Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Istri bar barku



Sebuah langit langit putih menjadi pemandangan pertama yang di lihat atikah, dia tertegun sejenak, dia berusaha mengumpulkan nyawanya dan mengingat ingat kejadian yang telah berlalu hari ini.


"Heeeh.. Gue udah nikah ternyata!", atikah mengerjapkan matanya, mengangkat tangannya melihat jarinya yang masih kosong namun dia tetap tersenyum.


"Udah bangun!", nathan keluar dari kamar mandi dengan rambut basah yang menetesi tubuhnya.


"Aaaa...seetaaaan!", atikah berteriak melihat tubuh atletis nathan yang basah, nathan terbelalak tak menyangka bila istrinya akan berteriak sangat kencang hingga membuat gendang telinganya terasa akan pecah.


"Kenapa teriak si!?", nathan mengorek telinganya yang terasa berdenyit dan membuka kopernya yang berada di pojok ruangan.


"Dah mandi gih, bau iler tuh!", seru nathan mencari pakaiannya.


Atikah menghembuskan nafasnya kasar, mengambil pembersih wajah dengan beberapa barang yang sekiranya dia butuhkan.


Atikah melihat pakaiannya dan, deg, jantung atikah melotot menatap apa yang ada di dalam kopernya.


"Feet.. Oh jadi kamu udah mau di puasin toh!", nathan menggoda atikah saat atikah menatap kain merah transparan yang ada di tangannya.


Atikah melotot menatap kemeja yang di tangan suaminya, dengan gerakan kilat atikah merebut kemeja itu dan berlari masuk ke kamar mandi, nathan melongo meratapi dirinya yang tidak bisa bergerak karena gerakkan yang tiba tiba dari atikah.


Kegiatan yang di rencanakan raisa pun gagal total, atikah terkekeh mengingat bagaimana perjuangan para sahabatnya yang berusaha menyatukan dirinya dan nathan.


Atikah membersihkan dirinya dan melipat gaun yang semula dia kenakan di kamar mandi yang berukuran cukup besar.


Atikah sedikit lama di kamar mandi mungkin lebih dari setengah jam, atikah terkekeh pasti raisa dan afifah akan marah besar bila dirinya mengacaukan rencana mereka.


Akhirnya atikah keluar kamar dan melihat nathan dengan kacamata dan leptop yang menyala di atas kasur, atikah mengibas kan rambutnya hingga percikan air mengenai wajah nathan tanpa di sengaja, nathan tersenyum melihat rambut berwarna kecoklatan di upuk matanya, dia terpesona menatap rambut yang baru pertama kali di lihat pria.


Nathan mendekat menghisap aroma shampo yang sangat lembut, atikah menggeliat merasakan angin dari hembusan nafas nathan, dia berbalik dan melihat wajah nathan yang nampak memerah.


Rasa trauma yang pernah singgah di hati atikah dia buang jauh jauh dan melingkarkan tangannya di atas leher sang suami.


"Selsain kerjaannya gue gak mau melarat pas habis nikah sama lo, gih gih..", atikah mendorong tubuh nathan hingga pria itu tertegun di beri harapan palsu oleh istrinya.


"Aku gak lagi kerja kok, aku cuma lagi cari tempat buat ngehabisin waktu di sini", ucap nathan duduk di tepi ranjang.


"Oh, bisa bahasa korea?", tanya atikah menyisir rambutnya yang mulai mengering.


"Lumayan, besok kita ke namsan seoul tower dulu, kita bisa gantung gembok juga di sana , dah hampir pagi yo tidur!", nathan tidur di kasur empuknya dia amat tersiksa karena tidak mendapatkan jatah dari sang istri, untuk beberapa lama atikah berada di depan cermin merias dirinya.


"Sayang..", atikah tidur di belakang nathan dan memeluk suaminya yang belum tertidur, berbisik mesra tepat di dekat telinga sang suami.


"Sayang, kamu sangat menggoda aku tidak bisa menahan diri ku bila harus seperti ini", nathan mengangkat wajah istrinya.


"Wraaaar..", atikah menakuti nathan yang berdandan ala setan membuat nathan terperanjat dan hampir terjatuh dari ranjang, namun naas tangannya untuk menopang terjatuh dengan cepat atikah menarik tubuh nathan hingga akhirnya nathan terjatuh di atas tubuh atikah.


Deg, deg, deg, jantung keduanya berdetak amat cepat dan membuat nathan tak snaggup menahan dirinya, dia mendekatkan wajahnya ingin mengecup bibir atikah namun atikah menghalangi bibir itu dan pergi ke kamar mandi.


Nathan menghembuskan nafasnya kasar, dia amat kesulitan menaklukan istri bar barnya.


Atikah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang basah setelah membesihkan wajahnya yang sempat dia dandani, dia melihat nathan yang nampak kecewa tengah duduk memainkan ponselnya, atikah mengambil ponsel yang di oegang suaminya dan duduk di atas paha sang suami.


"Jangan beri harapan palsu lagi, aku tidak tahan sayang!", nathan merengek menundukkan wajahnya, dan alangkah terkejutnya dia saat melihat dua gunung indah di depan matanya.


Atikah tersenyum sekilas dan melingkarkan kakinya di perut sang suami, dia menatap wajah suaminya dari atas dan mengecup lembut dan sangat dalam kening sang suami.


Nathan menengadahkan wajahnya menatap wajah raisa yang memerah.


"Ingat pelan pelan!", ucap atikah meletakkan keningnya di atas kening sang suami.


Nathan menagngguk mendapati lampu hijau dari sang istri dan langsung mengecup bibir yang dingin namun terasa manis milik atikah, tubuh atikah memanas dengan matanya yang muali sayu menikmati setiap sentuhan yang di berikan suaminya.


Dengan lembut nathan menyelipkan tangannya di sela sela rambut atikah dan memperdalam ciumannya.


Atikah membunuh rasa takut yang sempat memenuhi hatinya dan terbawa permainan yang di lakukan suaminya.


***


Raisa terbangun kembali di ⅓ malam dan menunaikan sholat tahajud bersama sang suami, transfusi sudah habis satu labu dan tidak bisa tambah lagi karena dia hanya bisa melakukan trasfusi sehari satu labu saja.


Dia di bantu sang suami kembali ke ranjang dan tertidur setelahnya sampai waktu subuh.


...


Jam menunjukkan pukul 7 pagi raisa sudah bersiap untuk pulang pagi itu, dia benar benar merasa tidak nyaman bila harus terus di rumah sakit begitu pula dengan leonard yang membantu raisa.


Mereka pun pulang di jam 9 pagi menuju kediaman utama rumah keluarga attahaya.


Bersambung...