Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Iblis penggoda



Alika terhunyung ke kasur dan berguling guling tak karuan, kembali mengingat apa yang di ucapkan pamannya, "aah so sweet banget...!", alika berteriak teriak di balik bantal dan tertawa kegirangan, pipi manisnya hingga terasa pegal saat mengingat wajah rama dan mata hijaunya.


Malam itu menjadi malam panjang bagi alika selain matanya yang menjadi licin dan enggan terpejam dia juga seakan akan menjadi gila akibat virus cinta.


Di depan monitor rama menatap bagaimana kehancuran musuhnya, dan badai besar yang melanda taman hijau, "maafkan aku tuhan!, aku harus melakukan ini untuk melindungi orang yang lebih banyak!", rama tersenyum getir menundukkan pandangannya.


"Paman!", rayan menatap pamannya yang merasa iba, memang benar bukan keinginan rama untuk melakukan semua itu namun ini dilakukan demi kebaikan, apa salahnya?.


"Iya?", rama tersenym getir menatap rayan.


"Gak papa, paman sudah benar dalam bertindak, aku akan berjuang hidup yang baik ke depannya, aku hanya meminta tolong paman jaga alika", rayan tertunduk lesu berharap rama sebenarnya tidak terpaksa menikahi alika, "apakah paman terpaksa menikahi alika?", rayan memberanikan dirinya untuk bertanya.


"Ya aku mencintainya, dan bila seandainya alika tidak mencintaiku pun aku akan pastikan dia akan tetap menikah denganku!", ucap rama tak perduli dengan siapa dia bicara.


"Paman?", rayan mengangkat alisnya mengerti bila sebenarnya rama adalah orang kejam, di sini entah siapa sebenarnya yang rugi tapi dia kembali merasa kasihan pada saudari kembarnya yang akan menikahi monster.


Suasana hening seketika dan waktu berlalu sesudahnya, fajar menyingsingkan ronanya dan menatap semak semak taman hijau yang porak poranda, alika ke luar rumah menatap bagaimana keganasan semalam, tangannya bergetar mentap ikan ikan yang berserakkan.


"Takut!", rama menggenggam tangan alika dan memluknya dari belakang, alika mengangguk dan berbalik memeluk pamannya, "ganti baju kita akan menikah hari ini kan!".


Rama menekankan kata menikah membuat bulu kunduk alika merinding.


Alika berlari ke kamrnya, rama dan alika selalu menjadi tontonan rayan dari kejauhan.


Helikopter telah di panaskan, pak gunawan dan ikhna sudah siap meluncur bersamaan dengan alika, rama dan rayan yang keluan dari rumah.


"Biar saya saja yang bawa!", usul rama saat melihat kondisi kesehatan pak gunawan yang kian menurun, pak gunawan mengangguk dan menyerahkan kendali helipokter pada rama.


Rama menerbangkan capung besi itu dengan baik, dengan pak gunawan di sampingnya, sedangkan alika, rayan dan ikhna di belakang.


Rama awalnya tertegun saat menatap wajah alika yang mempesona dengan kerudung besar yang dia kenakan, rama benar benar tak sabar untuk menghalalkan alika, begitupun alika.


Seluruh penumpang turun saat sampai di sebuah halaman besar dengan pagar besi menjulang dan istana megah di depan matanya.


"Ini di mana paman?", alika bertanya saat menatap rumah besar di upuk matanya.


"Ini rumah kita sayang!", bisik rama dan sontak saja bulu kunduk alika bediri mendengar bisikan itu, pak gunawan terdiam enggan berkomentar, karena sebenarnya dialah yang mempersiapkan semuanya.


Seorang supir menghampiri mereka dengan mobil mewah berwarna hitam, "tuan rayan silahkan ikut saya untuk melihat rumah anda!", rayan tertegun jadi mulai sekarang mereka akan hidup terpisah.


"Gak!, aku gak akan biarin kamu ngapa ngapain ade gue!", rayan yang sudah tahu wajah asli rama mengancamnya dengan menunjukkan jarinya ke arah rama.


"Baiklah kakak ipar!", rama tersenyum, "pak gunawan bagaimana di dalam?", rama bertanya seraya menatap pak gunawan.


"Sudah di siapkan!", seru pak gunawan, rayan mengangkat alisnya tak faham dia mengikuti langkah pak gunawan dan rama, hingga sampai di ruangan depan rumah megah tersebut dan terlihat beberapa orang yang mengenakan peci dan baju rapih beada di tempat itu.


