
"Ngapain kamu ngikutin?, aku juga bisa sendiri", atikah memalingkan wajahnya enggan melihat sosok nathan.
"Feet.. Aku cuma terima amanahnya bunda gak lebih, geer banget!", nathan tersenyum menahan tawa dengan wajah marah atikah.
"Dah sekarang bunda juga udah gak ada, kamu pergi gih, kalo kamu gak pergi aku yang pergi", atikah membalikan wajahnya dan berpaling memutar haluan kakinya.
"Heh, jangan kabur!", nathan menarik tangan atikah dan membawanya masuk ke kamar pengantin yang disiapkan untuk leonard dan raisa.
"Weeey.. Lo gak ngotak ya!, ngapain bawa gue kesini", atikah berontak melepaskan genggaman tangan nathan.
"Gak papa cuma mau kenalan!, aku belum tahu nama kamu", ucap nathan tersenyum lembut sembari menyimpan koper yang semula dia bawa, namun dalam pandangan atikah jelas itu seperti senyuman iblis dengan dua tanduk api.
"Gue jhonathan panggil nathan aja, lo?", nathan menyodorkan tangannya mengharap sambutan baik dari atikah.
Atikah tersenyum evil dia meraih tangan nathan, wajah nathan sudah nampak berseri seri dan, "'sreet nyeeng.. Bugh"', nathan tersungkur di lantai mendapatkan bantingan dari atikah.
"Kamu jahat sekali!", nathan meringis kesakitan dengan wajah berkaca kaca.
'Apa aku keterlaluan?', bisik atikah dalam hati, atikah membelalakkan matanya melihat nathan yang meringis, dia mendekat dan menunduk melihat wajah nathan.
"Apa sakit?", atikah mengigit bibirnya menatap seakan dirinya tengah menahan sakit yang sama dengan apa yang dirasakan nathan.
"Berhijab sar'i, berwajah manis ternyata berkelakuan serigala sungguh si tomboy yang tak terdeteksi", nathan menekan pinggangnya yang terasa sangat linu.
'Cute, banget!', puji atikah dalam hati, dan atikah terkekeh saat melihat rambut nathan yang menjadi acak acakan dengan wajah putihnya yang menawan, terlihat amat manis di mata atikah.
"Ma..maaf, makanya jadi orang jangan kurang ajar!", seru atikah berdiri dan memalingkan wajahnya yang terasa memanas.
"Aku cuma mau kenalan, sadis banget!", nathan masih meregangkan pinggangnya dengan posisi duduk.
"Feet.. Aku atikah", atikah mengulurkan tangannya disambut jabatan lembut dari nathan dan berdiri di hadapan atikah.
"Ayo keluar gak baik di kamar hotel milik bos!, takut kebawa setan", ucap nathan menggaruk tengkuknya berusaha menyembunyikan semirak merah di pipinya.
Atikah mengangguk dan keluar kamar yang di persiapkan langsung leonard untuk istrinya itu.
Atikah yang memang jauh berbeda dengan raisa dan afifah memang tidak pernah memberikan jarak pada laki laki, dia menjabat tangan seperti kebanyakan orang, namun dia juga adalah gadis baik layaknya kedua sahabatnya meski memang dia lebih tomboy.
Atikah kembali ke aula pesta bersamaan dengan nathan dengan siluet indah tertanam di bibirnya.
...
Dari kejauhan leonard tersenyum lembut melihat bagaimana wajah nathan yang sedang jatuh cinta.
"Sayang menurut kamu atikah itu seperti apa?", leonard bertanya saat keduanya melihat ke arah yang sama.
"Atikah itu keren, macho dan tau gak dia itu mantan preman sekolah, feet.. Dia yang suka lindungi aku dan afifah, dia juga punya banyak keahlian fisik", raisa menjelaskan mengenai sahabatnya yang dia ketahui.
"Sama kaya si nathan, mungkin bedanya si nathan lebih kaya cewek kalo di sekolah, hahaha akan ada pertarungan tomboy vs cute boy kayanya", ucap leonard terkekeh mengingat bagaimana kelakuan leonard saat di sekolah yang begitu suka memasak dan menyulam.
"Feet.. Ya perbedaan terkadang memang untuk di satukan biar bisa saling mengisi", ucap raisa tersenyum lembut menatap wajah tampan suaminya.
Raisa tersenyum tak menghindar dan menepuk punggung tangan suaminya, "aku juga suami", raisa memberikan senyum terbaiknya pada sang suami.
