Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Hijab putih



Leonard mengisi administrasi untuk rawat inap raisa, dia memang tidak tahu harus bagaimana bila raisa nanti bertanya tentang, mengapa dirinya melakukan ini?, tapi dia pun kembali melupakannya, dia berharap raisa tidak bertanya hal apapun padanya.


perasaan kalut yang sebelumnya memberikan pencerahan untuk dirinya merangkai kata jawaban bila tiba tiba raisa bertanya.


Leonard kembali ke UGD dan melihat raisa yang akan di pindahkan ke ruang VVIP, namun matanya terbelalak saat seorang perawat pria akan membantu memindahkan raisa.


"Eh, apa apaan ni!, siapa yang mengizinkan kamu mengangkat raisa?, biar perawat wanita saja yang mengangkatnya!", ucap leonard sembari keluar ruangan dan melihat sekeliling, dia memanggil beberapa perawat wanita dan dimintanya mengangkat raisa.


Leonard pun kembali tenang dan diikutinya ranjang yang terus didorong seorang perawat pria, memang bila masalah dorong mendorong mau bagaimana lagi, leonard pun membantunya di samping ranjang khas rumah sakit itu.


Leonard kembali berdecak saat tidak ada wanita yang bisa dia mintai tolong, dia juga tidak bisa membiarkan raisa di angkat perawat pria, mau bagaimana lagi diapun menghembuskan nafasnya kasar sembari terus meminta maaf dalam hatinya, 'sa kamu jangan bangun ya pas gue angkat, maafin gue sa, gue gak nyari kesempatan dalam kesempitan ko!, kesempatannya aja yang datang ke gue!, maafin gue sa!'.


Leonard mengangkat tubuh mungil raisa ke atas ranjang yang lebih nyaman dari sebelumnya bahkan terlihat seperti ranjang hotel, perawat yang semula menemaninya pun bersuara, " bila pasien siuman anda bisa memberi tahu perawat di depan, atau terjadi hal yang patut diwaspadai tolong laporkan pada kami agar dapat penanganan secepatnya".


Leonard mengangguk mengerti, sedangkan perawat itu pergi meninggalkannya di ruangan mewah yang ditapakinya.


Suasana tiba tiba terasa melow, dan rasa canggung memenuhi sanubari leonard, leonard menatap wajah ayu raisa dia sangat mengagumi kecantikannya.


Fleshback on.


Raisa rohdotul latica, seorang anak perempuan dimana saat memasuki sekolah dasar dia sangat sering di bully teman temannya karena hijab besar yang sering dia kenakan, pembullyan itu sering kali berakhir dengan sadis dimana raisa sering menangis karena kerudungnya yang sudah disobeklah, di beri kotoranlah, dan bahkan pernah di jambak kerudung itu hingga terlepas dan membuatnya menangis sesegukkan.


Hari itu raisa masih menangis karena kerudungnya yang terlepas dan di lemparkan kakak kelasnya ke atas pohon jambu di belakang sekolah, matanya memerah karena tangisnya yang tak kunjung berhenti, tempat yang sepi membuat kejadian tersebut tidak di ketahui oleh pihak sekolah.


Leonard menatap nanar ke arah raisa dia merasa iba pada gadis kecil yang tengah sesegukan memeluk lututnya, leonard melepas tas dipundaknya dan memanjat pohon yang cukup tinggi di depan retinanya.


Blughh, suara hantaman keras menyentuh tanah leonard terjatuh dengan kerudung putih di tangannya, lututnya yang memang tidak tertutup celana itu mengeluarkan cairan merah, raisa menoleh ke arah sumber suara dan kembali menangis sangat keras, leonard gelagapan dengan tangisan gadis kecil itu dia menahan rasa ngilu di sikut dan lututnya, leonard berjalan ke arah raisa berharap gadis itu berhenti menangis.


"Ini kerudungnya!, sudah jangan nangis ya!", leonard mengangkat wajah raisa dan mengelap cairan bening di pipinya.


"Hiks.. Hiks... Kak leo kan?, hiks hiks.. Kak kenapa kakak jatuh?, apa karena kerudung ica?,hiks hiks.. kak.. ica gak papa kakak kenapa harus berdarah seperti ini", raisa melihat lutut leonard yang berdarah bercampur tanah.


Raisa mengambil kerudung putih di tangan leonard membersihkan tanah yang menempeli kulit putih leonard, membalutnya dengan kerudungnya sendiri, raisa melepaskan kerudung kecil di kepalanya hingga rambut hitam raisa tergerai indah, raisa kembali mengikatkannya ke sikut leonard, leonard terpaku menatap kecantikan raisa, meski usianya baru 12 tahun namun dia sudah tahu dan dapat membedakan mana yang cantik dan tidak, dia sangat mengagumi keindahan yang terlihat di retinanya itu.


Keesokan paginya raisa tidak masuk sekolah, hingga akhirnya tiga hari berturut turut gadis kecil itu tidak berangkat sekolah, leonard yang memiliki intuinsi yang tajam berencana mengunjungi rumah raisa sore ini, entah mengapa saat melihat wajah manis itu dia seperti menjadi candu dan ingin kembali melihatnya.


Sore hari leonard dengan sepedanya mengunjungi rumah raisa, namun dia terkejut saat mendapati barang barang dari rumah itu sudah di angut ke atas mobil, gadis kecil dengan topi putih di kepalanya menghampiri leonard.


"Kak leo?, tangannya masih sakit?", raisa bertanya seraya mendengkleng kan kepalanya.


"Eh sa?, kamu mau pindah?", leonard balik bertanya melihat perabotan rumah raisa yang sudah di angkut.


"Iya kak!, oh ya terima kasih untuk yang kemarin, ayo ikut ica!", raisa menarik lengan leonard yang berada di samping sepedanya.


Raisa membawa leonard memasuki rumah sederhana dengan perabotan yang sudah kosong, dia mengambil tas sekolahnya dan memperlihatkan barang barangnya.


"Nah untuk ucapan terima kasih ica, kakak bisa ambil salah satu barang ica, itung itung tanda perpisahan kita", raisa menyodorkan tas besarnya namun mata leonard malah terpaku ke arah sebuah foto dengan pasnya yang bertema stroberi


"Aku boleh minta itu gak?", leonard menunjuk pas foto yang berada di kardus di belakang raisa.


Raisa mengangguk dan memberikannya, leonard tersenyum kaku dan melepaskan gelang yang dia kenakan, "ambil ini, kalo sedih kamu boleh baca mantra dan sebut namaku di sana!, hehe mantranya curhatin aja isi hatinya!".


Raisa tersenyum dan menggunakan gelang kain itu, "ica janji akan menggunakan ini sampai ica besar dan akan ica patenkan di tangan ica agar tidak lepas".


Seorang wanita paruh baya tersenyum melihat mereka berdua dan mengangkat kardus di belakang raisa dan tersenyum ke arah leonard, "icanya mau pulang dulu ke rumah barunya, de leo ayo keluar!, ayo ica kita berangkat", suasana sore sehabis hujan itu memberi banyak genangan di jalan di mana mereka melangkah.


Raisa dan ibunya masuk ke dalam mobil dan leonard mendekati sepedanya, hingga akhirnya menengok kembali memperhatikan kepergian raisa.


Fleshback off.


Kejadian hijab putih itu mampu mendekatkan hati mereka meski akhirnya mereka berpisah selama 13 tahun dan kembali bertemu hari ini.


Bersambung...