
Leonard menyelesaikan sholatnya dan dilihat raisa yang berada di balkon kamar tersebut yang dihiasi berbagai macam jenis bunga.
"Sa?, kamu suka bunga?", raisa mengangguk meng iya kan.
"Yo ke dokter!", ajal leonard dengan senyum tulus di bibirnya.
"Gak papa kak, ini juga udah lebih baik", raisa menunduk kan pandangannya membenahkan bunga di hadapannya.
'Kecantikan luar biasa', batin leonard menatap geming bidadari di hadapannya.
"Kak aku mau pinjam handphonenya boleh?", raisa memohon dengan wajah memelas, deg!, kembali lagi jantung leonard hampir terlonjak keluar menatap wajah manis di upuk matanya.
"Ehem.. Eh.. I..iya itu memang handphone buat kamu, bentar aku ambil dulu!", leonard berlari ke ruangan bawah, raisa keluar kamarnya dan mengunci pintu itu, bisa bisa dia dalam bahaya bila terus berdekatan dengan pria macam leo dalam satu ruangan.
Raisa perlahan berjalan menuruni anak tangga, leonard sudah melihatnya dari ruangan bawah.
"Nih handphonenya!", leonard membeikan sebuah ponsel dengan gambar apel bekas gigitan itu pada raisa.
"Aku pinjem aja", raisa mengetik beberapa nomor dan berhasil terhubung.
"assalammu'alaikum, maaf dengan siapa?", suara lembut perempuan menyapa raisa dari sebrang telpon.
"Wa'alikum salam, aku raisa!", jawab raisa lembut.
"Eh ca?, kenapa kamu gak papakan?, kalo kenapa kenapa malam ini aku nginep deh di sana sama afifah, kamu gak papakan ca?", suara itu terdengar sangat khawatir atas kondisi raisa karena sebelumnya dia juga ikut ke pemakan namun dia tidak berani menyapa karena di bagian shaf paling depan terdapat begitu banyak pembesar dari berbagai kalangan.
"Malam ini aku kesana tik", ucap raisa lembut.
"Ok deh mau adain tahlilan disini ya?", tanya atikah lembut.
" Iya tahlialan", raisa menjawab sangat lembut.
"Ok deh nanti aku bantu buat persiapannya", ucap atikah bersemangat namun masih terdengar sayu.
"Terima kasih, assalammu'alaikum", raisa memberikan salam dan cukup sebentar percakapan itu dan memeberikan ponsel itu pada leonard.
"Ambil aja, aku punya banyak di rumah yang kaya gitu", ucap leonard sombong, namun memang kenyataannya.
"Gak papa kak!, aku juga bisa beli", ucap raisa menyerahkan ponsel itu, namun di tolak leonard.
"Kalo kamu gak terima aku buang aja deh, nanti aku beliin yang lebih keren", ucap leonard akan mengambil ponsel di tangan raisa.
Namun dengan cepat raisa menariknya kembali, "Terima kasih kak", raisa tersenyum lembut.
"Malam ini kamu mau ke mana?", tanya leo penasaran.
"Ke pondok!".
"Aku ikut!".
"Eh tapi aku di sana cukup lama mungkin sampai dua bulan atau tiga bulan", ucap raisa lembut.
"Lama banget!, bisa gak kalo seminggu?", tanya leonard mulai nego.
"Hmm.. Aku mau nenangin diri kak!", raisa berjalan dan duduk di sofa tempat semula dia duduk.
"Ya sudah aku ikut!", paksa leonard tanpa meminta persetujuan raisa.
Leonard menghubungi asistennya, "tan?, gue mau mesantren dan mau ada yang mau aku bicarain, pinta semua kariawan produksi buat kumpul di alamat yang nanti gue kirimin alamatnya, gue tunggu dalam 1 jam", tut..tuut.. Leonard langsung menutup telponnya, disebrang sana natahan kebingungan dengan apa yang terjadi dia sudah biasa bila leonard berbicara lewat telpon selalau seperti itu.
1 jam kemudian para kariawan produksi datang bersama nathan yang membawa moge milik leonard.
"Bagus kalian datang semua!", sebelumnya raisa di pintai leonard untuk menunggu di lantai dua dan jangan turun.
"Nathan selidiki orang yang ada disini!", leonard memberikan sebuah rekaman cctv ke pada nathan melihat dengan lekat kepada gambar yang di tunjukan.
"Oke!", nathan tak berkomentar apapun karena melihat cctv tersebut dia tahu jelas pasti wanita itu istimewa.
"Kalo ketemu, kasih dia pelajaran!", nathan membelalakan matanya dia berpikir berlebihan ternyata.
"Kenapa?", tanya nathan penasaran.
"Dia sudah berani melukai wanitaku!", ucap leonard posesif.
"Eki?", tanya nathan penasaran.
"Ck, dia udah punah di hati gue!, udah gue bakar fosilnya juga sampai tidak tersisa", leonard mendengus kesal.
"Terus siapa?", nathan penasaran dengan wanita yang di maksud leonard.
"Ada dehh...kepo banget, o ya aku undang kalian kesini karena mau minta maaf, mungkin kedepannya aku akan berhenti dari dunia hiburan", ucap leonard pasti.
"Kenapa?!", nathan terperanjat amat terkejut.
"Karena mau pensiun aja!, kebetulan aku juga harus nerusin pekerjaan ayah!", ucap leonard mengusap tengkuknya yang terasa ngilu.
"Ah, itu hak kamu!, tapi jangan sungkan kalo mau balik lagi pintu terbuka lebar untuk kamu", ucap nathan yang memang tidak bisa melakukan apa apa bila sudah berhadapan leonard yang sangat keras kepala.
