Hijrah & Hapidzoh

Hijrah & Hapidzoh
Pusara



Raisa di bantu bunda elfie duduk di kursi roda untuk menuju kamar jenazah dan melihat untuk terakhir kalinya wajah cantik yang sudah membesarkannya dan menemaninya, leonard siaga di samping kursi roda untuk menghindari kecelakaan yang tidak terduga, rasa gugup mengitari pikiran raisa, bagaimanapun dia dilayani untuk pertama kali bukan oleh ibunya.


Raisa berhasil duduk di kursi rodanya di dorang oleh leonard menuju kamar jenazah, susana menjadi dingin seketika.


Air mata raisa kembali tak terbendung saat menatap wajah sang ibu, "sudah ikhlaskan de", kata itu tiba tiba keluar dari bibir leonard, tak dapat di pungkiri rasa yang menusuk mencecarnya di sanubari.


Raisa mengangguk setelah perpisahan dalam diam, hanya do'a yang teruntai di lubuk hatinya, artian kehilangan dapat di tafsirkan dalam lelehan air mata yang tidak kunjung mengering, dia kembali ke kamarnya, membaringkan tubuhnya yang terasa melayang, entah mengapa jasadnya terasa rapuh tanpa ruh, bunda elfie yang dapat mengerti kesedihan hati raisa mengelus pucuk kepalanya penuh sayang, "kita berwudhu dulu ya sayang!, ketenangan pasti di dapat dari terang yang di berikan sang penguasa alam", raisa mengangguk mencengkram erat tangan lembut bunda elfie kembali melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


Leonard menatap geming kepergian dua wanita beda generasi itu, terlihat siluet membayangi bibirnya, rasa syukur terpancar dari sanubari terdalamnya, tidak ada rasa hancur yang sempat hinggap semula di hatinya.


...


Raisa memutuskan untuk menyemayamkan ibunya besok pagi, jam dinding menunjukan jari terpendek nya ke angka 12, raisa tidak mengantuk sama sekali air matanya terus berjatuhan, rasa kehilangan yang mendalam di tinggalkan oleh orang yang terkasih adalah hal yang paling menyedihkan.


Bunda elfie pamit kembali pulang karena takut putra bungsunya akan mencarinya dan menangis, dirinya telah membatu raisa untuk menunaikan sembahyang sebelumnya, dan dia juga sudah mewanti wanti leonard untuk jangan melakukan hal konyol.


Hingga suasana kembali hening saat bunda elfie pergi kini hanya ada leonard dan raisa saja.


Leonard amat mengerti dengan kondisi raisa, dia juga tau kehilangan seseorang yang paling berharga dan satu satunya kerabat di dunia, itu pasti sangat menyakitkan, malam itu leonard pun tidak tertidur dia mendengarkan tangisan raisa di ranjang, leonard mungkin akan memeluk orang di hadapannya bila dia bukan raisa, bukan karena tidak ingin tapi rasanya tidak pantas.


Leonard pura pura tidur di sofa, hingga azan subuh berkumandang, raisa berjalan dengan tongkat infusan sebagai penahannya dia ke kamar mandi dan wudhu, leonard yang menyadari kepergian raisa berjaga di sisi pintu kamar mandi.


Suara air ber gemercik, menyentuh beberapa anggota tubuh raisa, raisa membuka pintu dan alangkah terkejutnya saat leonard berdiri di depannya.


"Bisa gak si jangan buat orang khawatir!?", leonard ingin memapah raisa namun raisa menggeleng.


"Maaf kak aku sudah ada wudhu, kita sholat berjamaah yu?, aku tunggu di sana!", raisa tersenyum lembut dan berjalan menuju katifah, terdapat sejadah dan mukenanya menunggu untuk dikenakan.


"Dah biar aku aja, kamu tunggu dulu", leonard mengambil sejadah dan mukena raisa, terjuntai lah sejadah di hadapannya tergerai di atas katifah untuk menjadi alas duduk raisa.


Raisa tersenyum kaku, dia memang sedikit takut mendapatkan perhatian berlebih seperti ini, namun dia juga tidak bisa menolak karena ucapan dan perlakuan leonard serentak, hingga tidak sempat untuknya berkata kata.


Leonard ke kamar mandi mengambil air wudhu dan mulai mengimami raisa, di dalam hidupnya, ini adalah pertama kalinya dia menjadi imam, setelah salam terucap leonard berbalik menghadap raisa.


Karena kebiasaan dengan sang ibu raisa mengambil lengan leonard dan mengecupnya lembut, leonard terbelalak mendapatkan sebuah perlakuan di luar ekspektasinya.


