
Bunda elfie perlahan membuka lembaran buku yang di berikan putranya dan duduk di tepi ranjang rumah sakit yang leonard tempati.
Assalammu'alaikum..
'Hai haii... meski ini ya aku gak yakin akan ada yang baca buku ku tapi aku selalu menuliskan setiap hal penting di hidup ku, hari ini aku mendapati hal yang amat mencurigakan, entah itu hanya pandangan ku saja atau itu betul tapi aku sangat takut keluarga suamiku dalam bahaya, hari ini untuk ke sekian kalinya aku mencium aroma yang sangat mematikan dari pasakannya, dan maaf bunda aku menjatuhkannya dengan sengaja itu masakannya dan waktu aku tiba tiba mual itu juga aku sengaja sebenarnya aku takut dia melakukan hal yang mengancam kalian, feet.. Seandainya ada yang baca buku ini seperti waktu itu kak leo baca mungkin aku akan sedikit bersyukur tapi aku juga mungkin akan di cap wanita curigaan, itu kenapa aku tidak ingin memberi tahu hal ini pada keluargaku sendiri, kemungkinan yang akan baca buku ini adalah putra putriku, semoga allah melindungi kalian berdua sayang, ibu sayang kalian karena cinta ibu sudah habis di kikis sama ayah kalian, feet.. Ibu bohong, tentu saja bunda juga cinta kalian!'.
Isi salah satu lembaran tulisan raisa namun tanpa salam penutup, bunda elfie tertegun yang ternyata sang menatu sudah mengetahui semua yang di rencanakan koki rumahnya, hingga akhirnya sampai ke tulisan yang tanpa salam awal namun di akhiri salam penutup, seakan raisa sudah punya firasat akan dirinya yang akan pergi meninggalkan dunia.
'Aku yakin sekarang suamiku pasti akan baca buku ini, sayang!, aku menyimpan sebuah benda berharga di taman hijau aku menyimpan benda tersebut saat terakhir kita ke sana, aku simpan di tempat rahasia kita dan hanya kita yang tahu sayang, aku berharap itu berguna untuk mu, namun maaf sayang aku mungkin sekarang sudah berada di ujung pengharapan namun aku masih berharap putra putri kita baik baik saja, jaga mereka baik baik suamiku.
Jangan membalas dendam atas kepergian ku, meminta maaflah pada mereka bila memang punya salah dan aku sudah ridho bila aku harus menggantikan nyawa ku dengan nyawa kalian, mungkin aku berdosa atas apa yang aku lakukan namun aku juga tidak bisa membiarkan kalian dalam bahaya suami ku, aku sangat mencintai mu.
Cinta ica untuk leo seorang.
Wassalammu'alaikum wr.wb'.
Bunda elfie menitikan kembali air matanya saat melihat tulisan tangan yang sedikit miring itu, mata leonard yang sangat merah menandakan dirinya sudah membaca semua halaman buku tersebut.
"Ica...", bunda elfie menunduk lemas dia tidak menyangka bila masa lalunya akan berbuntut hingga saat ini.
"Ini benda yang raisa katakan!, dan mereka adalah musuh bunda, maaf bunda!, aku tidak sepatutnya membencimu itu pula yang di katakan istriku tapi bunda sudah menyertnya dalam masalah yang rumit dan menjeratnya, bunda.. biarkan aku pergi bersama ridwan dan kedua putra putriku, jaga baik baik pusara raisa, biarkan aku pergi jauh dari kalian, selsaikan masalahmu dan setelahnya baru datang mencariku, ingat baik baik nama kedua cucumu alika attahaya dan rayanza attahaya, mereka cucumu dan aku adalah putramu!", ucap leonard panjang lebar dengan keputusan bulatnya.
"Kemana kamu akan pergi nak?", tanya bunda elfie menatap tajam sang putra penuh kasih.
"Masih di negara ini namun aku akan tinggal di tempat yang cukup jauh dari kalian!", ucap leonard pasti dan menatap amat lekat kedua putra putrinya.
Bunda elfie mengangguk mengerti memberikan kebebasan pada putranya untuk mengambil jalan yang menututnya benar.
Dua hari berlalu setelah perawatan putra putri leonard, dia sudah selsai memindahkan nama ridwan masuk ke kartu keluarganya dan meminta surat pindah ke tempat yang sangat ramah dan penuh dengan manusia baik.
Tidak begitu jauh dari ibu kota namun di sana dia dapat menemukan kenyamanan sama seperti yang di ucapkan istrinya, sebuah tempat yang tenang dan damai dan amat menjunjung adat kebudayaan dan agama.
Ridwan tersenyum dan mengubah nama panggilannya menjadi rama, begitupun leonard yang hanya leo saja hanya untuk sedikit menyamarkan identitas mereka, bahkan mata yang berwarna hijau milik rama pun dia tutupi dengan lensa berwarna coklat dan memiripkan dirinya dengan leo, keduanya sama sama menggunakan kaca mata dan sangat tampan dan berwibawa.
Leo yang dulu merupakan pria periang berubah menjadi dingin dan tidak terlalu banyak berinteraksi, begitu pun rama yang memang seperti itu sifat aslinya.
Setelah sebelumnya rama berusaha memirip miripkan dirinya dengan leo, kini malah leo sendiri yang memintanya.
Sebuah mobil sederhana di bawa leo melaju di antara kendaraan lainnya, menepikan ke sebuah tempat yang sunyi membawa kedua putra putrinya bersama adik bontotnya.
Leonard menatap pusara sang istri yang masih memerah tanah di atasnya dengan begitu banyak bunga yang tertabur.
"Di sini tempat bersama kita di masa depan istriku!, cintaku tak akan lenyap hingga kapanpun!, aku sangat mencintaimu!, sayang ini putra putri kita, meski kita sudah berada di dunia yang berbeda namun aku berharap kita akan bersama di masa yang di tentukan tuhan di masa depan", leonard mengelus nisan sang istri dan tersenyum lembut seakan dirinya benar benar menyentuh sang istri.
Hadhoroh dan untaian kalimat suci terlantun dari mulut leonard dan ridwan, hingga akhirnya mereka menaburkan bunga dan pergi meninggalkan pusara raisa.
Entah karena kepekaan yang tajam dari seorang bayi tiba tiba rayanza mengungkapkan sebuah kata yang mustahil di ucapkan bayi bila bukan karena kebetulan yaitu.
"Mama!", leonard tertegun saat putra kecilnya mengatakan kalimat itu dan memeluk keduanya erat, "iya sayang!, mama juga pasti sayang kalian!", seru leonard merasakan bagaimana keterikatan batin antara mereka terikat, yang akan sangat sulit di tebak oleh orang lain.
"Kak, ayo!", rama menggenggam erat baju leonard dan mereka kembali melangkah memasuki mobil dan menuju rumah baru mereka.
Bersambung...