"What?!, pesantren?", semua orang berseru tak percaya hingga mengakibatkan ruangan itu gaduh.
"Iya gue mau mondok bro, kebetulan gue takut mati gak bawa bekal, bekal dosa aja banyak bisa bisa gue gak akan kebagian bidadari surga kalo gue nakal terus", ucap leonard terkekeh.
Leonard menjelaskan berbagai alasan yang menyebabkannya harus berhenti dari dunia hiburan, dia juga melakukan klarifikasi yang di tayangkan secara live dari akun sosial medianya.
Ada beberapa orang yang tidak setuju dan bahkan mengatai leonard, namun leonard tidak perduli dia lebih ingin menjadi dirinya sendiri dan membahagiakan orang yang amat berarti saat ini.
...
***
Waktu menunjukan pukul 4 sore raisa seperti biasa melakukan tadarus di kamarnya, suara raisa yang syahdu membuat beberapa orang bertanya tanya sebenarnya siapa orang yang tengah bertilawah itu.
"Leo?, siapa di atas?", tanya natah penasaran.
"Calon istri!, jangan pada ke atas di atas hanya di bolehkan untuk privasi, kalian udah kelar kan sekarang pergi, pergi!", usir leonard, semua orang ternganaga tak percaya, dan tidak mendengarkan leonard dan menerobos ke ruangan atas hingga sampai ke sumber suara.
Raisa yang tengah bertilawah mengakhiri tilawahnya dan di lihatnya segerombolan manusia yang memenuhi pintu mushola kecil di pinggir kamarnya itu.
"Itu kamar istri gue, keluar lo pada!", leonard mengusir dan mendorong mantan kariawannya namun niat mereka sudah bulat untuk mengintrogasi leonard dan raisa.
"Gue gak percaya lo udah nikah leo!, kalo calon istri masih masuk akal!".
"Gila cantik banget!".
"Lu pake pelet apa sampe tuh cewek mau sama lu leo!?".
Beberapa kariawan terus berbicara dan melihat piala raisa yang berjajar rapih di mushola kecil itu.
"Gue bilang keluar kamar bini gue sekarang!", leonard murka dia mendorong semua mahluk tak beretika itu keluar kamar, setelah di luar kamar mereka terus melihat ke arah leo.
"Siapa dia?", tanya nathan penasaran.
"Di bilang calon istri!, dah sana pulang semuanya", leonard mengusir semua mahluk itu namun gagal.
"Kak leo?, udah selsai?", raisa keluar kamarnya dan melihat semua teman leonard yang semuanya adalah laki laki, raisa tersenyum sekilas dan pelan pelan raisa menuruni anak tangga.
"Aw.. Meleleh hati abang de".
"Bener bener bidadari surga".
"Cantik!".
Semua orang mengacungkan jempol ke arah leonard.
Leonard yang melihat raisa kesulitan memegangi lengannya dan membawanya duduk di sofa.
"Siapa namanya leo?", tanya nathan penasaran.
Semua orang duduk lesehan di depan raisa dan leonard, seperti anak anak yang siap mendengarkan dongeng dari orang tua.
"Ah.. Dia raisa calon istri gue!, sa kenalin ini teman teman aku", leonard mengubah nada bicaranya saat melihat raisa.
"Cie yang aku bukan gue!", seru seorang tim produksi.
"Dah jelas kan sekarang pergi kalian!", ucap leonard mengusir.
"Tega banget, emang ngapa si buru buru banget", leonard terdiam tidak ingin menjelaskan apa apa.
"Maaf ya kakak semua, malam ini harus diadakan tahlilan jadi mungkin kak leo melakukan ini", raisa berusaha menjelaskan.
"Tahlilan?", nathan penasaran.
"Tahlilan itu berdo'a untuk orang yang baru meninggal than, biasanya 7 atau 3 hati tergantung tradisi masing masing daerah", seorang tim produksi menjelaskan pada nathan yang memang beda agama.
"Oh.. Kalian juga bisa kan tahlilan itu?", tanya nathan pada teman temannya.
"Bisa!", seru semua warga produksi.
"Ya sudah biar gak ada acara usir mengusir lagi kita tahlilan offline dan online biar do'a nya makin banyak gimana?", usul nathan.
"Ide bagus tuh than!", seorang warga produksi menganggunk anggukkan kepalanya.
"Sorry nih gue gak mau melibatkan masalah pribadi gue sama masalah pekerjaan, lagian gue udah bilang mau berhenti", ucap leonard kekeh.
"Gak papa kak, kita tahlilan disini aja!, ini juga tempat tinggal aku sama ibu, tadinya aku juga berencana disini tapi karena disini bukan pemukiman rasanya mustahil akan ada orang", ucap raisa.
"Iya deh, tapi gak usah online, bawa istri istri kalian ke sini buat bantuin nyiapin keperluannya", ucap leonard singkat.
Semua mengangguk setuju, malam itu di adakan tahlilan beberapa rekan leonard pun ikut hadir bahkan teman teman raisa dari pesantren pun turut hadir, acara berjalan hikmat malam itu leonard pulang dengan mogenya dan raisa tinggal dengan dua teman pesantrennya.
Akhirnya raisa memutuskan untuk tidak ke pesantren dan memilih tinggal di rumahnya, pemikiran apa yang perlu dia tenangkan, dia dapat membaca al-qur'an di manapun, dan ini adalah tempat tinggal dirinya dan sang ibu tercinta.
Bersambung...