...
Cinta besar yang dimiliki raisa dan leonard mampu menyatukan keduanya, mengubah haluan leonard yang semula melenceng dan kini dia sudah temukan hidupnya.
Saat leonard mendapatkan telpon terakhir dari eki setelah pemotretan sukmanya terasa meletih, berusaha mencari penghiburan, namun jiwanya terasa menusuk saat akan merusak diri, hatinya berontak meminta kebebasan akan siksaan, dia gelagapan tak tahu harus bagaimana hingga sosok wanita surgawi berhasil menyadarkannya bahwa hatinya belum mati hanya butuh pengobatan.
Dan kini sukmanya sudah pulih melebihi dari sebelumnya dia lebih siap menghadapi apapun, raisa mampu membawanya menuju dunia asing yang telah lama dia tinggalkan dan kini harus dia tinggali.
"Sayang besok kita pergi ya?", leonard menggenggam tangan lembut istrinya.
Raisa enggan menjawab, dia hanya mengangguk tak ada alasan baginya membantah karena mulai dari saat leonard menjadi suaminya, leonard lah tempat dia pulang, dan tempat dia berada.
"Kenapa tidak bertanya atau membantah?", tanya leonard mengingat bagaimana raisa yang keras kepala sebelum menikah.
"Untuk apa?, aku tahu apapun yang akan suamiku lakukan adalah yang terbaik untuk kita, dan dimanapun kamu berada disanalah tempat aku pulang, suamiku", raisa tersenyum lembut.
...
Nathan tersenyum lembut melihat kebahagiaan sahabat yang telah dianggapnya sebagai saudara itu, kebahagiaan terpancar dari keduanya tanpa bantahan.
Atikah yang kini tengah bersama bunda elfie memakan beberapa makanan yang tersaji.
"Sayang, bagaimana nathan menurutmu?", bunda elfie bertanya pada atikah yang tengah menyumpal mulutnya penuh akan makanan.
"Dia manis bun!", atikah menjawab serentak tanpa berpikir karena itulah kesan pertama yang dia punya dari nathan.
"Apa kamu mau jadi istrinya?", bunda elfie kembali bertanya dengan nada serius.
"Feet.. Uhuk.. Uhuk.. Uhuk..", atikah terkejut hingga terbatuk batuk " emm.. Isshhh.. Bunda kenapa nanya aneh gitu?, kita gak seiman dan contoh ni ya meskipun aku suka sama dia juga mustahil kita bersama, istilahnya akan menjadi seaamin tak seiman, buat apa?, nyiksa hati itu bun", ucap atikah yang mengetahui dengan jelas nathan yang memang melihat namanya saja sudah jelas mereka berbeda kepercayaan.
"Tapi dia udah jadi mu'alaf demi kamu loh", bunda elfie memberikan bocoran akan perjuangan nathan.
"Feet.. Uhuk.. Uhuk.. Bun, yang bener aja kenalan aja baru tadi, ma..", atikah menghentikan ucapannya mengumpulkan serpihan ingatan sebelumnya saat melihat nathan hingga akhirnya dia mampu menarik sebuah kesimpulan.
"Bun?, jangan bilang dari pas pertama liat dia jatuh cinta ya?", atikah bertanya dengan mulut menganga dengan koneksi otak yang loading berusaha menemukan berbagai serpihan pertemuan mereka.
Bunda elfie menjawab hanya dengan sebuah anggukan.
"Tapi dia gak pernah nyapa tuh bun!", atikah membenarkan ingatannya yang dia ingat.
"ya dia tahu kalian gak seiman, dia juga sadar diri, tapi dia sendiri pula yang memutuskan untuk berganti keyakinan, bunda juga terkejut saat mendapati pengakuan nathan", bunda elfie memberikan pencerahan pada atikah, "dan lagi nathan sampai belajar ngaji ke bunda, dia bener bener serius loh sayang", ujar bunda elfie lagi memberikan penjelasan tentang perjuangan nathan.
atikah tertegun, melihat ke arah nathan yang tengah mengobrol dengan beberapa teman prianya yang rata rata telah beristri, nathan yang menyadari dirinya diperhatikan, menengok menatap mata yang tengah memandanginya, tanpa menyela dengan keberanian atikah, dia tidak menghindar dan malah melemparkan senyum terbaiknya pada nathan, alhasil nathanlah yang menjadi salah tingkah dengan rona merah yang sulit di tutupi di kulit putihnya.
Bersambung..