Deg..deg..deg.. Jantung leonard terpompa amat cepat, repleks tangannya mengelus lembut kepala raisa entah dari mana asal kenyamanan di hatinya namun dia sangat ingin selamanya merasakan getaran itu, dia juga sangat menikmati suasana yang tercipta tanpa sengaja menjadi pengalaman indah dalam memori kepalanya.


***


Raisa tiba tiba tersadar saat tangan besar menyentuh kepalanya, dia bangkit.


Duk, "aw...sst.. Kamu kenapa si?, sakit tahu!", dagu leonard terhantam kepala raisa, dagunya terasa berdenyut nyeri, raisa menunduk malu.


"Maaf kak!, aku gak sengaja!", raisa menundukkan pandangannya dan meremas kedua tangannya, leonard terkekeh geli dengan ekspresi yang terpancar dari wajah raisa, rasa sakitnya tiba tiba menghilang, dan dia mulai melancarkan strategi lanjutan.


"Maaf aja gak cukup tau!, liat ni daguku sampe memerah gini!, tanggung jawab kamu!", raisa menjadi merasa sangat bersalah, dia mengangkat kepalanya cairan bening mengaliri pipi mulusnya.


"Ck, kenapa nangis?, dah.. Aku cuma bercanda cengeng banget, gak rubah rubah ya cengengnya", leonard mengusap air mata raisa yang terus meluncur.


"Maaf kak!, aku hanya terbiasa melakukan itu dengan ibu!, maaf!", raisa menatap mata leonard ada seberkas cahaya di mata itu yang membuatnya teringat sesuatu.


Fleshback on.


Sore yang mendung itu raisa tengah menangis di dalam toilet yang terkunci, semua warga sekolah sudah pulang dia terpaku dengan pakaian basahnya meratapi rasa perih di kakinya, dia sudah berusaha menggedor pintu pelastik di hadapannya, namun tidak ada yang membuka.


Leonard mendengar teriakan gadis kecil di toilet, hatinya teriris, entah apa yang ada di pikirannya mungkin ini namanya cinta monyet kata orang tua, leonard sudah terbiasa membantu raisa secara diam diam dan menghajar berandalan sekolah yang sudah mengganggu raisa, tapi bukannya kapok para berandalan itu malah semakin menjadi dan mengakibatkan raisa enggan sekolah untuk beberapa hari.


Hari leonard amat kesepian, dia tidak melihat sosok kecil itu lagi.


Raisa sendiri mengetahui tentang perlakuan leonard dia merasa sangat bersalah dan memutuskan untuk pindah sekolah.


Fleshback off.


Raisa tersenyum lembut dengan isaknya, "terima kasih kak!".


Leonard merasa kesal pada dirinya sendiri hingga sebuah kalimat yang menyiksanya keluar dengan sendirinya, "sa!, nikah yu?".


Pupil mata raisa membulat sempurna dia hampir tak percaya apa yang barusan dia dengar, memang leonard bukan orang pertama yang mengajaknya menikah atau ta'aruf, "jadi kakak baik padaku hanya ingin mengajakku menikah ya?", raisa kembali menundukkan pandangannya, ada rasa kecewa yang melintasi sanubarinya.


Leonard terpaku yang langsung mengangkat kedua tangannya sejajar dengan kepala, "eh enggak kok, e..itu ..anu maksudnya, aku.. Gak lakukan ini buat itu kok!, kita .. e...apa ya.. Hmm.. Jangan berpikiran kesana dong!", leonard gelagapan menanggapi ucapan raisa, dia sendiri kecewa dengan bibirnya yang tidak terkontrol.


Raisa bangkit dari duduknya, hatinya terasa sedikit ngilu, jelas ucapan leonard barusan sudah memberikan bentang pembatas padanya untuk tidak melewati wanti wanti, melihat ekspresi diam raisa leonard lagi lagi meruntutti ucapannya sendiri.


Raisa duduk di ranjangnya sesekali dia melihat leonard yang masih duduk di atas sejadahnya, hati leonard kembali tergores mendapatkan penolakan halus seperti itu, leonard mengalihkan pandangannya dan melihat wajah raisa, raisa dengan cepat menundukkan pandangannya, rasa canggung menggeliat memenuhi ruangan bagaimanapun mereka adalah orang asing untuk saat ini keadaan seperti itu menjadikan raisa dan leonard gugup.


