknya ini mimpi jadi lo gak usah takut dosa pas bangun", nathan memancing atikah mengeluarkan unek uenknya.


"Nah kalo mimpi pasti gini nih mc cowoknya bakal aneh!, gue makin yakin ini mimpi, oke deh lo bener gue mau ngeluarin unek unek gue ke lo semuanya, siapin ya telinganya baik baik!", atikah mengambil nafas dalam dan menatap lekat mata coklat keemasan milik nathan.


Natah mengangguk, "gue benci sama lo nathan!", atikah dengan amarahnya memperlihatkan wajah menyeramkan, nathan tertegun mendengar pengakuan atikah.


"Gue benci lo dasar tukang modus!, gue banci lo nathan!", mata atikah mengeluarkan cairan bening, nathan tertegun tak dia sangka wanita tomboy seperti atikah akan menangis.


"Gue kasih tahu ke lo ya, dulu gue pernah hampir di perkosa sama mantan gue, asal lo tahu gue benci cowok modus!, kalo lo berani!, nikahin gue!, bukan cuma memberi perhatian dan meninggalkan gue seenak jidat lo, gue gak mau cuma di beri harapan palsu dan akhirnya gue terdampar di kesendirian, lo pikir gue apa?, asal lo tahu gue udah masuk ke jeratan lo nathan, gue suka sama lo hiks ... hiks.. gue cinta sama lo than!, ngapa lo gak ngerti juga!", atikah panjang lebar dengan isaknya mengeluarkan seluruh isi hatinya.


Nathan tertegun, dia mengusap air mata atikah dan mengecup lembut tangan dengan jari jari lentik itu, "menikahlah dengan ku atikah!", nathan meletakkan tangan atikah di pipi putihnya.


Atikah terdiam sejenak, dia berpikir keras, 'ada apa ini?', bisik hati atikah kebingungan.


"Ini bukan mimpi sayang, aku gak bawa cincin atau perhiasan sekarang, tapi aku berharap kamu percaya aku juga mencintaimu", nathan mengangkat tubuh atikah dan membawanya bersama di atas air menikmati riak air yang terasa sangat tenang.


Atikah mencapit pipi nathan menggunakan jari jempol dan jari telunjuknya, "sakit gak?", tanya atikah polos, sontak saja membuat nathan meringis.


"Sst.. Aw.. Dih ya sakit lah!", suasana romantis berganti menjadi canda kembali.


"Ini bukan mimpi ya?", tanya lagi atikah berusaha mencari jawaban.


Cup, nathan mengecup sekilas bibir atikah, "kamu pikir ini masih mimpi?", nathan dengan tatapan menggoda dan sangat berani bertanya setelah melakukan kesalahan.


"Setaaaan!", atikah murka, dia mencubit tangan nathan hingga akhirnya atikah kelabakkan dan hampir tenggelam karena tangan natan melepaskan tubuhnya.


"Hap.. Hup.. Tolloong.. Huf..", nathan yang melihat itu terkejut dan meraih tubuh atikah, dengan cepat atikah melingkarkan tangannya di leher nathan.


"Gue gak bisa berenang!, dasar setan!", atikah menjewer telinga natan, nathan yang khawatir kembali terkekeh meski menahan sakit.


"Ya sudah tunggu aja di atas perahu, nanti kita makan bersama setelah waktu dzuhur dan pulang sekitar jam dua siang untuk sholat dzuhur dan asar", ucap nathan mengangkat kembali tubuh atikah ke atas perahu karet dan membiarkannya menunggu.


Bersambung...