
"Bagaimana kondisi Gunawan?" tanya Amry yang baru keluar dari ruang rawat.
Rama mengangkat wajahnya dan kembali menunduk, karena saat itu dia tengah duduk di bangku panjang di dekat sang isteri.
"Hah.. Sudahlah ayo ke ruamh sakit!" Amry tidak lagi bertanya karena dia juga sudah tahu apa yang terjadi pada Pak Gunawan, mustahil baginya selamat dari tembakan bertubi tubi semacam itu.
Namun sebelum langkah mereka beranjak nampak Alika yang seperti linglung dan akhirnya terjatuh pingsan, sontak hal tersebut mengejutkan Rama dan Amry yang berada di sana.
"Sayang bangun! Sayang oh tidak!" Rama panik bukan main terlihat tangannya yang bergetar hebat.
Di sela keriuhan itu nampak seorang pria bertubuh tegap yang memasuki lorong tersebut memperhatikan Alika yang di bawa oleh Rama.
"Tugu!" pria itu menghentikan langkah Rama namun Rama yang panik malah menghardik.
"Kenapa!, tidak lihat isteriku pingsan hah..!" ucap Rama sangar, pria itu nampak elus dada dan berucap dengan lembut.
"Aku seorang dokter! Dan aku bisa membantunya!" ucap pria itu lembut namun tegas. Rama menelan salivanya dan mengangguk percaya karena melihat karisma pria itu dia ampak seperti orang baik yang tidak berniat jahat.
"Baiklah!" Rama membawa Alika ke sebuah ruangan perawatan di mana semula Amry merawat lukanya.
Dokter itu nampak cekatan memeriksa Alika dengan alat yang ada, Rama yang memperhatikan dari kejauhan hanya menatap lesu ke arah isterinya yang nampak tidak berdaya di atas pembaringan.
"Sudah aku duga!" tiba tiba pria itu berseru, dia nampak melihat area dada kiri Alika, Rama yang tidak suka dengan pandangan pria itu yang mengarah pada bagian benda miliknya lantas melotot tajam.
"Mengapa kau memperhatikan tubuh isteriku hah?, jangan macam macam!" ancam Rama sangar, pria itu menggelengkan kepalanya dan tersenyum lembut.
"Sepertinya dia memiliki penyakit jantung yang sangat langka!" ucap pria itu kemudian.
Sontak Rama yang mendengar itu terkejut bukan main, dia melotot tak percaya dengan kondisi tubuh sang isteri.
"Bagaimana mungkin?, dia tidak pernah mengeluh sakif sebelumnya." Rama menggenggam tangan sang isteri yang terasa sangat dingun.
"Ya, memang seperti itu, namun saat kondisinya memburuk akan mengakibatkan hal yang berbahaya, dan pemicu kambuhnya penyakit biasanya akibat trauma, dan tekanan batin." ucap Pria itu menjelaskan.
Rama menghembuskan nafasnya kasar mengelus lembut tangan sang isteri penuh sayang.
"Apa kamu benar benar tidak mengenalku?" tanya dokter tersebut menepuk pundak Rama.
"Tidak!" jawab Rama singkat yang memang dia merasa tidak pernah bertemu dengan pria di hadapannya tersebut.
"Aku Ferry! apa masih tidak ingat?" Ferry memperkenalkan dirinya yang mana dirinya sendiri merasa sangat yakin bila dia berjumpa dengan orang yang sangat dia kenal.
"Aku tidak tahu!" Rama dengan singkat menjawab dengan pikiran yang kalut dengan banyak masalah.
"Sudah tidak apa apa, meski dia tidak mengenalmu setidaknya aku mengingatmu!" Amry menepuk pundak Ferry dengan senyumnya yang tidak terlihat.
"Hah? siapa kamu?" Ferry terkejut mendengar suara yang sangat dia kenal namun dengan wajah yang sangat tidak dia kenal.
"Ah ya ampun, pada Rama yang tidak mengenalmu kamu ingat. Dan aku yang jelas jelas mengenalmu kamu tidak kenal?, Sangat keterlaluan!" ujar Amry menggelengkan kepalanya.
Ferry mengangkat alisnya tidak mengerti, dia benar benar buta wajah pada orang di hadapannya tersebut.