"Kak!, kita bertemu lagi belum sempat 12 jam, apa harus secepat itu?", leonard membulatkan matanya mendengar ucapan raisa, ada desiran aneh di dadanya dan perutnya yang terasa bergejolak, ingin rasanya dia berdiri dan melompat lompat, sebuah hamparan keyakinan memeluknya memberikan jawaban untuk penentian sudah cukup untuknya mengartikan sebagai "'iya"'.


"Aku juga tidak mengharapkan jawabanmu sekarang, tapi aku hanya tidak ingin kehilangan jejakmu lagi", deg, jantung raisa seketika terasa berhenti, ritme jantungnya tiba tiba meningkat ada rasa menyenangkan yang dia dapati namun rasa ragu selalu membelenggunya, selain rasa kejut itu leonard pun terperanjat saat mendapati gelang yang di berikannya saat kecil masih di kenakan di lengan kiri raisa, hatinya tiba tiba berenang kesana kemari menysuri sudut bahagia yang kini tengah menggenangi hati.


"Hmm, aku minta waktu untuk berfikir 40 hari ya?", raisa menarik lengannya, leonard menyadari bila raisa bukanlah wanita biasa, dia tersenyum kikuk.


"Lama banget, 1 minggu aja", leonard berusaha nego pada raisa.


"Kak!, ibu baru meninggal a..", raisa ingin melanjutkan ucapannya namun kembali ditikung oleh leonard.


"Ok 40 hari gak bisa nambah lagi", leonard meruntutti kebodohannya sendiri, dia tau jelas raisa sedang berkabung malah mengatakan hal yang tidak semestinya.


'Bodoh banget si gue, tau raisa lagi kehilangan, nangis aja semalaman gue masih melamar dia lagi pas lagi sedih sedihnya, bodoh banget gue!', gerutunya dalam hati.


***


Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, ibunya telah selsai di pulasari, sebelumnya sempat terjadi perdebatan sengit antara dirinya dan leonard, leonard meminta raisa menggunakan infusan nya ke pemakaman namun raisa menolak dengan tegas, hingga keputusan dibuat mengikuti keinginan raisa, ambulan berjalan berbunyi menggetarkan kesunyian, memasuki sebuah pemakaman, para perawat mengangkat keranda jenazah almarhumah.


Raisa yang tidak memiliki sanak saudara dan keluarga dia hanya di temani leonard saja dan empat orang perawat dan beberapa orang suruhan leonard.


Namun tiba tiba suasana menjadi riuh saat beberapa kendaraan hitam memarkirkan diri di bahu jalan, terlihat iwan, mamah elfie dan ayah leonard serta beberapa orang yang tidak dikenali raisa muncul, di sana juga ada seorang pejabat negara yang kemarin memberikan penghargaan untuk raisa.


"Kak!", iwan atau nama lengkapnya adalah ridwan attahaya mendekat ke kursi roda raisa, memeluk raisa penuh sayang, air matanya mengalir menumpahi baju raisa.


"Kakak jangan sedih ya, iwan janji akan cepat besar dan lindungi kakak, kakak jangan nangis ya?", leonard terkejut melihat kedekatan ridwan dan raisa, raisa mengusap air matanya yang sudah beberapa kali menetes dia memeluk ridwan dengan perasaan hangat.


"Iya sayang, cepat besar ya!", leonard terbelalak mendengar ucapan lembut yang di katakan raisa, memang sifat raisa lembut namun kelembutannya pada iwan melebihi ekspektasi, mungkin inilah kenapa mereka menjadi sedekat itu.


"Minggir kamu, bawa nih!", bunda elfie menyodorkan keranjang bunga pada leonard dan memegang dorongan kursi roda yang di gunakan raisa.


Leonard mundur teratur dia mempercayakan raisa pada bundanya.


Gambaran ibu memang sangat sulit di sama jajarkan bahkan tak ada perbandingan bagi raisa, hutang seorang anak pada ibu tak mungkin di bayar, dulu bunda raisa sering kali menapakkan kaki kecil raisa di atas bunga dan rerumputan hijau, saat bunga menyemerbak bau sayang, ibu raisa sering kali menunjuk ke langit, kemudian ke bumi, raisa mengangguk meski dirinya sama sekali tidak mengerti.


Kini dia sudah mengerti maksud ibu yang amat dia cintai, selama hidup haruslah menunduk patuh pada yang maha kuasa yang melihat melebihi mata langit di angkasa yang memayungi hidup manusia, dia pun mengerti bahwa hidup berasal dari tanah berawal dari apa yang di injak maka akan kembali jasad pada awal dia berasal, itulah gambaran awal dan akhir yang merupakan kesamaan.