"Ada apa ini paman?", alika bertanya mengangkat wajahnya menatap wajah rama yang lebih tinggi darinya.


"Bukankah kakak ipar bilang aku harus menghalalkanmu dulu!?, sekarang aku akan melakukan tugasku!", ucap rama yang setelahnya menyapa orang orang yang duduk di ruangan besar itu.


"Apa maksudnya aku akan menikah?", tanya alika pada rayan yang berdiri tak jauh darinya.


"Apa? aku jadi wali nikah!" rayan menatap alika yang berdiri mematung belum percaya dengan apa yang di lakukan pamannya.


"Duuuh paman, kan ada wali hakim, aku belum siap nikahin orang akunya aja belum nikah!", seru rayan duduk di belakang.


"Ah baiklah, sayang sekali!, ayo sayang!", rama menarik alika menuju sebuah meja kecil dan seorang penghulu dan dua saksi berada di depan mereka.


"Beneran gak mau jadi wali?", tanya rama lagi pada rayan di belakangnya.


"Iya, aku serahkan tugasku pada wali hakim saja!", ucap rayan dan kemudian acara berlangsung sangat hikmat hingga do'a penutup berkumandang.


Tak ada yang aneh dari rama selama acara berlangsung dia seperti biasa bersikap dewasa, namun setelah acara selsai semua orang tertegun saat rayan bangkit dari duduknya dan mengangkat alika.


"Pak gunawan, lakukan apa yang aku katakan kemarin!", ucap rama dan membawa alika ke lantai dua.


"Paman lepas!", alika berontak saat dirinya sudah sampai di lantai dua.


"Kenapa?", tanya rama tanpa rasa bersalah menatap dengan penuh gairah pada raisa.


Pria macam apa yang sudah menikah dengannya, dia mentap mata hijau rama dan merasakan getaran yang sama itu lagi.


"Kenapa menghindar?, aku suamimu sekarang sayang!", rama mendekat, alika mundur hingga akhirnya mentok di sebuah pintu.


Cklek, rama membuka pintu itu dan hampir membuat alika terjatuh untunglah tangan rama cekatan mengambil pinggang istrinya, "paman?, a...apa.. Kamu pamanku?", alika bertanya seakan rama adalah orang asing.


"Tentu saja!, aku lelah sudah cukup lama berpuasa dan menahan diri, kamu selalu menggodaku tapi aku selalu sabar, tapi tidak dengan sekarang!", rama tersenyum picik.


Glek, alika menelan salivanya dia benar benar gelagapan bagaimana bisa pria manis, dewasa, baik dan penyabar berubah menjadi iblis yang menyeramkan seperti ini.


"Tenanglah bila belum siap aku juga tidak akan memaksa!", melihat alika yang ketakutan rama kembali tersenyum manis mengusap kepala alika dan berlalu mengambil handuk ke kamar mandi.


"Paman!, hmmm... Itu anu...", alika mengadu adu dua jari telunjuknya memasang wajah memelas.


"Apa?", rama mengangkat alisnya melihat sekilas alika yang mematung.


"Aku dulu mandinya!, paman tunggu di luar!", alika menyambar handuk duluan dan masuk ke kamar mandi, rama terkekeh melihat kelakuan istrinya.


"Jangan lama lama!", rama memperingatkan dan membuka lemari alika, dia mengambil baju baju tertutup yang di siapkan pelayan untuk alika dan menyisakan baju baju malam dan terbuka saja.


Alika berada di kamar mandi hampir satu jam lebih, rama mulai hawatir dan mengetuk pintu kamar mandi.


"Sayang.. Lama banget nanti keriput tangannya!", rama bersuara alika menelan ludahnya dan membuka pintu.


Alika keluar menggunakan handuk dengan rambut basah, "paman jangan bermain solo ya!, aku akan melakukan kewajibanku!", seru alika menahan hawa panas di pipinya.


Rama yang memang sudah berusia dua puluh enam tahun tahu pasti apa maksud alika, "kewajiban yang mana?", tanya rama mengangkat dagu alika.


Alika terperanjat dan mendorong rama masuk ke dalam kamar mandi, jantung alika berdegup amat kencang merasakan getaran hebat yang di berikan pamannya, dia memang sudah tahu pasti sejak dulu bila dia mencintai pamannya, tapi bila melakukan hal dewasa alika juga masih sangat polos, namun bila di lihat kembali seperti tadi rama memang seperti iblis penggoda, alika benar benar kewalahan dengan suami iblisnya.


Bersambung...