Amry menepuk jidatnya, apakah penyamarannya selama ini sangat sempurna hingga sahabat sendirinya saja tidak mengingatnya sama sekali.
"O.. ka...kamu A?" Ferry menunjukkan jarinya ke arah wajah Amry absort.
"Ah kagetnya telat!, apa aku terlaku sempurna ya penyamarannya?" dengan bangga Amry mengelus berewoknya yang menghiasi daerah dagu dan rahangnya.
"Gila, ini kamu A serius dong?" Ferry celingukan memperhatikan setiap sudut pria tegap yang nampak sangat tua itu.
"hmm..!" Amry menjawab singkat dengan deheman, namun mereka kembali fokus melihat Rama yang nampak sangat bersedih.
Amry dan Ferry mengkhiri nostalgianya dan menatap Rama sangat lekat, Ferey kembali berbisik.
"Aku ngerasa dia mirip sama Ridwan dan wanita itu sangat mirip dengan Leonard versi perempuan, tapi dia bilang itu isterinya masa iya dia nikahin keponakan sendiri!" bisik Ferry pada Amry, namun karena telinga dan pendengaran Rama yang sangat tajam dia dapat mendengar bisikan itu.
"Aku memang menikahi keponakanku sendiri!" jawab Rama mengelus kening Alika yang nampak berkeringat.
"Eh.." Ferry terkejut mendapatkan jawaban langsung dari Rama dia menelan salivanya merasa canggung.
"Aku mencintainya dan Alik mencintaiku, agamapun tidak melarang hubungan kami karena statusku hanya sebagai saudara angkat dari Kak Leo bukan saudara kandungnya." ucap Rama menjelaskan.
Ferry lagi lagi menelan salivanya mendapatkan ceramah dari Rama, dia tahu benar bagaimana sifat Ridwan yang kini berubah nama menjadi Rama itu. Dia memiliki sifat dingin dan mengintimidasi yang luar biasa, amat jauh berbeda dengan sifat saudara angkatnya yang lain seperti Nathan dan Leonard.
"Siapa kamu?" dengan tegas kembali Rama bertanya pada Ferry yang membuat wajah pria itu berubah pucat.
"Aku ferry, aku salah satu dari lima member FLAGJ" jawab Ferry memperkenalkan dirinya.
"FLAGJ?" nama yang begitu asing di telinga Rama membuat matanya menyipit.
"Ferry, Leonarad, Amry, Gunawan dan Jhonathan. itu nama grup kami dan kami lebih di kenal dengan huruf awal kami." Amry menjelaskan, dengan senyuman yang mengembang.
Rama kembali menundukkan wajahnya. Dan melihat sebuah gerakan dari mata sang isteri.
"Sayang..!" Rama mendekat dan memperhatikan lekat mata Alika yang bergerak dengan tangannya yang terus menggenggam Alika.
"Ada minyak kayu putih?" Ferry menuju seorang perawat yang tengah merapikan barang barang disana.
Perawat itu mengangguk dan membuka lemari mengambil sebuah botol minyak kayu putih.
"Di usapkan di area dada kiri isterimu dan ingat harus sangat pelan!" ucap Ferry menyerahkan minyak kayu putih itu pada Rama.
Tak perlu di pinta kembali, Amry dan Ferry keluar dari ruangan itu membiarkan Rama merawat daerah tubuh yang memang tidak pantas mereka lihat.
Setelah mereka semua keluar Rama menyibakan baju Alika dan melakukan hal yang di anjutkan padanya oleh Ferry sebelumnya. Matanya yang penuh khawatir malah kini berkeliaran liar melihat sebuah gundukan yang saling berhimpit, dia terus menelan salivanya saat matanya menatap dua benda tersebut.
Rama mengelus lembut dada kiri Alika dengan birahi dan khawatir yang bercampur menjadi gado gado, Rama sampai lupa akan kekhawatirannya saat itu pada kondisi Pak Gunawan dan Ikhna yang kini mungkin tengah bersama dengan Rayan. Beberapa kali Rama menyalahkan matanya yang tidak bisa dia kontrol.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Komen dan masukin list bacaan kalian ya..
Salam cinta dari Raisa...😘😘