Aroma tanah menyengat menusuk hidung, di iringi harum mewangi yang entah datang dari mana asalnya, angin menghangat membelai belai kerudung raisa, acara pemakaman berjalan lancar dipimpin oleh seorang pemuka agama yang cukup dikenal raisa.


Hingga kelopak bunga memenuhi tanah di atas pemakaman itu, raisa tak henti hentinya menitikkan air mata, disaat dimana raisa mungkin akan merasa kesepian disaat itu pula para malaikat tanpa sayap menemaninya.


' Allahugahfirlahaa warkhamhaa wa'aafihaa wa'fu 'anhaa yaa rabbal'aalamiin. Ya Allah, turunkanlah rahmat yang luas kepada beliau dengan berkat Alquran yang agung, ampunilah ia dengan ampunan yang luas, wahai Penguasa dunia dan akhirat, Tuhan sekalian alam', raisa mengucapkan do'a untuk perpisahannya dengan sang ibu tercinta, dia menatap lekat pusara sang ibu, air matanya terus menetes tak henti hentinya.


Beberapa orang mulai bubar meninggalkan pemakaman sebelumnya mereka mengucapkan bela sungkawa pada raisa dan memeberikan amplop padanya, namun dengan halus raisa menolak amplop tersebut dan mengucapkan banyak terima kasih karena kehadiran mereka.


Satu jam berlalu raisa terus menatap kelopak bunga yang memenuhi pusara ibunya, ayah leonard mendekati kursi roda raisa dengan tatapan lembut dia tersenyum melihat raisa.


"Sudah jangan nangis lagi ya!, ibu kamu pasti sangat bangga memiliki putri sepertimu", ayah leonard menepuk nepuk punggung tangan raisa, raisa mengangguk lembut.


Meraka meninggalkan pemakaman bersamaan, "kita antar kamu pulang ya!", bunda elfie menyentuh tangan raisa dengan lembut.


Raisa menggeleng pelan, "aku temenin kakak ya!", iwan memeluk raisa tanpa canggung.


"Bun, yah kalian pulang aja aku akan anterin ica", leonard memberikan saran, selain karena dia hanya ingin berdua dengan raisa dia juga sebenarnya ingin tahu seperti apa kediaman raisa saat ini.


"Ya, kamu hati hati bawa mobilnya, jangan macam macam!", ancam bunda elfie.


"Ya bun, aku gak akan macam macam janji!, lagi pula dimana lagi bunda akan menemukan putra yang budiman sepertiku dan aku hanya ada semacam di dunia jadi aku tidak akan macam macam", leonard mengangkat dua jarinya memperlihatkan lambang v pada bundanya, bunda elfie menggelang kan kepalanya mendengarkan ucapan putranya.


Namun kemudian bunda elfie mengangguk, "tapi iwan mau ikut bunda!", iwan merengek memohon pada bundanya.


"Joknya cuma ada dua, kamu mau duduk dimana di ban mobil, dah nanti aja kalo mau ikut sekarang abang aja yang anterin kakaknya", ucap leonard memberikan penjelasan dengan agak kasar, raisa mengangkat alisnya, dia memang merasa ada udang di balik bakwan namun dia pun akhirnya membantu leonard memberi penjelasan pada ridwan.


"Sayang, jangan sedih ya!, nanti kita buat kue sama sama ya kalo kakaknya sudah sembuh, sekarang kakak mau istirahat dulu biar cepat sembuh jadi iwan jangan sedih ya!?", raisa tersenyum mengelus pucuk kepala ridwan.


Ridwan mengangguk setuju, leonard membuka pintu mobil penumpang, tanpa aba aba, pertanyaan apalagi persetujuan leonard mengangkat tubuh raisa dan mendudukkannya di jok penumpang, dengan sigap leonard memasangkan sabuk pengaman untuk raisa.


"Bun, sekalian kalian lewat, balikin kursi roda ya ke rumah sakit ya, aku pamit!, bye..", leonard berlari menuju kursi kendali, dia menyalakan mesin mobil dan menginjak gas hingga berlalu meninggalkan bunda, ayah dan ridwan.


"Bun apa gak apa apa?", tanya ayah leonard merasa khawatir.


"Gak papa, bunda yakin leo juga punya batasan, sudah cukup dia hidup di luar batas yah!", ucap bunda elfie tersenyum getir mengingat kelakuan putranya sebelum itu.


Ayah leonard mengangguk dan memegang tangan ridwan memasuki kendaraannya, merekapun pergi meninggalkan area pemakaman itu.


Bersambung...